Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pelukan


__ADS_3


Setelah Paris memberitahu soal masalah di sekolahnya, Arga gerak cepat menyuruh Rendra mencarikan informasi soal pernikahan dengan status masih pelajar itu. Juga mencari koneksi untuk jalan mudah menyelesaikan soal adiknya.


Namun Arga tidak hanya berusaha mencari informasi, dia juga mencoba menghubungi Biema. Bagaimanapun Biema berhak tahu akan ini. Pria itu suaminya. Jadi pantaslah Arga memberitahu soal ini.


Setelah berkali-kali menghubungi tidak bisa, akhirnya Arga berhasil menghubungi Biema setelah sudah mencoba tanpa bisa di hitung lagi.


"Akhirnya aku bisa bicara denganmu," ujar Arga sangat lega. Setengah memicingkan mata karena baru saja dia bangun, Biema menerima panggilan dari Arga.


"Maaf, aku baru melihat panggilan darimu. Aku sedang menangani masalah." Biema merasa tidak enak hati kakak iparnya sudah meneleponnya sejak tadi.


"Aku tahu, tapi aku wajib memberitahu ini meskipun kamu sedang ada masalah di kantormu." Arga memang sedikit memaksa.


"Memberitahuku? Tentang apa?" tanya Biema yang tidak punya firasat buruk apa-apa.


"Paris. Ini soal Paris."


"Paris? Ada apa dengan Paris?" Mendengar nama istrinya di sebut, Biema langsung berdiri dari ranjang.


"Sekolah mengeluarkannya saat dia sedang ujian." Jantung Biema serasa di serang palu godam. Dia sungguh terkejut.


"Benarkah? Apa penyebabnya?" Meskipun Biema sangat terkejut, tapi dia masih bisa bersuara dengan tenang.


"Karena dia ketahuan sudah berstatus menikah," ungkap Arga. Jadi status kami sudah ketahuan? Hhh ... Bagaimanapun pasti akan ketahuan pada akhirnya.


"Jadi sekarang Paris sedang di rumah bunda?"

__ADS_1


"Tidak. Dia berada di apartemen. Kejadian ini sudah satu hari yang lalu."


"Satu hari yang lalu?" Biema lebih terkejut karena ini. "Bukankah aku belum keluar kota saat itu. Kenapa dia tidak memberitahuku?" Biema setengah menggebu bertanya soal ini.


"Paris sengaja. Dia sengaja tidak memberitahumu soal ini karena kamu sedang ada masalah juga." Biema terdiam. Ada rasa marah dan sedih.


"Jadi Paris tidak ingin aku terbebani karena aku sedang ada masalah juga?"


"Ya. Begitulah adikku."


Kamu pasti sangat sedih saat itu, tapi aku justru keluar kota tanpa tahu apapun. Kamu pasti menangis sendirian. Aku bisa bayangkan itu. Apakah kamu baik-baik saja Paris?


"Bisa kamu ambil alih? Meskipun aku sudah berjanji padanya untuk tidak memberitahumu, tapi aku rasa kamulah yang lebih pantas menyelesaikan masalah ini. Lagipula aku yakin sebenarnya Paris ingin kamu yang datang ke sekolah untuk menyelamatkannya. Bukan aku." Arga tahu keinginan Paris sebenarnya. Asha memberitahunya soal itu.


"Baiklah. Aku akan kembali langsung pagi ini." Arga memberikan informasi yang sudah di himpunnya. Biema mendengarkan dengan seksama. Setelah perbincangan dengan Arga usai, Biema langsung menghubungi Fikar. "Kita akan ke sekolah Paris pagi hari. Usahakan segera tiba saat sekolah masih aktif. Paris mendapat masalah seperti yang kamu bilang."


Tunggu aku datang, Paris. Aku pasti akan menyelesaikan masalah ini. Kamu harus lulus apapun yang terjadi.



Namun kehebohan itu kalah dengan kehebohan para siswi perkara Paris yang ternyata terbukti sudah menikah. Mereka sangat terkejut kenyataan bahwa Priski tidak berbohong. Juga tidak menduga ada teman mereka yang mau di nikahi di saat masih menjadi seorang pelajar.


Sementara itu di sisi lain. Biema masih menggenggam jari Paris. Mengajak gadis itu melalui lorong sekolah. Meskipun makin banyak yang menonton aksi Biema ini, Paris tidak ragu mengikutinya. Dengan sedikit menunduk, tapi itu bukan karena dia malu di genggam oleh Biema. Dia hanya menahan diri tidak menghambur ke pelukan pria ini.


Sejak tadi dia berusaha menahan diri agar air matanya tidak meleleh. Dia tidak ingin menangis. Berkali-kali dia menelan ludah menahannya. Tiba-tiba kaki Biema berhenti. Paris dan Fikar ikut berhenti mendadak.


"Ada apa?" tanya Fikar. Namun Biema tidak menggubrisnya. Pria ini tengah memandangi Paris yang sedikit menunduk.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Biema. Fikar melirik. Ternyata ini bukan waktunya dia bertanya. Melihat Paris yang sepertinya masih terkejut dengan kemunculannya, Biema berhenti untuk menanyakan hal itu. "Maaf terlambat bertanya. Karena aku ingin segera menyelesaikan tentang masalah ini, aku lupa menanyakan keadaanmu." Mendengar pertanyaan itu, Paris menggeleng. Masih dengan bibir bungkam.


"Aku jalan dulu." Fikar langsung mengambil inisiatif. Melihat keadaan Paris yang tidak baik, Fikar harus tahu diri. Dia ingin membuat ruang bagi mereka sejenak.


"Paris ...," tegur Biema lirih dan lembut. Paris menghembuskan napas dengan kasar. Lalu mendongakkan kepala.


"Keadaanku sangat tidak baik Biem," ungkap Paris tegas dengan mata berkaca-kaca. "Tidak perlu bertanya kamu pasti tahu aku tidak akan baik-baik saja dengan masalah ini." Air mata Paris meleleh. Biema langsung memeluk tubuh gadis ini. Lorong sepi, karena mereka berdiri tepat di depan ruang lab komputer.


"Maaf, maaf. Maafkan aku," ujar Biema sambil memeluk tubuh Paris erat. Kemudian menepuk punggung istrinya. Paris masih meneteskan air mata. "Aku tidak tahu kamu di keluarkan dari sekolah. Seharusnya kamu memberitahuku."


"Aku tidak bisa. Aku itu ..."


"Aku tahu. Kamu itu khawatir aku terbebani karena juga sedang mendapat masalah, tapi aku tidak akan kalah hanya karena kamu menambahi aku dengan cerita soal ini, Paris. Aku wajib tahu. Jadi aku tidak perlu terlambat membereskan semuanya. Untung saja Arga memberitahuku."


Mendengar ini tangis Paris perlahan berhenti. Gadis ini bergerak ingin lepas. Biema tahu dan melepaskan pelukannya. Gadis ini ingin menghapus air matanya, tapi Biema mencegah. Mengganti tangan Paris dengan tangannya sendiri untuk menghapus air mata.


"Jadi kakak yang memberitahu kamu?" ujar Paris masih dengan suara serak karena tangis.


"Ya. Dia bilang akulah yang pantas maju untuk menolongmu," sahut Biema masih membersihkan sisa tangisan. Setelah selesai dia menatap Paris. "Karena kamu butuh aku." Tuing! Paris terkejut mendengarnya. Meskipun iya, itu memalukan. Bola matanya bergerak gugup. Biema tersenyum. "Sebaiknya kita segera menemui pihak sekolah dan membahas soal kamu."


Paris mengangguk. "Ya."


Fikar yang sebenarnya tidak pergi jauh dari sana tersenyum. Dia ikut senang melihat raut wajah Paris tidak mendung lagi. Saat Paris dan Biema berjalan hampir ke tempat dia berdiri, Fikar bersiap mensejajarkan langkahnya dengan mereka.


Hingga sampailah mereka di depan pintu ruang kepala sekolah. Beberapa guru di ruangannya juga terlihat menjulurkan kepala keluar tatkala ada dua orang pria memakai jas dengan gagahnya melintas. Apalagi saat melihat kemunculan Biema ini dengan seorang gadis yang di ketahui beberapa guru sudah di keluarkan dari sekolah.


Saat itu ada seorang guru perempuan yang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Matanya tertegun melihat sosok tampan di depannya.

__ADS_1


"Ada perlu apa, ya?" tanya guru itu sambil tersenyum manis. Melihat gagahnya pria di depannya, guru ini sedikit menata sikap. Mencoba tampil sempurna karena tertarik dengan dua orang pria memakai jas dengan menawan.



__ADS_2