
Bermacam kegilaan di pikiran Paris benar-benar menyiksa. Gadis ini sedang dalam dilema. Antara ingin, tapi juga merasa takut. Paris menelan ludah sambil mengerjapkan mata. Pandangannya terus saja menuju ke handuk berwarna hijau lumut yang melilit sepinggang itu.
Sementara itu Biema tengah memperhatikan ekspresi gadis ini sejak tadi. Dia tahu, Paris sedang menahan diri. Tiba-tiba handuk itu melorot membuat Paris melebarkan mata dan menahan napas melihat kejadian itu. Namun dengan sigap tangan Biema menangkapnya. Handuk itu tidak jadi melorot dan menampakkan semua.
Cih, decih Paris dalam hati. Ini antara kecewa dan malu karena sempat memperlihatkan raut wajah inginnya. Gadis ini memilih membalikkan badan dan meracik susu cokelat untuk Biema.
Enggak tahu, enggak tahu, rapal Paris di dalam hati. Kepalanya menggeleng-geleng frustasi. Dia yang terjebak dalam pikirannya sendiri, mencoba mengalihkan perhatian dengan menyelesaikan tugasnya membuatkan susu cokelat untuk suaminya. Meskipun dia sebenarnya juga menyayangkan kalau handuk itu tidak jadi melorot.
Biema mendekat. Hanya mendekat tanpa bermaksud memeluk. Namun aroma maskulin dari tubuh Biema sudah tercium. Hingga Paris teringat lagi malam panas itu. Tubuhnya meremang seketika.
"Belum selesai?" tanya Biema dengan suara serak di dekat telinga. Paris terkesiap lagi. Meskipun pria ini tidak memeluk tubuhnya, tapi Paris merasakan tubuh polos Biema dari kulit mereka yang bersentuhan sekilas.
"B-belum," sahut Paris. Gugup. Padahal Biema belum melakukan apa-apa. Dia hanya menempelkan kulit tubuhnya yang polos di atas kulit lengan Paris sekilas. Hingga membuat gadis itu bisa merasakan lekukan tubuh tegap dan berotot milik pria ini.
Aku bisa. Aku bisa!
"Kenapa lama?" tanya Biema dengan menggoda.
"Enggak. Enggak lama. B-bentar lagi." Jantung Paris berdebar saat mendapat godaan dari Biema. Pria ini mengulurkan tangannya menyentuh cekungan antara Kepala dan pundak. Kemudian mengecupnya di sana. Biema tidak mengindahkan penolakan. Paris mencoba menahan diri dari kenikmatan yang di tawarkan.
"Ishh. Berhenti Biema ...," tolak Paris dengan kesal karena konsentrasinya buyar. Dia yang mulai bisa mengendalikan diri, kini kembali gugup karena Biema kembali mendekatkan tubuhnya bahkan melakukan hal lain.
Dengan kesal Paris segera memutar tubuhnya dengan cepat menghadap Biema. Dia ingin menghalau pertanyaan Biema dan protes dengan perlakuan Biema. Tugasnya meracik minuman menjadi lambat juga karena pria itu bertelanjang dada memamerkan tubuh atasnya.
Paris baru sadar bahwa pria ini justru mendekatkan tubuhnya saat dia berhasil memutar tubuhnya. Karena kini mereka saling berhadapan, gadis ini bisa merasakan tonjolan di balik handuk itu. Paris melebarkan mata melihat bawah perutnya. Lalu ia mendongak melihat Biema. Mata itu ternyata sudah berkabut seraya menatapnya lekat. Lebih membara di bandingkan pertama melihatnya.
__ADS_1
Paris terdiam.
"Kamu enggak bisa menahannya, ya?" tanya Paris Iba. Dia yang akan protes karena Biema terus membuatnya gugup kini berganti menjadi iba. Bibir Biema tersenyum dengan sendu. Seakan mengiyakan, tapi juga dilema.
Paris menghela napas. Bola mata Biema menunduk ke bawah. Gadis ini mulai menggerakkan jarinya. Berjalan perlahan di atas kulit Biema. Dari bawah bahu tegap hingga ke dada bidang. "Apa tidak akan sakit jika melakukannya lagi?" tanya Paris tiba-tiba dengan polos.
"Aku tidak mengerti soal itu. Aku ingin, tapi juga takut," lirih Biema. Tangan Biema menyentuh pinggang Paris.
"Bagaimana kalau ... aku juga ingin, tapi takut?" Biema melebarkan manik matanya terkejut saat mendengar pengakuan gadis ini. Apalagi saat jari Paris mulai turun melewati otot perut six pack-nya. Napasnya tertahan dengan apa yang di lakukan Paris sekarang. Biema hendak menjawab yang justru menjadi erangan tertahan karena jari-jari gadis ini mulai turun dan melewati garis handuk dan memainkan jarinya di sana.
"Arggh!" erangan nikmat meluncur dari bibir Biema. Suasana syahdu pun tercipta. Biema langsung meraih belakang kepala Paris dan membenamkan ciumannya pada bibir gadis ini.
Siang mulai habis berganti sore hari. Gelap juga perlahan menutupi langit dengan mendungnya yang tiba-tiba datang. Rintik-rintik hujan yang perlahan turun menambah estetika pada bumi. Dua anak manusia yang kini benar-benar merasakan cinta, sedang bermain dengan hasratnya.
Mereka masih berada di pantry saat usai melakukannya. Tubuh Paris masih duduk di atas meja pantry sementara Biema berdiri sambil memeluknya.
"Aku ... lelah ...," lirih Paris dalam pelukan Biema. Kalimatnya terpotong-potong karena tubuhnya lunglai. Berbeda dengan pria ini yang masih saja berstamina meskipun sudah beberapa jam melakukannya. Biema mengecup pucuk kepala istrinya dengan sayang.
"Maaf. Sebaiknya aku gendong kamu ke kamar. Kamu bisa bebas beristirahat di sana" ujar Biema. Paris hanya mengangguk tanpa mampu lagi bicara. Tubuhnya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi saking letihnya. Biema mengerti.
Biema merebahkan tubuh Paris di atas ranjang kamarnya. Lalu mengambil pakaian dalam di dalam kamar Paris untuk di gunakan istrinya. Setelah menyelimuti tubuh Paris, Biema kembali ke pantry. Merapikan pakaian istrinya yang berserakan di lantai. Menyeruput coklat yang sudah dingin untuknya tadi.
Terdengar suara ponsel berdering. Nama Fikar muncul di sana.
"Halo, ada apa?" tanya Biema tanpa basa basi.
__ADS_1
"Mela akan ke apartemenmu."
"Sekarang?" tanya Biema terkejut.
"Ya."
"Kenapa dia masih mau ke sini?" tanya Biema tidak setuju.
"Aku tidak tahu."
"Apa urusan di kantor belum selesai?" tanya Biema gusar. Saat ini ia tidak ingin menemui siapa-siapa. Dia hanya ingin membereskan kekacauan di pantry tadi lalu membersihkan diri. Kemudian kembali ke kamar untuk menemani istrinya yang kelelahan.
"Selesai. Dia hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu mungkin. Atau basa basi lainnya."
"Tidak. Aku tidak menerima tamu sekarang."
"Tapi, Biem ...." Terdengar suara bergemerisik di ponsel Fikar. Entah ada apa di sana.
"Aku berada di depan gedung apartemenmu, Biem," ujar Mela menggantikan suara Fikar. Biema terkejut karena itu tiba-tiba. Ini sempat membuat Biema tidak yakin bahwa itu ponsel Fika. Dia perlu menjauhkan ponsel dari telinga sebentar kemudian menatap layar ponsel. Meyakinkan diri bahwa itu nomor kontak Fikar. Rupanya benar. Biema kembali mendekatkan ponsel pada telinganya.
"Ada apa Mela?"
"Aku akan ke atas sekarang," ujar Mela tidak menjawab pertanyaan Biema.
__ADS_1