Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pulang


__ADS_3

"Paris!" teriak Sandra yang sejak tadi khawatir bagaimana kakak iparnya ini. Kaki Paris berhenti. Menunggu gadis itu yang akan mendekat ke arahnya. Sandra mempercepat langkahnya. Lalu memeluk Paris dengan erat. "Kamu enggak apa-apa?" tanya Sandra begitu cemas.


"Enggak," jawab Paris dalam dekapan adik iparnya. Sandra melepas pelukan itu. Dia tidak mempedulikan keberadaan kakaknya yang berada di sana.


"Gimana semuanya? Gimana?" tanya Sandra begitu menggebu.


"Semuanya baik. Aku bisa kembali ikut ujian."


"Benarkah? Umm ... Senangnya ..." Sandra kembali memeluk Paris. Hanya sebentar kemudian di lepas lagi.


"Semua karena Biema dan Fikar sudah membuat persiapan matang untuk itu. Jadi aku bisa kembali mengikuti ujian susulan." Paris menoleh sebentar ke arah Biema dengan bola mata berbinar. Menunjukkan bahwa pahlawannya adalah pria ini. Biema tersenyum.


"Syukurlah. Aku sempat khawatir kakak enggak datang tadi," ungkap Sandra keceplosan.


"Khawatir? Jadi kamu sudah tahu Biema pasti datang menolongku?" tanya Paris terkejut. Dia tidak tahu soal ini. Paris menoleh pada Biema lagi. Pandangan yang penuh dengan pertanyaan.


"Ya ...." Sandra meringis. "Kak Biema bilang jangan kasih tahu kamu. Jadi aku ya nurut aja." Sandra mengaku.


"Sebaiknya kita segera pulang," ajak Biema memotong pembicaraan mereka. Meraih tangan Paris yang memegang tangan adiknya dan menarik untuk mendekat padanya dengan pelan. "Kita sudah melewati hari yang berat. Segera pulang itu lebih baik." Biema menasehati.


"Iya. Sandra, kita harus pulang. Mereka harus segera nyampai di rumah karena baru datang." Paris mengakhiri percakapan mereka.


"Baiklah, baik." Sandra mengerti.


"Kamu enggak ikut?" tawar Paris.


"Tidak. Kasihan Fikar masih harus berkeliling mengantar aku. Aku akan menunggu sopir rumah saja." Sandra menolak karen tahu mereka pasti lelah.

__ADS_1


"Kalau gitu kita pamit pulang ya," kata Paris.


"Ya."


"Kakak pulang. Hati-hati di jalan Sandra, " pesan Biema pada adiknya.


"Aku tahu. Sudah sana pulang." Sandra menggerakkan tangannya menyuruh mereka segera pergi. Senyumnya mengembang saat melihat punggung mereka dari belakang. Akhirnya masalah Paris sudah usai. Itu sangat melegakan.



Di dalam ruangan masih ada kepala sekolah dan papa Priski. Juga beberapa orang yang menemani beliau.


"Bagaimana kabar sekolah ini, Pak?" tanya kepala sekolah sambil melihat-lihat isi ruangannya yang sedikit berubah.


"Baik. Semua baik," jawab wakil kepala sekolah yakin.


"Sedikit perubahan tidak mempengaruhi kinerja kerja kita. Mungkin justru menjadi sebuah penyemangat," ujar wakil kepala sekolah dengan percaya diri di belakang kepala sekolah. Dia menyadari guru BP sedang terkejut dan sedikit panik di tempatnya berdiri.


"Penyemangat ya ..." Kepala sekolah membalikkan tubuhnya. "Jadi Bapak wakil kepala sekolah menjadi bersemangat dengan merubah ruangan yang sebenarnya bukan ruangan Anda?" Ini sebuah teguran. Mereka yakin kepala sekolah sedang menegur mereka. Guru BP *******-***** tangannya gelisah.


"Ini semua untuk menyambut Bapak." Wakil kepala sekolah sungguh pandai bersilat lidah. Dia berkilah dengan tepat. Bahkan dengan senyuman.


"Begitu ya ... Pasti masih ada banyak hal lain yang sudah Anda siapkan untuk menyambut kesembuhan saya." Pada kalimat ini wakil kepala sekolah diam. Ada hal penting yang mengingatkan dia untuk waspada. Apalagi senyuman kepala sekolah sungguh mencurigakan.


Di ujung lorong sekolah. Biema, Paris dan Fikar hampir mendekati pelataran parkir.


"Kita langsung pulang?" tawar Fikar saat kaki mereka sudah berada dekat dengan mobil.

__ADS_1


"Ya," sahut Biema sambil melakukan gerakan pelemasan otot leher dengan menggerak-gerakkan kepalanya. Paris jadi merasa iba. Mereka pasti lelah. Karena Biema dan Fikar langsung kesini setelah dari lokasi kantor cabang yang sedang bermasalah.


Klik.


Fikar menyalakan kunci yang di pegangnya untuk membuka pintu mobil. Biema membukakan pintu belakang untuk Paris. Selanjutnya dia ikut masuk.


"Kalian langsung ke sini tanpa pulang dulu, ya?" tanya Paris. Biema mengangguk lemah. Pasti sangat lelah harus menyelesaikan masalah ini. Paris melihat Fikar dengan iba. Setelah menyetir semalaman dari kota lain menuju ke sini, dia masih harus mengantar dia dan Biema. Juga harus berdebat dengan wakil kepala sekolah. "Fikar pasti lelah menyetir." Mendengar kata perhatian ini Biema melirik. Fikar yang barusan duduk mendengar itu.


"Ya, tapi dia yang paling lelah, bukan aku." Fikar mengatakan itu sembari bersiap menyalakan mesin. Paris menoleh ke samping sebentar. Ke arah Biema. Lalu menoleh ke depan lagi karena Fikar masih lanjut bicara. "Meski aku bertugas menyetir dari kantor cabang ke sini, tapi aku enggak punya beban apa-apa. Lelah ya hanya cukup lelah saja. Beda sama Biema yang sepanjang jalan gelisah memikirkan kamu yang sedang memendam masalah ini sendirian. Gelisah karena mobil ini tidak bisa segera sampai di sekolah karena ingin segera bertemu denganmu." Fikar mengungkap apa yang terjadi beberapa jam sebelum sampai di sekolah.


Bola mata Biema melihat lurus-lurus ke depan mendengar Fikar bicara. Lalu menarik ulang tatapan tajamnya. Dia pikir Fikar tidak akan mengatakan hal-hal semacam itu. Lalu menghela napas saat Paris langsung menoleh ke arahnya lagi dengan cepat. Kini dia tahu bahwa Paris sedang menatapnya. Terasa aneh karena gadis itu menatapnya lama.


"Maaf ...," ujar Paris tiba-tiba. Wajahnya memandang Biema sayu.


"Kenapa malah bilang maaf? Bukannya seharusnya bilang terima kasih ..." Biema menatap Paris dengan bibir tersenyum bermaksud bercanda. Namun saat kepala Paris menggeleng dengan wajah sendunya, Biema terdiam.


"Tidak. Pertama yang aku katakan harus maaf, lalu terima kasih. Maaf sudah buat kamu khawatir," ujar Paris merasa bersalah. Fikar melirik dari balik kaca kecil di atasnya. Melihat apa yang sedang terjadi di bangku belakang sekarang.


Tangan Biema terulur menyentuh kepala gadis ini. Lalu mengusapnya pelan. Paris terkesiap. Karena usapan ini, dia jadi ingin menangis karena merasa sudah membuat beban pria ini bertumpuk tadi. Biema menangkap gelagat itu. Ia langsung meraih bahu gadis itu dan menyandarkan pada dadanya agar bisa memeluknya.


"Kenapa menangis? Aku enggak apa-apa. Jadi kamu enggak perlu minta maaf apalagi menangis Paris," ucap Biema menenangkan. Fikar menundukkan pandangan dari kaca spion di atasnya dan memfokuskan pandangan ke depan. Ke arah jalanan yang ramai.


"Enggak. Aku salah. Aku keliru enggak kasih tahu kamu soal ini," ucap Paris sesenggukan. Air matanya meleleh di dada bidang Biema.


"Aku mengerti. Kamu sengaja tidak memberitahuku karena takut aku terbebani oleh dua masalah yang datang bersamaan. Kamu keras kepala ingin menyelesaikan sendiri karena peduli denganku," ucap Biema yang kian membuat Paris menangis. Biema jadi perlu memeluk tubuh gadis ini lebih erat.


Fikar ikut menghela napas. Sedikit menyesal mengungkapkan hal tadi. Itu dia lakukan karena Paris justru mengatakan kata-kata perhatian yang di tujukan kepadanya bukan pada Biema. Itu bisa membuat pria itu menatapnya tajam sepanjang perjalanan.

__ADS_1



__ADS_2