Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Waktu itu


__ADS_3


"Jadi kamu merasa begitu karena menjadi bawahanku?" tegur Biema dingin yang rupanya ada di belakang pria ini. Sandra dan Juna tahu itu. Napas Fikar tercekat. Dia menelan makanannya dengan tanpa mengunyah. Hingga matanya melotot karena tersedak. Juna segera mencari air minum untuk pria itu.


"Kamu apakan dia?" tanya Paris sambil menepuk lengan Biema pelan. Biema menoleh ke arah Paris yang baru saja berdiri di sampingnya.


"Tidak. Aku hanya menanyakan kembali apa yang dia katakan soal aku," jawab Biema merasa tidak bersalah.


"Dia takut sekali sama kamu," ujar Paris sambil tergelak.


"Sebagai bawahan memang sepantasnya seperti itu," sahut Biema tegas. Paris melangkah maju, tapi tangan Biema dengan sigap menarik tas ransel yang ada di punggung gadis ini. "Mau kemana kamu?" cegahnya. Tubuh Paris mundur lagi.


"Apa?" tanya Paris sambil menoleh pada Biema. Dia bagai maling tertangkap basah.


"Mau kemana?" ulang Biema karena gadis ini belum menjawab.


"Kesana," tunjuk Paris pada truk makanan.


"Tidak. Tetap disini. Fikar! Selesaikan makan mu lalu kita pulang!" perintah Biema. Fikar sudah berusaha menyelesaikan makanannya tadi sebelum ada perintah. "Tetap di sini Paris. Jangan kemana-mana," tekan Biema.


Namun setelah mengatakan itu, dia justru melangkah maju.


"Mau kemana dia? Menyuruhku diam, tapi dirinya pergi kemana-mana," cibir Paris. Biema melangkah maju menuju ke truk makanan. Tepatnya mendekati Juna yang masih berada di dekat Fikar. Juna berdiri seraya mendongak ke arah Biema.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Juna tenang. Dia berpura-pura tidak tahu soal cemburunya pria ini padanya.


Pak? Dia memanggilku, Pak? tanya Biema geram dalam hati.


"Aku bukan Pak," desis Biema masih geram.


"Oh, maaf. Saya harus tetap sopan dan hormat pada pelanggan," ujar Juna menunjukkan wajah pura-pura bersalah.


"Buang panggilan Pak tadi. Panggil aku ... Apa panggilan kamu pada Arga?" Biema belum pernah bertemu cowok ini. Apalagi mendengarnya berbicara dengan Arga. Fikar yang sudah bisa lebih tenang karena tersedak melihat Biema dengan wajah merahnya.


"Arga?" tanya Juna mengkedip-kedipkan mata.


"Ehem." Biema berdeham sebentar. "Kamu adik Asha, istri Arga bukan?" Akhirnya Biema mengungkap sendiri identitas pria yang sempat dia cemburui ini. Ada sedikit rasa malu karena sudah mencemburui. Namun dia harus tetap cool di depan anak muda ini.

__ADS_1


Paris dan Sandra memperhatikan mereka berdua dengan diam.


"Cowok itu siapa, Paris?" tanya cewek-cewek yang berdiri di sekitar mereka. Karena sepertinya suami Paris kenal.


"Saudara ipar ku," jawab Paris. Mereka melihat ke arah Juna lagi. Kembali tertarik untuk mengamati dua pria itu.


"Oh, Kak Asha. Iya. Saya memang adik Asha." Juna bersikap wajar.


"Jadi ... Itu berarti ..." Biema kebingungan menjabarkan. Dia sudah terlanjur malu soal kecemburuan tadi.


"Ya. Ternyata kita saudara ipar jauh." Juna meneruskan. Biema mengangguk.


"Lalu kamu panggil Arga apa?"


"Kakak ...," jawab Juna lambat.


"Ya. Panggil aku kakak," ujar Biema yakin. Bola mata Juna melirik ke arah Paris. Memberitahu padanya bahwa suaminya mulai bertingkah sangat jauh daripada tadi. Gadis itu tersenyum. Rupanya Biema berusaha untuk berdamai dengan kecemburuannya.


"Oke. Kak Biema. Saya ..."


"Bersikaplah seperti bocah seumuran istriku. Tidak perlu terlalu formal padaku," ujar Biema terdengar ketus.


"Ya, kak Biema ..." Juna hanya mengiyakan. Paris mendekat di disertai senyum Sandra di belakang. Fikar tetap diam sambil meneruskan makannya. Dia tidak ingin membuang kesempatan makan gratis.


"Jadi kamu sedang berkenalan dengannya?" tanya Paris sedikit meledek.


"Tidak ada salahnya kan? Apalagi dia seumuran denganmu. Aku perlu juga berteman dengan anak-anak," ujar Biema. Juna tersenyum tipis. Menertawakan tingkah suami Paris ini.


"Ya. Aku dan suamimu bisa menjadi teman baik. Seperti kamu dan aku." Juna menambahkan.


"Teman baik?" ejek Paris. Bibirnya mencebik.


"Salah? Kalau begitu apa dong?" lanjut Juna.


"Kalian adalah saudara yang baik. Cukup?" tanya Biema yang tidak ingin melihat mereka berdua makin akrab.


"Oh benar. Kita adalah saudara yang baik. Bahkan saat kamu sedang panik dan marah karena bunda, kamu kabur ke rumahku di kampung," ujar Juna membuat Paris terkejut.

__ADS_1


"Kabur?" tanya Biema tertarik.


"Tidak. Itu hanya keisengan masa lampau." Paris mengahalau Biema untuk tidak mendengarkan. Juna diam. Melihat Paris berkilah, itu menandakan gadis ini tidak mau Biema mendengar secuil kisah sebelum mereka menikah.


"Aku juga ingin dengar soal itu." Biema berusaha turut serta dalam masa lalu mereka.


"Jangan. Lebih baik jangan. Bukankah kita akan pulang setelah menemukan Fikar?" Paris berusaha membuat Biema melupakan apa yang di katakan Juna. "Ayo, cepat pulang Fikar ...," desis Paris. Fikar menipiskan bibir. Pemuda itu masih diam karena merasa sudah salah bicara.


"Ya. Kita akan pulang setelah aku mendengarkan apa yang di katakan Juna," sahut Biema. Fikar sedikit bersyukur Biema enggan pulang. Pria ini masih ingin makan. Paris menoleh pada cowok itu dengan memberi kode untuk tidak melanjutkan apa yang di bicarakannya di awal tadi.


"Haha ... Sepertinya aku harus bekerja." Juna mengerti.


"Aku yang membayar food truck ini. Bicara denganku merupakan salah satu pekerjaan mu." Entah kenapa sisi cemburu Biema menjadi ingin tahu lebih banyak apa yang tidak di ceritakan Paris padanya dan justru menceritakan pada saudara ipar ini.


"Aku yakin itu bukan suatu hal yang penting. Kak Biema tahu pun itu tidak akan jadi hal yang berguna." Juna berusaha menyamarkan dengan baik apa yang sebenarnya ia bicarakan tadi.


"Jadi begitu?" Biema justru ingin tahu karena di tentang. Sifat dasar manusia. Makin di larang makin ingin tahu.


"Kita pulang," ajak Paris.


"Katakan saja Juna," paksa Biema.


"Tidak perlu ingin tahu hal tidak penting, Biema ...," Paris memaksa.


"Paris kabur ke rumahku di kampung karena di jodohkan denganmu oleh bunda. Dia menentang itu karena tidak mau." Juna mengungkapkan apa yang tidak di lanjutkan tadi. Paris mendelik ke Juna. Cowok itu hanya angkat bahu. Menurutnya Biema memaksa. Jadi dia berbaik hati melanjutkan pembicaraan yang sempat ingin di hentikan tadi.


Beberapa detik, Biema diam. Paris panik. Fikar langsung meletakkan piringnya dan meminta minuman pada Juna tanpa bersuara. Dia merasa ini hal tidak baik. Juna segera menyiapkan minuman untuk Fikar.


"Oh, hanya itu," sahut Biema pada akhirnya.


"Ya. Itu hal paling serius yang dia bicarakan padaku. Selain itu tidak ada hal lain selain soal remeh-temeh anak sekolahan."


Biema mendengus. Juna tidak tahu artinya. Mungkin mencemooh apa yang sudah dikatakan Juna ternyata bukan hal penting. Atau kesal dan geram. Juna tidak tahu.


"Kita pulang," ajak Biema pelan. Paris merasa ini tidak akan menjadi hal biasa. "Lain kali sapa aku jika kita bertemu di jalan. Mungkin aku lupa karena baru pertama bertemu. Aku juga akan menyapa jika aku lebih dulu mengingatmu," ujar Biema merasa lebih baik mengenal lebih dekat dengan Juna.


"Oke," sahut Juna menyambut atmosfir persahabatan mendadak ini. Juna tahu Biema hanya berusaha bersikap baik karena ternyata mereka adalah saudara ipar.

__ADS_1


"Aku pulang, Jun. Sandra juga," pamit Paris dengan pelan. Tangannya juga melambai pada teman-temannya yang ada di sana. Fikar sudah siap.



__ADS_2