Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Bermesraan


__ADS_3

."Aku tidak peduli soal itu," ujar Biema seraya tetap menatap lurus ke depan.


Lalu kenapa bicara soal memasak yang sangat jauh dari kebiasaanku? gerutu Paris. Sandiwara apa itu?


"Tahu darimana aku ada di sini?" tanya Paris saat mereka sudah sampai di meja kasir. Pramuniaga freshmart menyapa dengan cara yang khas. Paris tersenyum menanggapinya.


"Tentu saja aku tahu. Aku harus tahu dimana istriku berada," jawab Biema tegas. Paris mengeluarkan barang belanjaan. Biema ikut membantu mengeluarkan semua barang belanjaan dan meletakkan di atas meja kasir.


"Memang, tapi dengan muncul tiba-tiba saat kamu bahkan sedang bekerja, itu sedikit ..."


"Itu tidak berlebihan. Apalagi ini jam istirahat," potong Biema cepat. "Seorang suami memang harus mengerti dimana dan ada keperluan apa istrinya itu. Jadi dia tidak akan terlambat mengetahui sesuatu, saat istrinya melakukan hal yang tidak di inginkan." Biema mengatakan itu dengan tegas sembari melihat ke arah Paris. Menunjukkan betapa dirinya serius soal hal ini.


Bahkan kasir yang sedang meng-scan barcode pada barang belanjaan mendongak. Melihat dan menguping sejenak apa yang di katakan dua pembelinya. Namun secepatnya menunduk saat Biema melihat ke depan lagi.


Mengetahui sesuatu? Karena aku bicara dengan kak Lei? Masa masih soal itu sih?


Setelah berhasil meng-scan semua barang belanjaan yang ada di dalam troli, kasir itu menyebutkan nominal. Paris hendak mengeluarkan kartu kredit di dalam tas kecilnya. Saat itu Biema sudah berhasil mengeluarkan kartu kredit miliknya dengan lebih cepat. Lalu menyerahkan pada kasir. Jadi Paris menutup resletingnya tasnya kembali, urung untuk mengambil kartu.


Proses pembayaran sudah selesai. Mereka berjalan perlahan menuju pintu dengan diam. Fikar mengirim pesan ke ponsel Biema. Dia memberitahu dimana mereka akan makan siang. Paris dan Biema hanya saling diam saat langkah mereka melewati selasar.


"Jika kamu datang kemari dengan kilat karena Kak Lei, itu sia-sia," ujar Paris membuat Biema menghentikan langkah dan menghadap ke arahnya. Paris yang tadinya tidak berniat berhenti, ikut menghentikan langkah dan menoleh pada Biema akhirnya. "Aku hanya tidak sengaja bertemu," imbuh Paris.


"Dengan kemunculannya di sini yang tidak wajar?" serang Biema.


"Aku tidak paham sisi mana yang tidak wajar, Biem ..." Paris mengerutkan kening.


"Yang tidak wajar adalah kamu keluar tanpa memberitahuku dan orangku melihatmu sedang berbincang dengan seseorang. Dan yang membuat aku memang seharusnya datang, adalah dia. Lei." Sekarang Biema terang-terangan bahwa hatinya terusik oleh kehadiran pria itu.

__ADS_1


"Orangmu? Kamu memata-mataiku?" tanya Paris tertegun sesaat. Berarti memang ada orang-orang yang sedang mengintainya. Biema yang sadar sudah membongkar sendiri soal itu, diam. "Itu aneh," lanjut Paris.


"Bukan suatu hal aneh saat suami memberi perlindungan pada istri dengan diam-diam. Itu sangat di anjurkan untuk menghindari dari banyak hal yang tidak suami inginkan." Biema menampik sebutan aneh untuknya.


"Lei hanya mantan Biem ... dan kamu suamiku."


"Lalu?" kejar Biema.


"Apanya yang lalu? Jelas saja suami itu adalah segalanya daripada sekedar seorang mantan," seru Paris dengan nada sedikit meninggi. "Aku pikir setelah malam itu ... kamu tidak lagi mencurigaiku soal seperti ini." Paris menggerutu. Tubuhnya hendak berlalu untuk menjauh. Dia kesal harus membahas malam aduhai itu. Apalagi saat momen tidak asyik seperti ini.


Biema segera menarik tubuh Paris dan memeluknya dari belakang. Paris membiarkan tubuhnya di tangkap pria ini. "Justru karena kita sudah melewati malam itu, aku jadi ingin selalu menjagamu dari hal-hal seperti itu," lirih Biema di telinga gadis itu.


"Jadi kamu enggak percaya aku enggak peduli lagi sama Kak Lei?"


"Bukan hanya Lei. Siapapun itu aku akan melakukan hal yang sama."


"Mungkin, jika itu di ijinkan," jawab Biema bersungguh-sungguh.


"Ih," decih Paris kesal. Biema tetap memeluk Paris. Memeluknya erat. Tak ayal drama mereka berdua yang tengah berpelukan di saksikan oleh orang yang melintas. "Lepaskan. Orang-orang sedang melihat kita," kata Paris menyadari mata orang yang melintas tertuju pada mereka.


"Mereka hanya iri."


"Bukan iri," sembur Paris sambil mendongak ke samping. "Mereka risi melihat kita main drama di lorong ini," ujar Paris makin kesal. Biema melihat ke sekitar. Benar saja. Mereka sedang memperhatikannya. Rupanya dia baru sadar. Biema tidak terlalu peduli dengan sekitar. Di pikirannya hanya Paris dan Paris. Dan saat itulah Arga muncul beserta Rendra. Dua pasangan yang tidak terpisahkan. Jika Biema dan Fikar adalah teman sekaligus atasan dan bawahan, mereka berdua murni atasan dan bawahan saja.


"Jadi kalian berdua, yang membuat orang-orang melihat ke arah sini terus?" tegur Arga. Biema menoleh. Pelukannya melonggar, membuat Paris berontak dan berhasil melepas pelukan Biema. "Ada apa dengan kalian?"


"Aku sedang merajuk," ungkap Biema tanpa malu. Paris mendelik mendengarnya. Dia jadi salah tingkah di depan kakaknya.

__ADS_1


"Ngomong apa, sih?" tegur Paris tidak setuju. Dia malu pada Arga. Dia pikir Biema akan bilang tidak ada apa-apa. Namun dugaannya salah besar. Pria ini terlihat kekanak-kanakan.


"Ngomong apa yang sedang terjadi barusan," jawab Biema tenang. Paris geregetan.


"Oh, begitu ... " Arga malah menanggapi dengan santai tanpa merasa itu aneh. "Lanjutkan saja. Ayo pergi Rendra." Paris menipiskan bibir geram melihat sikap kakaknya yang acuh-tak acuh. Karena dia sudah terlanjur salah tingkah tadi. Jadi sekarang Paris merasa sudah bersikap konyol.



Fikar yang saat itu berjalan sejajar dengan Lei, menengok ke samping. Mengamati pria yang lebih muda darinya itu.


"Benar, kamu mantan Paris?" tanya Fikar.


"Itu pertanyaan pribadi. Saya tidak wajib menjawab, senior," jawab Lei. Rupanya pria ini tidak ingin mengatakan sesuatu.


"Oh, begitu ya ..." Fikar mengangguk-anggukkan kepala. Dia tidak menduga bahwa pria ini akan menjawab seperti itu. Padahal akan menjadi nilai plus sesama karyawan perusahaan jika ia mengaku bahwa dirinya memang benar adalah mantan kekasih gadis di depan sana. Karena sekarang gadis itu adalah istri direktur mereka. Namun Lei tidak mau membanggakan diri.


Setelah beberapa menit menunggu, Biema dan Paris muncul. Melihat muka masam Paris, Fikar tahu bahwa mereka sempat cekcok. Namun Paris segera merubah muka masam itu menjadi ramah saat melihat ke arah dirinya dan Lei. Sontak Biema melirik. Ini membuat Fikar tahu diri dengan menundukkan pandangan.


Biema mendekati mereka berdua seraya membawa kresek belanjaan.


"Maaf, ya. Kita lama. Soalnya tadi ketemu kak Arga di jalan," kata Paris.


"Enggak apa-apa," sahut Lei. Mendengar sahutan ini saja membuat Biema melihat Lei dengan dingin. Lei tahu itu. Dia mengangguk. Namun tidak ada respon dari Biema.


"Kita di sini makan siang. Bukan lomba saling memandang," tegur Paris. Biema menoleh pada istrinya. Tangannya terulur mengelus kepala Paris.


"Aku tahu," sahut Biema lembut lalu tersenyum tipis.

__ADS_1



__ADS_2