Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Berpeluh-peluh


__ADS_3

Sampai di apartemen, Paris belum paham apa hal penting apa yang perlu di lakukan pria ini. Namun dia tidak berpikir panjang soal itu. Langkahnya tenang menuju sofa. Kebiasaan Paris jika pulang dari jalan-jalan, dia selalu rebahan dulu di sofa di depan tv. Seperti mengatur napas karena sudah berjalan jauh dari bawah ke lantai ini.


Sementara itu, Biema langsung masuk ke kamar tidur. Hanya beberapa menit, dia muncul lagi dan segera ke kamar mandi. Paris hanya menoleh sekilas saat pria itu melewatinya. Biema terlihat sibuk. Paris berpikir kemungkinan pria itu sedang merasa gerah. Mendung di luar membuat hawa sedikit panas. Paris sendiri sebenarnya tidak merasa demikian. Karena ia lebih merasa kedinginan daripada panas.


Bola mata Paris masih melihat tv yang tadi langsung di nyalakan. Namun jadi tertarik saat pria itu muncul dari kamar mandi tanpa menoleh barang sekalipun padanya.


"Sebenarnya Biema itu ngapain, sih? Masa dia masih cemburu soal teman-teman kak Asha. Bukannya tadi mereka juga muncul dengan kekasih masing-masing? Bahkan Andre juga sudah nikah sama kak Hanny." Paris yang awalnya cuek, kini penasaran. Dia beranjak dari Sofanya dan mendekati kamar tidur.


Jari-jarinya meraih handle pintu kamar, lalu membukanya perlahan. Kepalanya melongok masuk, untuk mencari tahu apa yang sedang di lakukan Biema sekarang.


"Biem ...," panggil Paris dari balik pintu pelan.


"Ya," sahut Biema yang tubuhnya perlahan mulai terlihat karena Paris membuka pintu lebar-lebar.


"Kamu ngapain? Ko terlihat sibuk ke sana kemari?" tanya Paris.


"Bersiap untuk tidur," kata Biema.

__ADS_1


"Oh ..." Paris mengangguk-anggukkan kepala. Dia tidak bertanya lebih jauh karena menurutnya memang ini waktunya untuk tidur.


"Ganti seragam kamu. Besok masih pakai seragam yang sama kan?" tunjuk Biema ke seragam yang di pakai Paris di balik jaketnya. Paris menundukkan kepala melihat ke arah pakaiannya sendiri.


"Iya. Aku belum ganti baju." Dia tersadar bahwa dirinya belum ganti baju. Kakinya melangkah menuju ke lemari pakaian.


"Kalau mau mandi, aku bisa siapin air hangatnya," kata Biema pengertian. Kepala Paris memutar. Menoleh ke arah Biema sambil tersenyum.


"Enggak deh. Aku ganti baju aja. Dingin," kata Paris yang menjulurkan lidah karena menunjukkan sisi tidak baiknya. Yaitu kadang males mandi karena dingin. Biema merespon dengan senyum. Setelah menemukan piyama, ia meletakkan piyama tidurnya seraya menutup pintu lemari pakaian. "Ya ampun," seru Paris berjingkat kaget karena Biema muncul dari balik pintu pakaian yang hendak di tutup. "Biema ... kamu itu ngagetin aja," kata Paris menepuk dada Biema. Pria ini tergelak pelan.


Paris sudah akan membuka kancing seragam sekolahnya, saat Biema mengulurkan tangannya untuk membantu.


"Biem ... " Paris terkejut. Kepala Biema mendongak.


"Bolehkan? Aku sudah menunggu lama untuk ini ..." kata Biema dengan mata sudah berkabut. "Lagipula kita sudah konsultasi dengan dokter Ciara," lanjut Biema tidak bisa di tahan. Keinginannya tidak bisa ditangguhkan lagi.


"Kamu selalu mendapat alasan yang tepat," ucap Paris tidak bisa membantah. Dia pasrah. Mendapat ijin dari istri, Biema segera melepaskan seragam Paris dari tubuhnya. Tidak membiarkan sehelai benang pun menutupi tubuh milik orang yang di cintainya itu. Kemudian melucuti pakaiannya sendiri.

__ADS_1


Perang lidah terjadi saat Biema membimbing tubuh istrinya menuju ke ranjang mereka yang sudah di siapkan oleh dirinya. Tangan Paris menahan tubuh Biema yang hendak menindihnya.


"Aku akan melakukannya dengan hati-hati. Atau ... kamu mau melakukannya untukku?" pancing Biema. "Mungkin itu lebih aman." Bola mata Paris melebar sejenak. Biema tersenyum. Lalu menoleh ke arah lain. Biema menarik dagu Paris untuk menatapnya. "Jangan memalingkan wajahmu. Lihat aku, Paris ...," bisik Biema lirih. Paris urung melihat ke arah lain, ia menatap Biema. "Aku mencintaimu." Setelah mengucapkan itu, pria ini kemudian menjajaki leher istrinya dan keseluruhan tubuhnya.


Pergumulan tidak terelakkan lagi. Biema benar-benar melakukannya dengan hati-hati. Namun itu tidak mengurangi kenikmatan dari kejantanan Biema yang menghujam di inti tubuh Paris.


"Oughh ... Biema ...," desah Paris membuat Biema yang sudah menahan diri sejak siang tadi makin bergairah.


"Terus sebut namaku, Paris ..." lirih Biema di telinga istrinya. Malam ini sungguh penuh dengan peluh. Suara rintik hujan yang mulai turun perlahan menambah suasana romantis di antara mereka.


Biema terus saja memacu tubuhnya untuk terus menyalurkan hasratnya. Paris yang mulai terbiasa dengan permainan panas ini, ikut terpacu untuk membuat dirinya menerima segala kenikmatan yang di berikan Biema melalui pusat tubuhnya. Memberikan ruang yang leluasa bagi pria itu melakukan apapun yang membuat semuanya asyik. Hingga pelepasan berjalan dengan apik dan mereka berdua menuju ke puncak kenikmatan paling indah bersama-sama.


Penyatuan selesai meninggalkan rasa puas yang kentara.


"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu." Ciuman penuh cinta mendarat dengan lembut di kening dan bibir Paris. Mereka terkulai lemah karena sudah mengeluarkan seluruh energi untuk memuaskan diri masing-masing.


.......

__ADS_1


.......


...B E R S A M B U N G...


__ADS_2