Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Panggilan


__ADS_3

"Kita langsung pulang atau masih mau jalan-jalan?" tanya Biema.


"Kita pulang saja," sahut Paris.


"Tidak ingin jalan-jalan berdua di taman sambil makan cemilan?" tawar Biema. Paris melihat ke arah handphone-nya. Masih jam 8.


"Boleh juga. Kamu pintar banget nyari ide, Bie ... E ... ya. Kamu pintar banget nyari ide," ulang Paris membuat kalimatnya terdengar aneh. Biema tidak terlalu mempedulikan karena Paris setuju dengan idenya.


Pilihan Biema ternyata jatuh kepada jalan-jalan di area alun-alun kota. Paris tentu saja senang.


"Tumben mengajak aku kesini?" tanya Paris heran sambil senyum melihat di alun-alun kota ini begitu ramai.


"Lagi ingin."


"Kita beli itu, yuk." Paris menunjuk ke arah gerobak kekinian yang menjual pok-pok ayam.


"Sering kesini?" tanya Biema saat mereka duduk menunggu pesanan selesai di masak.


"Dulu iya. Karena di ajak sama kak Arga. Dia kan lagi ngekori kak Asha waktu itu," sahut Paris. "Pendekatan ..."


"Kak Asha sering kesini?"


"Justru kak Asha yang doyan ke alun-alun kota ini. Dia kan suka main basket sama teman-temannya. Tuh, di lapangan basket itu," tunjuk Paris ke arah lapangan basket di area lapangan rumput.


"Kak Asha bisa main basket?"


"Tentu aja, Bi ... Ee ... ya. Kak Asha jago malah." Paris begitu bersemangat bercerita. Lagi-lagi kalimatnya terdengar aneh.


"Baru tahu."


"Hebat, ya ..." puji Biema akhirnya yakin bahwa Asha bisa hebat dalam segala bidang.


"Tapi kak Asha kurang hebat dalam memasak. Padahal ibunya jago banget memasak."


"Seperti kamu," tuduh Biema terang-terangan. Paris tertawa.


"Kamu benar, Bi ... Eh." Paris langsung tersenyum. Lebih tepatnya meringis. Biema yakin bahwa gadis ini terdengar aneh saat bicara.


"Kamu kenapa?" tanya Biema.


"Kenapa?" Paris justru balik bertanya. Biema menatap lurus gadis ini. Bila mata Paris mengerjap.

__ADS_1


"Antrian 8," ujar penjual pok-pok ayam.


"Ya!" sahut Paris. Dia segera berdiri dan mendekat ke gerobak. Lalu mengambil dua bungkus pok-pok pesanannya. "Hei, hei ...," panggil Paris. Biema menoleh. "Ayo. Waktunya bayar," ujar Paris meminta pria ini mendekat. Biema berdiri.



Dalam perjalanan pulang ke apartemen, tidak banyak kalimat yang keluar dari bibir Paris. Dia terus saja melihat ke samping. Ke arah jendela mobil. Gadis ini terasa asing dan kembali seperti pertama mereka bersama. Biema terusik untuk melihat ke samping dan bertanya, "Ada sesuatu yang mengganjal di hatimu, Paris?" Gadis ini diam saja tidak menjawab. Entah dia tidak mendengar karena suara Biema lembut atau memang sedang memikirkan banyak hal. "Paris ...." Biema melihat ke samping lagi.


"Ya?" tanya Paris terkejut. Dia langsung menoleh ke samping. "Kamu bilang apa barusan?" Rupanya gadis ini memang tidak mendengar sama sekali pertanyaan yang di lontarkan Biema barusan. "Coba


"Apa kamu sedang memikirkan banyak hal yang mengganjal di hati kamu?" tanya Biema mengulang pertanyaannya sambil melihat lurus ke depan.


"E ... tidak," jawab Paris sedikit terdengar ragu.


"Benarkah?" selidik Biema. Paris menganggukkan kepala. "Jangan menyembunyikan sesuatu padaku. Aku tidak suka itu," kata Biema dengan tegas.


"Aku bukan sedang memikirkan seorang pria, kok," bantah Paris yang ternyata membuka sendiri alasan dia diam sejak tadi. Dia memang sedang memikirkan sesuatu.


Aduh. Aku salah ngomong.


Mendengar ini, Biema langsung membelokkan mobil ke jalur kiri dan menepikan mobil.


"Emmm ... sedikit."


"Apa?" tanya Biema mendekatkan tubuhnya ke Paris.


"Bukan hal penting, sih ..." Paris mengibaskan jari-jarinya di depan Biema. Ingin membuat pria ini tidak membahas apa yang sedang ia pikirkan.


"Apapun soal dirimu adalah hal penting buatku. Jadi silakan bicara sekarang," tegas Biema.


"Kenapa kamu jadi maksa, sih?" gerutu Paris.


"Aku tidak suka di diamkan seperti barusan olehmu. Bicara atau aku paksa melakukan hal lain agar kamu mengatakannya."


"Apa sih?" gerutu Paris seraya mendorong tubuh Biema yang mendekat ke arahnya. Biema tetap memfokuskan pandangannya ke samping. Ke arah Paris yang sedang bersandar di badan kursi mobil. "Menurutmu aku enggak sopan yah, ke kamu?" tanya Paris hati-hati. Mendengar ini Biema menautkan alis.


"Soal apa ini? Kenapa bertanya soal itu?" Biema mendengus geli. Paris menipiskan bibir merasa Biema tidak terlalu serius menanggapi pertanyaannya. "Kamu sedang bicara soal perkataan bunda?"


"Kamu paham apa yang aku maksud?" tanya Paris tertarik. Dia yang tadinya merasa kesal Biema pasti akan meledeknya, kali ini senang bIema paham apa yang akan di bicarakannya.


"Aku juga mendengar apa yang bunda bicarakan. Aku tahu sekarang. Kamu sedang memikirkan mau memanggilku apa?" Paris mengangguk senang karena Biema paham apa yang menjadi beban pikirannya. "Karena itu, kamu menghindari memanggil namaku?" Paris meringis. "Kalau kamu sendiri, lebih nyaman memanggilku apa?"

__ADS_1


"Kok malah tanya?" Paris heran.


"Buatku itu tergantung nyaman enggaknya buatmu aja. Kamu memanggilku seperti biasa juga aku enggak apa-apa. Aku tidak masalah. Namun ya ... jika menurut orang tua tidak sopan, ambil pilihan yang lain saja."


"Apa aku panggil Kak Biema saja ya ... Aku kan pernah memanggilmu dengan panggilan kak saat ketemu mama." Paris menemukan ide. Dia gembira bisa menyelesaikan kegundahannya.


"Tidak. Aku tidak mau kamu memanggilku, kak. Karena kamu juga memanggil Lei dengan sebutan Kak," tolak Biema tegas. "Aku tidak mau di samakan dengan dia." Bahkan terang-terangan mengatakan alasan ketidaksukaannya adalah Lei.


"Ehem." Paris berdeham. Dia lupa. Hingga baru menyadari lagi saat Biema justru yang membahas pria itu. Biema menatap lurus Paris yang pelan-pelan menundukkan wajahnya menghindari tatapan tajamnya. Lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenapa salah tingkah?" tegur Biema membuat Paris makin tidak bisa banyak gerak.


Aduuuhhh ... apaan sih Biema? Seperti sedang menangkapku basah.


"Jelas saja salah tingkah. Aku kan hanya sekedar kasih ide buat kasih panggilan ke kamu. Enggak tahunya malah buat kamu cemburu. Bahkan sedikit naik darah." tuding Paris.


"Panggil seperti biasa saja. Aku tidak terobsesi dengan sebuah panggilan," pungkas Biema dan memegang kemudi. Dia akan melanjutkan perjalanan pulang.


"Sayang?"


Biema yang sudah bersiap menyalakan mesin berhenti.


"Hubby?"


Mendengar kata kedua membuat Biema menoleh pada Paris. Mesin mobil tidak jadi di nyalakan.


"Honey?"


Kata ketiga membuat Biema menoleh ke samping.


"Atau My Pie?" Paris ikut menoleh ke samping. Keduanya saling bertatapan. Kening Biema berkerut mendengar apa yang barusan di katakan Paris. Meskipun keningnya berkerut, tatapan mata Biema tersenyum.


"Apa itu My Pie?" tanya Biema. Jika ketiga kata panggilan tadi sudah sangat biasa dan ia bisa memahami artinya, tapi saat kata keempat meluncur dari bibir mungil istrinya, ia tidak paham. Sedikit rancu dan ambigu.


"Papieku?" tanya Paris jenaka. Biema menyipitkan mata. "Dan aku ... mamie mu." Setelah kata terakhir Ini, Biema tidak bisa lagi menahan tawa. Akhirnya dia terkekeh-kekeh mendengar Paris memperjelas arti dari kata panggilan itu.


"Jadi kamu siap untuk jadi seorang mami?" goda Biema membuat Paris mendelik. Senjata makan tuan. Paris kelabakan.


"B-bukan. Bukan itu maksudku. Aku hanya bercanda," kata Paris panik. Ia kebingungan mendapat pertanyaan tidak terduga dari Biema. Tangan Biema mulai menyalakan mesin dan menjauh dari sana dengan senyuman merekah.


__ADS_1


__ADS_2