Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
[ Extra part ] Terpesona


__ADS_3

Fikar menghela napas tidak bisa menang melawan Biema.


 


"Terserah kalian, tapi aku mohon dengan sangat ... Tolong jangan melakukan kemesraan yang mencolok saat ada aku," kata Fikar geram.


 


"Kamu iri?" tanya Biema seperti meledek. Paris memukul pelan lengan suaminya. Dia tidak mau ikut-ikutan meledek Fikar.


 


"Iya. Puas?" sahut Fikar geram. Ia mengaku untuk menghentikan candaan atasan sekaligus temannya. Biema tersenyum merasa menang.


 


"Baiklah. Ada apa?"


 


"Aku sudah buatkan, surat perjanjian kerjasama dengan pihak Candika. Kamu bilang ingin menyegerakannya." Fikar menunjukkan berkas di tangannya.


 


"Oh, ya. Berikan padaku," pinta Biema. Fikar berjalanan mendekat ke meja dan menyerahkannya. "Ada lagi?"


 


"Tidak. Lanjutkan saja kegiatan kalian, aku akan keluar," ujar Fikar sanan sedikit mencibir. Biema tersenyum. Paris pura-pura merapikan. rambutnya.


 


...***...


 


Seperti yang sudah di janjikan Biema. Ia akan mengajak istrinya jalan-jalan. Setelah waktu bekerja usai, Biema dan Paris tidak langsung pulang ke rumah. Mereka sedang berkeliling kota.


 


"Kita cari makan dulu?" tawar Biema.


 


"Makan di alun-alun kota saja. Sekalian jalan-jalan di sana," pinta Paris.

__ADS_1


 


"Boleh." Biema mengabulkan. Tempat ini selalu jadi tempat yang penuh kenangan. Sebenarnya ini tempat favorit kakak iparnya Paris. Namun Paris jadi ketagihan. Dia pun mengajak Biema untuk terbiasa dengan tempat ini.


 


Setelah memarkir mobil, mereka jalan menuju ke area penjualan makanan lokal.


 


"Hmm?" Biema menunjukkan lengannya yang siap untuk Paris. Bibir Paris tersenyum geli. Pria ini ingin ia memeluk lengannya.


 


"Iya. Aku akan melingkarkan lenganku di sini dan memeluknya." Paris tahu itu. Tanpa di minta sebenarnya ia akan melakukannya. Namun pria ini dengan wajah imutnya meminta.


 


Mereka pun berjalan bergandengan.


 


"Mau makan apa?" tanya Biema sambil membetulkan anak rambut istrinya.


 


 


Setelah kenyang makan nasi, Paris tertarik dengan buah-buahan beraneka warna yang ada di booth container kekinian.


 


"Aku mau buah," tunjuk Paris ke arah etalase.


 


"Ayo, ayo. Buah segar. Buah segar." Abang yang melihat Biema langsung menjajakan jualannya dengan semangat. Biema dan Paris mendekat.


 


"Kamu mau buah apa?" tanya Biema.


 


"Mmmm ... pertama makan mangga. Yang manis ya, Bang." Paris langsung request pada abangnya.

__ADS_1


 


"Iya. Ini manis semua kok Neng." Abang langsung mengambil buah mangga yang masih belum di kupas. Lalu mengambil pisau dan mengupasnya dengan cepat.


 


"Abangnya ahli kan?" Paris menunjuk ke Abang yang mengupas buah bagai chef pengalaman. Biema mengangguk. Paris terlihat senang melihat ketangkasan memotong buah.


 


Tiba-tiba tangan Biema menutupi arah pandang Paris.


 


"Hei, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Paris terkejut. Abang yang sedang menyiapkan buah mangga untuk Paris juga terkejut dengan kelakuan pria ini.


 


"Aku sedang menyelamatkanmu."


 


"Menyelamatkan apa?" tanya Paris heran.


 


"Dari rasa marah ku."


 


"Ha? Rasa marah? Kenapa kamu marah?" tanya Paris dengan wajah datar tidak mengerti sama sekali. "Tolong singkirkan tangan mu." Paris menyingkirkan tangan Biema yang tepat berada di depannya. Namun Biema kembali menutupi arah pandang istrinya. "Hei, tolong pindahkan tanganmu. Aku enggak bisa melihat, Biem ..." pinta Paris berulang kali.


 


"Tidak."


 


"Tidak? Kamu kenapa sih?" tanya Paris terheran-heran.


 


"Jangan melihat pria lain," ujar Biema seraya menggeram. Paris mendelik.


...___________...

__ADS_1



__ADS_2