
Di bandingkan gosip bahwa Paris adalah cewek panggilan, kalimat penuduhan bahwa dia bunting, hamil, terasa lebih menusuk di telinganya. Orang-orang berpikir dia adalah cewek panggilan karena ada foto dia dan Biema masuk ke dalam hotel dan apartemen, tapi ... Kini mereka kembali menuduhnya macam-macam tanpa ada bukti semacam itu. Bukankah menikah itu lebih baik daripada menjadi cewek panggilan? Kenapa mereka masih saja ingin mengusik dirinya?
Paris kesal.
Mungkin juga dia sensitif karena kecewa kakaknya tidak muncul sesuai dengan apa yang sudah di janjikan, maka otaknya memanas. Saat ada yang ingin mengajak ribut, dia mulai terbawa suasana. Hingga membuatnya tangannya ambil alih untuk segera menghajar mereka.
Dia meradang mendengar tuduhan-tuduhan tidak benar itu. Batas sabarnya pupus. Paris marah. Dia tidak berpikir yang lain selain ingin menghajar mereka. Mungkin Paris berpikir, dirinya pun sudah di keluarkan dari sekolah. Jadi menghajar mereka pun keadaan tetap sama. Dia tetap di keluarkan dari sekolah. Melepaskan jenjang SMA tanpa ijazah.
"Sialan!"
Mereka terkejut tubuh Paris menghambur ke arah mereka. Bola mata mereka menyipit ngeri saat Paris juga melayangkan tinju ke arah mereka. Namun Paris tidak bisa menyentuh mereka. Sebuah tangan mencegahnya. Memaksanya berhenti.
"Berhenti Paris," ujar Biema muncul tiba-tiba. Paris terkejut mendengar suara seorang pria. Dia langsung menoleh dengan cepat. "Kamu enggak perlu melakukan itu." Bola mata Paris tidak berkedip menatap Biema. Dadanya yang bergemuruh karena kesal, kini semakin bergemuruh melihat kemunculan pria ini.
"Biema ...," ucap Paris lirih. Fikar juga muncul di sana. Dia berdiri tidak jauh dari mereka. Semua mata memandang Biema. Mereka terkejut dengan kemunculan pria ini yang tiba-tiba.
Kedua alis Priski menyatu. Merengut melihat seseorang muncul. Siapa dia?
"Siapa pria ini?" bisik beberapa dari mereka. Dengungan mulai terdengar dari gerombolan siswa siswi yang mendadak banyak di sekitar mereka. Adu mulut tadi saja sudah mampu membuat anak-anak itu berhenti untuk melihat Paris. Apalagi dengan kemunculan Biema yang di luar perkiraan. Mereka ingin tahu. Mereka penasaran.
Di saat yang lain heboh berkasak-kusuk dengan kemunculan Biema, Paris sendiri masih terpaku menatap pria ini. Biema yang tahu Paris masih tidak percaya akan dirinya yang berdiri di sini, tersenyum.
__ADS_1
"Ini memang aku, Paris. Aku datang menemuimu. Maaf terlambat," ujar Biema berusaha meyakinkan gadis ini akan keberadaannya. Paris memang sedang berada di batas antara sadar dan bermimpi. Jadi dia mematung tidak bisa yakin bahwa penglihatannya benar. Bola matanya mengerjap mendengar suara lembut Biema. Lalu menunduk menahan sesak yang menyelubungi hatinya. "Sebaiknya kita pergi dari sini." Tanpa mempedulikan semua tatapan siswi di sekitarnya, Biema menggenggam jari-jari Paris untuk mengajaknya menjauh. Tidak ada kata satupun keluar dari bibir Paris. Gadis ini cukup mengikuti saja ajakan tangan Biema.
"Kita akan menyalakan api perang?" tanya Fikar sambil mengikuti tuannya berjalan.
"Ya. Tidak ada yang boleh mengganggu Paris. Bahkan membuatnya tidak bisa mengikuti ujian," ujar Biema tegas.
"Siap," jawab Fikar dengan senyum penuh keyakinan. Tubuh anak anak yang bergerombol tadi berbalik. Mata mereka tidak lepas memandangi Paris dan Biema yang menjauh dari mereka.
Saat itu Sandra muncul dari kelasnya. Mendengar ada ribut-ribut di lorong suatu kelas, dia yakin Paris yang sedang di carinya ada di sana. Meskipun sudah berusaha berjalan dengan cepat, ia ketinggalan akan aksi Biema mencegah Paris dari kemarahan yang akan berujung dengan tinjuan. Sandra muncul saat mereka bertiga sudah menghilang dari tempat itu.
"Dia siapa, Pris?" tanya cewek yang tadi mengeluarkan hinaan untuk Paris.
"Entahlah. Mungkin dia pelanggannya ...," jawab Priski asal.
"Ya. Bukannya sudah aku kasih tahu kalau dia punya kerja sampingan, yaitu jadi cewek panggilan?"
"Jadi memang kamu yang menyebarkan gosip kalau Paris itu cewek panggilan, ya ...," tegur Sandra yang berada di belakang. Priski terkejut mendengar teguran seseorang. Dia menoleh. Begitupun yang lain.
"Apa? Itu bukan gosip kan? Itu benar," sahut Priski. "Pergi ke apartemen saat malam. Lalu masuk ke hotel."
"Memangnya hanya itu kesimpulan dari semua itu?" Sandra kesal. Priski hanya mengangkat bahunya dengan santai.
"Memangnya apa kalau bukan itu ...?"
__ADS_1
"Kamu itu tahu apa sih soal cewek panggilan? Jangan-jangan kamu sendiri yang jadi cewek panggilan. Jadi saat ada orang yang melakukan hal itu, otak kamu langsung berpikir begitu," sembur Sandra. Semua langsung memandang ke arah Priski. Sedikit terpengaruh oleh perkataan Sandra. Dia sudah lelah juga lihat tingkah gadis ini.
"Hei, apa yang kamu bicarakan?" tanya Priski sedikit gugup. Bukan karena Sandra, melainkan karena tatapan anak-anak yang lain. Dialah orang pertama yang mengatakan hal itu, jika tiba-tiba mereka berubah pikiran karena perkataan Sandra, dia tidak aman. "Tentu saja aku bukan cewek seperti itu," kilah Priski marah.
"Syukurlah kalau memang kamu bukan seperti itu, tapi ... kamu harus berhati-hati kalau seandainya ada yang bisa menemukan fakta bahwa kamulah cewek panggilan yang sebenarnya," ujar Sandra terus berlalu pergi. Priski menghentakkan kakinya kesal.
"Benar nih, Pris kamu enggak mengada-ada soal Paris?" Mereka mulai mempertanyakan.
"Buat apa?" Priski masih berkilah.
"Terus soal Paris yang sudah menikah itu juga bukan akal-akalan kamu aja, kan?" Berkat kalimat Sandra tadi, maka keyakinan mereka sedikit ternodai.
"Hei, Paris itu memang sudah menikah. Kalian bisa mengecek secara online kok." Dengan lantang, Priski mengatakan cara akurat mendapatkan bukti soal pernikahan Paris.
"Online?" tanya mereka penasaran. Ini hal baru yang bisa mereka dengar. Beberapa dari mereka mendekat ke arah Priski.
"Beneran bisa melihat status seseorang itu masih single atau sudah menikah?" Mereka kembali memihak kepada Priski. Pertanyaan soal benar apa tidak gosip yang beredar soal Paris mulai terkikis. Semua itu teralihkan oleh penjelasan Priski tentang darimana dia mendapat bukti bahwa dirinya bisa mendapatkan informasi status menikah yang di sandang Paris sebagai seorang gadis yang masih menjadi pelajar.
"Ya. Kalian coba saja. Masuk ke situs dinas penduduk dan memasukkan nama dan tanggal lahir* ...." Priski mencoba menjelaskan cara yang di dapatnya dari informan sewaannya. Mereka mengangguk-anggukkan kepala mengerti. Langsung saja tangan mereka mencari ponsel dan mencari sesuai dengan apa yang di katakan Priski. Mereka sangat-sangat penasaran. Bukan hanya soal Paris, tapi juga soal situs yang di buat. Apa benar mereka bisa menemukan status menikah Paris teman mereka dari situs itu?
Sungguh ajaib. Situs itu benar-benar memperlihatkan nama Paris dengan status menikahnya.
"Hei, yang kamu katakan benar, Ki!" seru salah satu dari mereka yang berhasil masuk ke dalam situs dan mengetikkan nama dan tanggal lahir Paris sesuai dengan yang di sebutkan oleh Priski. Cewek ini rupanya sudah banyak mengumpulkan data. Mendengar seruan salah satu cewek, yang lain ikut mendekat ingin melihat apa yang sudah di peroleh oleh temannya. "Paris memang benar-benar sudah menikah!" Cewek ini tambah kegirangan karena sudah berhasil melakukan apa yang sudah di katakan Priski. Dan itu berhasil.
__ADS_1