Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pulang ke rumah Bunda


__ADS_3


Walhasil mereka tiba di depan pintu gerbang rumah orangtua Paris dengan cepat. Tangan gadis ini menjulur membuka pintu mobil, dengan helaan napas yang bisa didengar oleh Fikar.


"Terima kasih. Bilang pada Biema aku akan pulang ...." Paris menghentikan kalimatnya. "Tidak perlu. Tidak perlu bilang Biema." Paris menggerakkan kelima jarinya. Dia lupa bahwa Biema tidak ingin muncul.


"Nanti telepon aku jika kamu sudah mau pulang," pesan Fikar.


"Ya."


Kemunculan Paris di rumah ini di sambut dengan kemeriahan Arash yang bahagia melihat aunty-nya muncul. Mama juga senang sekali dengan anak perempuannya yang muncul tiba-tiba.


"Kamu mengunjungi bunda?" tanya Bunda terharu.


"Tentu. Aku harus mengunjungi bunda sekali-kali." Paris bohong. Dia datang ke sini kan karena tidak ingin berada di apartemen sendirian.


"Biema sudah di kasih tahu? Kamu sudah ijin?" tanya bunda selalu ingat soal itu.


"Ya. Biema tahu." Secara tidak langsung Biema memang tahu. Karena Fikar tidak akan tutup mulut soal kepergiannya mengunjungi rumah orangtuanya.


"Wahh ... senangnya kamu muncul tiba-tiba," ujar Asha terlihat begitu bahagia melihat adik iparnya. Bibir Paris tersenyum tipis. Alis Asha naik. Sepertinya dia menemukan sesuatu yang janggal dengan raut wajah Paris.


"Aku mau makan. Lapar," kata Paris.


"Ya sudah sana ke dapur. Di sana ada bik Sumi." Nyonya Wardah menyuruh Paris segera ke belakang. Beliau masih sibuk dengan cucu dalam gendongannya.


"Bunda enggak nemenin aku?" rengek Paris. Asha menoleh. Paris terlihat aneh dengan rengekan itu.


"Ihh ... Bunda sibuk sama Arash, nih," tolak nyonya Wardah yang lebih peduli pada cucunya. Ini hal wajar. Dimana-mana nenek lebih peduli pada cucunya.


"Biar aku aja yang nemenin dia, Bun." Asha mengambil inisiatif.

__ADS_1


"Ya. Barengin dia. Tahu ini anak kenapa manja. Tumben-tumbennya begitu." Nyonya Wardah geleng-geleng kepala heran. Asha tersenyum, lalu membimbing Paris yang seakan tidak tahu arah ke dapur.


Bik Sumi yang berada di sana, surprise dengan kemunculan nona mudanya.


"Aduh, nona Paris. Kapan datang?"


"Barusan, bik. Aku lapar. Aku mau makan," ujar Paris langsung.


"Hah? Iya, iya. Saya ambilkan." Bik Sumi terkejut. Baru muncul Paris langsung menodong minta makan. Jelas membuat Bik Sumi kaget. Karena pekerjaan bik Sumi di dapur selesai, setelah menyiapkan makan buat Paris, beliau menuju ke belakang. Meninggalkan Paris berdua dengan Asha.


Makan Paris rupanya sangat lahap.


"Kamu pulang ke sini untuk menghabiskan persediaan makanan rumah ini, yah?" tanya Asha melihat ***** makan Paris menggunung. Gadis itu cengar-cengir mendengar pertanyaan kakak iparnya. "Bagus juga kalau galau makannya banyak. Meski hati dan pikiran tidak tenang, tubuh tetap sehat kuat karena makannya banyak," sindir Asha.


Paris mendongak. "Kak Asha memang paling tahu soal keadaan hatiku," kata Paris mengaku.


"Benar, kamu lagi galau?" Asha menegaskan. Paris mengangguk.Ada apa lagi? Aku pikir keadaan di sana baik-baik saja. Karena kamu tidak lagi muncul di sini dengan tiba-tiba_ sampai hari ini."


"Kamu masih tidak terima kalau di jodohkan sama Biema itu? Soal dia yang menikahimu karena ingin mengalihkan perasaannya pada teman masa kecilnya." Kali ini Paris hanya menggeleng. Karena mulutnya penuh dengan makanan. Asha diam sambil mengawasi gadis ini mengunyah makanan. Dia menunggu jawaban Paris.


Setelah selesai menguyah dan menelan makanan di mulutnya, Paris mendongak. Menggeser matanya ke Asha setelah tadi fokus pada piring di depannya.


"Tidak. Aku tidak peduli soal. Sudah tidak peduli."


"Wow hebat," puji Asha sambil mengacungkan jempol. Padahal dia tahu bahwa gadis ini sempat ngambek karena mengetahui kebenaran Biema yang menikahinya. Yaitu pelarian saja. "Lalu sekarang?" lanjut Asha mengejar jawaban.


"Kali ini aku kurang tahu pasti, Kak. Apa yang sebenarnya membuatku begini. Tiba-tiba saja aku merasa bersedih."


"Soal?" Paris masih belum terbuka. Dia masih bertele-tele menceritakannya.


"Biema. Dia ..." Paris menarik napas berat. Lalu membuangnya perlahan. Ada yang membuatnya sesak di dada. Bibirnya menipis. Sepertinya Paris menahan tangisan. Asha terkejut. Dengan cepat Asha beranjak berdiri dan menuju meja dapur. Mengambil air minum untuk Paris.

__ADS_1


"Minum. Minum dulu." Asha menyerahkan gelas berisi air pada Paris. Gadis itu menerima uluran gelas dan meminumnya. Setelah menghabiskan air setengah gelas, gadis itu meletakkan gelas di atas meja. Asha memperhatikan Paris yang sepertinya sudah mulai tenang. Dia menyadari bahwa gadis itu akan menangis tadi. "Sudah tenang?" tanya Asha cemas. Paris mengangguk. "Kamu bisa cerita kalau sudah tenang."


Hhh ... Paris menghela napas. Asha menunggu dengan sabar. Sepertinya tidak mudah bagi Paris untuk bercerita.


"Hari ini, Biema tidak mengantar atau menjemputku ke sekolah. Dia menyuruh Fikar_ asistennya, yang melakukan itu." Paris menjeda kalimatnya. "Aku tidak tahu sisi mananya, tetapi aku sedih karena hal itu." Paris melebarkan manik matanya seakan itu aneh.


"Karena biasanya dia yang melakukan itu," timpal Asha membantu.


"Ya." Paris setuju dengan pendapat kakak iparnya. "Saat Sandra tanya kemana Biema_ Fikar menjawab, dia sedang sibuk. Mendengar itu aku merasa sedikiiiit ... di abaikan," tegas Paris dengan kesal.


Asha menatap lama Paris yang kini meneruskan makannya. Mencoba membaca situasi yang sedang terjadi dari cerita yang di katakan gadis yang masih berseragam ini.


"Namun ... meskipun itu tidak biasa_ soal antar jemput ini, bukankah kamu terlalu hiperbola jika sedih karena hal itu ... " Asha merasa ada yang tidak wajar. Dia mencoba membahas poin penting dari pembicaraan mereka berdua. Paris yang mengunyah makanan kini mendongak. Menatap Asha dengan bola matanya yang mengerjap. "Apalagi merasa di abaikan," imbuh Asha dengan nada bicara lembut.


"Nggg ...." Paris mendengung.


"Ini hanya soal tidak di antar dan tidak di jemput sekolah, kan? Bukan aku bermaksud meremehkan masalah yang kamu hadapi, tapi ini kamu ... Paris. Apa masalah kecil itu bisa membuatmu bersedih?" lanjut Asha.


"Mmmm ...." Paris bergumam. Mencerna kalimat kakak ipar.


"... atau aku belum mendengarkan cerita itu sepenuhnya?" pancing Asha. Dia tahu gadis ini masih setengah-setengah saat menceritakannya.


"Soal itu ..." Paris terlihat ragu.


"Kita biasa bercerita, bukan?" Paris perlu di pancing dengan lembut, perhatian dan sabar. "Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Pasti bukan hanya soal tidak di antar jemput, kan?" tembak Asha langsung.


"Hhh ... Ya. Memang bukan hanya soal antar jemput." Paris menyelesaikan suapan terakhirnya. Asha melihat ke piring yang sudah bersih. Gadis itu meneguk minuman dari gelas yang sejajar dengan piring. "Biar aku sendiri yang membawa ke bak cuci," tolak Paris saat Asha hendak mengambil piring. Lalu gadis itu menuju bak cuci dengan piring dan gelas kotor.


Asha yang melihat Paris lunglai sejak tadi, tidak tega. Apalagi berusaha terlihat baik-baik saja padahal tidak. Paris yang seperti itu sangatlah langka. Bahkan bisa di bilang tidak ada. Jika ada yang tidak mengenakkan di hati, dia akan marah. Bukan malah menyimpannya dan bersikap tidak ada apa-apa. Itu sifat Asha. Bukan Paris. Makanya Asha tahu bagaimana sakitnya berusaha baik-baik saja saat sebenarnya hati kita sakit.


__ADS_1


__ADS_2