
"Milikmu? Dia?" tanya Paris.
"Tolong lepaskan aku," rengek Priski. Pria itu makin geram dengan rengekan gadis ini.
"Lepaskan kamu bilang? Setelah aku memberimu banyak uang untuk belanja apapun yang kamu mau, kamu minta di lepaskan? Yang benar saja." Pria itu melepaskan rambut Priski. Namun dia tidak melepaskan tubuhnya begitu saja. "Seharusnya kamu melayaniku dulu baru pergi." Alis Paris naik. Soal apa ini? Uang? Melayani? "Jangan main curang, hah?!" Pria itu memaksa mencium bibir Priski dengan kasar.
Wajah Paris berubah masam melihat pria itu melakukannya. Jijik.
"Jangan memaksanya!" hardik Paris. Mendengar teriakan ini Om-om gendut itu melepaskan ciumannya dan mendorong tubuh Priski hingga gadis itu terdorong ke belakang.
"Hei, apa kamu mau menggantikannya melayaniku? Jika mau, aku bisa melepaskannya. Lihatlah. Aku sudah melepaskannya, kan? Ayo kemarilah." Pria gendut itu menggerakkan jari-jarinya meminta Paris maju.
Sialan pria tua gendut, buncit, dan kurang ajar ini!
Tiba-tiba saja dari arah samping, ada seseorang yang melayangkan pukulan tepat mengenai wajah pria tua gendut itu.
"Akhhh!!!" teriaknya kesakitan.
"Mati saja, brengsek!" umpat Biema yang muncul dan langsung merengkuh bahu Paris.
"Biema ..." lirih Paris sambil menatap ke samping.
"Kamu tidak apa-apa, sayang? Dia tidak menyentuhmu?" tanya Biema langsung memindai tubuh istrinya menyeluruh. Dia mendengar kalimat terakhir pria gendut itu.
"Tidak. Dia ..."
"Aku akan membuatnya tidak bisa berjalan lagi jika berani menyentuhmu," desis Biema menyela kalimat Paris.
"Tidak sama sekali," tegas Paris. "Dia hanya menyentuh Priski," tunjuk Paris pada gadis yang tersengal-sengal sambil bersandar pada badan mobil.
"Dia?" Wajah Biema tidak bersahabat. Paris mengangguk. "Jadi ini ada hubungannya dengan dia lagi?" Ada nada marah di sana. Priski beringsut mendapat tatapan marah dari Biema.
__ADS_1
"Hei! Apa yang kamu lakukan pada hidungku, hah?!" teriak pria gendut itu memegangi hidungnya yang berdarah. Biema menoleh pada pria gendut yang tadi sempat terabaikan.
"Aku hanya sedikit menyentuhnya," sahut Biema enteng. "Atau kamu ingin yang lebih parah dari itu?"
"Aku bisa menuntutmu!" teriaknya mengancam.
"Aku tidak peduli. Silakan," desis Biema dingin yang ternyata berhasil mengintimidasi pria gendut itu. Karena setelah mendengar Biema bicara, pria itu berdecih dengan kesal.
"Kenapa kalian berdua datang mengganggu kesenanganku?" tanya pria itu tidak terima. Kali ini dia tidak lagi tertarik pada Paris karena ada Biema di sebelahnya. Dia hanya ingin marah.
"Persetan dengan kesenanganmu! Jika kamu berani menyentuh istriku, aku akan mematahkan tulang-tulangmu," ujar Biema membuat pria itu mundur selangkah. Karena sepertinya Biema akan menghajarnya lagi.
"Aku tidak akan mengganggu istrimu jika dia tidak mengganggu ku," kata pria itu kesal.
"Aku hanya tidak sengaja melihat dia yang aku kenal. Jadi tidak ada jalan lain selain menolongnya," kata Paris. Biema melirik ke arah istrinya. Menghela napas mendengar alasan menyebalkan yang di bicarakan Paris.
"Kalian tidak mengerti. Dia ini sudah menggunakan uangku dengan nominal banyak untuk segala keperluannya. Aku menyewanya. Aku sudah membayarnya," kata pria itu menunjuk Priski dengan kesal. Paris dan Biema melihat ke arah Priski yang hendak pergi kabur.
"Berhenti disana, atau aku tuntut dengan segala macam pasal, bocah," ujar Biema mengancam. "Aku sudah tidak sabar membuatmu menderita karena sering membuat istriku berada dalam masalah." Biema tidak main-main. Meskipun Paris tidak mengijinkannya, dia sudah tidak peduli. Priski berhenti. Dia diam di dekat mobil sambil memunggungi mereka. Paris sendiri juga tidak mencegah suaminya, jika Priski membuat pria ini marah besar.
"Aku menyewanya." serobot pria itu saat Paris bicara. "Jika begitu ... sudah jelas dia ini cewek apa? Cewek panggilan bukan?" kata pria itu tanpa menutup-nutupinya.
Priski makin tidak bisa berkutik. Paris melirik ke arah gadis itu agak lama.
"Jadi akhirnya aku benar-benar menemukanmu dalam keadaan dimana kamu sendirilah yang sebenarnya seperti gosip yang kamu buat untukku. Cewek panggilan," kata Paris. Priski tidak menjawab.
Paris sudah menyelesaikan ujiannya dengan tuntas. Namun jika di tanya soal bagaimana hasilnya, Paris sendiri agak ragu. Gosip soal Priski yang jadi cewek panggilan tersebar. Paris tidak menduga itu. Karena dia yakin mulutnya tidak mengatakan apapun soal gadis itu. Mungkin alam bekerja sendiri bagaimana menciptakan cara untuk menghukum Priski dan menunjukkan pada yang lain bahwa dirinya bukanlah seperti yang digosipkan.
Siang ini Paris dan Sandra duduk di cafe depan sekolah menunggu jemputan.
__ADS_1
"Aku yakin pasti Priski adalah cewek panggilan itu sendiri. Karena dengan mudah dia menggiring orang lain percaya kamu adalah cewek panggilan. Mungkin dia sudah mengerti bagaimana tampilan cewek panggilan sebenarnya karena pengalamannya sendiri." Sandra dengan semangat berpendapat soal berita Priski itu.
"Entahlah." Meski sebal selalu di ganggu cewek itu, tapi jika teringat lagi keadaan acak-acakan gadis itu, Paris jadi kasihan. Dia saja belum pernah di tampar oleh siapapun, tapi pria itu bahkan sudah bisa menamparnya meskipun bukan suaminya.
"Mama tanya kenapa kalian tidak berkunjung ke rumah," ujar Sandra.
"Benarkah? Aku akan bilang ke Biema nanti. Karena ujian sudah selesai, mungkin setelah ini kita bisa berkunjung ke rumah mama," jelas Paris.
"Kalian sudah bisa rukun dan bahagia, kan?" tanya Sandra tiba-tiba.
"Eh, kenapa? Aku kelihatan enggak bahagia?" tanya Paris cemas sambil melihat ke arah ponselnya yang seperti cermin.
"Bukan begitu. Emangnya enak, nikah saat muda?" Mendengar pertanyaan ini dari bibir adik iparnya, Paris yang tadinya melihat ke arah ponsel dengan cemas, kini menoleh pada Sandra.
"Itu ... mengagetkan." Paris meletakkan ponselnya ke dalam saku. Dia terkejut mendengar pertanyaan adik iparnya. "Kenapa tiba-tiba tanya begitu?" Sandra tersenyum geli saat Paris balik bertanya.
"Melihatmu yang bahagia dengan kak Biema, aku jadi memikirkan pernikahan juga," kata Sandra jujur.
"Pengen nikah, nih ...," goda Paris. Wajah tengilnya muncul setelah sekian lama vakum.
"Entahlah."
"Aku tidak bisa menikah muda itu enak. Kamu tahu sendiri, aku menikah karena di jodohkan. Bukan dengan pilihan aku sendiri, tapi dengan pria yang tidak aku kenal kecuali dia adalah kakakmu. Aku dan dia mungkin sedang menguji takdir kita berdua waktu itu. Meski tahu tidak ada cinta, kita hanya mencoba menjalani takdir yang sudah ada. Kamu tahu aku membencinya saat pertama kali menikah." Paris masih ingat itu.
"Jadi maksudmu?" tanya Sandra.
"Di jodohkan bukan pilihan terbaik. Meski ada saja yang berakhir indah seperti aku dan kakakmu. Jadi ... aku tetap tidak setuju jika di jodohkan. Karena bisa saja takdir kita bahagia bukan dengan di jodohkan, melainkan dengan cari jodoh kita sendiri. Lebih baik kamu hati-hati saja jika ada perbincangan soal di jodohkan," kata Paris memberikan nasehat.
"Oh, ya? Tapi menurutku di jodohkan juga seru." Sandra berpikiran lain.
"Seru?" tanya Paris. Sandra mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Din! Din! Suara klakson menyalak dari luar. Mobil jemputan sudah datang. Sandra melambaikan tangan menyambut kedatangan kakaknya.