
"Iya. Dia memang pria paling tampan dari pria yang ada di sini," kata Arga mengalah. Dan menyerahkan dengan tulus gelar pria tampan pada Biema. Namun Paris diam. "Ada apa sebenarnya?" bisik Arga karena merasa adiknya bersikap aneh dengan memeluknya erat seperti ini.
"Terima kasih sudah bantu aku," jawab Paris dengan suara lirih.
"Biema yang menolong kamu bukan aku," tutur Arga dengan mengatur volume suaranya agar tidak dapat di dengar orang lain dengan jelas.
"Iya, tapi berkat kakak ... Biema juga muncul untuk menyelesaikan masalah itu. Terima kasih. Arga tersenyum. Menepuk punggung adiknya pelan.
"Bagaimana pun aku harus menolong kamu. Meski lewat Biema atau siapapun."
"Mereka itu sedang ngapain bisik-bisik? Di sini kan ada Biema dan yang lain. Dasar kakak dan adik." Bunda menggerutu. Beliau tidak nyaman karena ada Biema yang sejak tadi melihat.
"Paris pasti kangen sama kakaknya, Bun," kata Asha.
"Kalau sudah besar semua dan punya rumah tangga sendiri begitu. Padahal dulu seringkali ribut saat tinggal bareng," ujar bunda. Ayah ikut tersenyum.
"Itu berarti hubungan mereka berdua begitu dekat, Bunda ..." Asha menimpali.
"Syukurlah," ujar tuan Hendarto lega. Biema memandangi mereka berdua. Dia tahu pasti ada hal rahasia yang ingin di bicarakan. Dan kemungkinan besar adalah soal sekolah.
Tangan Arash bergerak meraih-raih. "Sepertinya Arash ingin ikut berpelukan sama ayah dan aunty-nya juga," ujar Asha menemukan tingkah bayinya. Biema mendekati bayi itu lagi.
"Boleh aku gendong?" tanya Biema kepada Asha.
"Boleh. Bisa?" tanya Asha sedikit khawatir. Dia tahu pasti pria ini belum pernah menggendong bayi.
"Sedikit. Aku pernah menggendong anak Tante," ujar Biema yakin
"Hmm ... bagus itu." Asha lega dan senang. Tangan Biema terulur menyentuh tubuh baby Arash. Kemudian mengangkatnya perlahan. Kini bayi itu sudah berada dalam gendongannya. Sepertinya bayi ini betah berada dalam pelukan Biema.
"Bukannya kamu enggak mau Biema muncul?" tanya Arga masih berbisik-bisik. Paris melepas pelukannya.
"Bukan enggak mau, tapi enggak tega," ralat Paris.
__ADS_1
"Kamu berpura-pura cuek padahal ingin dia datang?"
"Siapa yang begitu?" seru Paris sambil mengerutkan wajahnya. Arga terkekeh. Paris menjauh dari Arga dan menemukan Biema sudah menggendong keponakannya. Pria itu tertawa kecil. Berinteraksi dengan makhluk polos dan gembul di pelukannya.
Dadanya berdesir melihat itu. Matanya mengerjap berulangkali
Biema, oh tidak. Dia tampan.
Biema tampak menikmati menerima senyuman dan sentuhan makhluk menggemaskan itu. Menurutnya saat ini pria di depannya itu tampak sangat berkilau. Ada hal lain selain dia memang selalu tampan dan keren. Mungkinkah karena Arash? Karena bayi gembul itu?
"Lihat Paris! Biema bisa menggendong Arash. Dia sudah siap jadi ayah!" seru nyonya Wardah terlihat gembira.
Siap jadi ayah?
Tanpa permisi, semu merah menyerang wajah Paris. Gadis ini merona mendadak mendengar bunda bicara seperti itu dengan semangat. Apalagi saat Biema menoleh ke arahnya dengan senyuman Arash yang menggemaskan.
Aku terpana.
Tangan Paris mengepal menahan debaran jantungnya yang kini lebih kencang daripada tadi.
Paris menampik kehadiran Arash di gendongan Biema yang menjadi penyebab pria itu bersinar indah. Kepalanya menggeleng. Membuang pemikiran yang barusan terlintas. Biema melihat tingkah aneh gadisnya.
Mendung yang sejak tadi bertengger di langit akhirnya menurunkan hujannya. Kini bumi mulai basah terkena tetesan air dari langit. Keluarga Biema akan muncul di rumah sakit sebentar lagi. Jadi tanggung sekali bagi Paris dan Biema untuk pulang. Mereka berencana menunggu.
Biema menunggu keluarganya di ujung pintu area privasi sendiri.
"Mama papa sudah datang?" tanya Paris menyentuh punggung Biema yang berdiri menghadap ke arah jalan. Kepala pria ini menoleh.
"Belum. Mungkin sebentar lagi." Paris mengangguk. Lalu ikut berdiri di samping Biema. "Kamu masuk aja. Tunggu di dalam. Di sini dingin. Anginnya kencang," ujar Biema memberi nasehat.
"Enggak apa-apa. Aku mau temenin kamu nunggu mama papa." Paris tidak mau pergi. "Lagipula aku pakai jaketnya kak Asha yang tebal." Paris memamerkan jaket yang di bawa Asha tadi.
__ADS_1
"Kamu ini bandel." Telunjuk Biema menyentil kening gadis ini dengan gemas. Paris meringis. "Sepertinya itu mobil mereka," tunjuk Biema dengan dagunya. Benar juga. Mobil yang biasa di tumpangi Sandra muncul. Sesuai dengan apa yang di katakan Biema, keluarganya turun dari mobil. Tidak perlu menggunakan payung, mereka sudah berhenti di area parkir dengan atap yang menaungi dari hujan.
"Halo Paris dan Biema." Mama memeluk mereka berdua bergantian. Papa muncul setelahnya.
"Kalian belum pulang?" tanya Papa.
"Belum, Pa. Kita sengaja menunggu Mama dan Papa datang," jawab Paris.
"Sekalian bisa berkumpul lagi seperti dulu," ujar Biema yang teringat kala mereka belum terikat oleh pernikahan. Di saat pertama kali mereka di pertemukan. Sopir rumah juga turun dari mobil membawakan parsel buah-buahan yang begitu apik.
"Sini, biar aku yang bawa." Biema menawarkan diri membawa parsel yang besar itu. Sopir rumah keluarga mereka menyodorkan parcel buah yang besar itu. Sandra muncul dengan wajah bahagia.
"Pariss ... Eh, kak Parissss!" ralat Sandra yang mendapat sorotan maut dari mamanya. Paris sendiri juga kesenangan bertemu sahabatnya. "Aku mendadak kangen. Padahal kita juga sudah pernah ketemu sebelumya." Sandra memeluk tubuh Paris.
"Benar. Padahal kita sehari saja pisah," ujar Paris gemes.
"Ayo kita masuk ke dalam," ajak Biema.
Paris mengajak Sandra mendekat ke mamanya. "Ayo, Ma." Paris menggandeng lengan mama mertua dengan Sandra di sampingnya. Lalu mereka berjalan beriringan menuju kamar perawatan Tuan Hendarto.
Di dalam kamar, keluarga Hendarto sudah siap sedia dengan kedatangan keluarga besannya. Masih dalam formasi utuh. Arga , Asha, dan bunda menyambut keluarga Biema dengan senyum bahagia.
"Halo, Wardah." Mama Biema menyalami nyonya Wardah dan berpelukan.
"Aduh repot-repot datang. Mana di luar hujan juga." Nyonya Wardah tidak enak.
"Ah bukan apa-apa. Sekalian silaturahmi juga. Lama enggak muncul," tutur Mama Biema sambil mengelus-elus Lengan besannya. Mereka mendekat ke ranjang untuk menyapa tuan Hendarto yang terbaring di atas ranjang.
"Halo Hendarto. Sudah lebih baik?" tanya Papa Biema.
"Ya. Aku sudah lebih baik." Tuan Hendarto tersenyum. Asha membantu Biema meletakkan parsel buah. Kemudian menerima pelukan hangat dari mertua Paris. Suasana akrab pun tercipta seketika. Ruang perawatan ini menjadi ramai dengan kedatangan keluarga Biema. Mereka saling melontarkan pujian bagi bocah kecil putra Arga. Hingga tiba juga pembahasan bagi pasangan Paris dan Biema.
Tak pelak yang di perbincangan adalah soal masalah sekolah Paris.
__ADS_1
"Kita minta maaf soal masalah Paris tidak bisa ikut menyelesaikan," ujar papa Biema yang langsung membuat keempat orang di sana kecuali tuan Hendarto dan nyonya Wardah tentunya sangat terkejut.