
Setelah keberangkatan Biema, Paris yang masih belum bisa mengikuti ujian terpekur di sofa. Menonton acara televisi yang menurutnya tidak menarik. Setelah tadi membuat makanan dengan bahan seadanya dari dalam lemari pendingin, kini ia merasa bosan tinggal di rumah. Ia ingin keluar.
Sekarang dia sedang berpikir mau kemana dengan tujuan apa.
Bola matanya beredar ke seluruh penjuru apartemen. Mencari kesibukan yang sekiranya menyenangkan. Bersih-bersih? Itu ide yang tidak menarik buat Paris.
"Aku buat jus dulu aja. Mungkin setelah itu mendapat ide untuk melakukan sesuatu." Paris beranjak dari sofa menuju meja pantry. Mengambil buah kegemaran mereka berdua di atas wadah. Hanya tinggal dua buah.
"Enggak jadi. Mau potong potong saja." Paris tiba-tiba mengganti idenya. Ide awal tidak di realisasikan. Dia lagi mode malas ribet. Kini gadis ini justru ingin membuat yang lain dengan bahan yang sama. Setelah di kupas dan di potong panjang, Paris mengambil cokelat bubuk. Kemudian menaburkan di atasnya. Cukup banyak. Karena ini favoritnya.
Setelah itu dia membuka pintu lemari pendingin ini perlahan. Kata hati bermaksud hanya ingin mengambil nata de coco. Namun setelah Paris menengok ke dalam lemari pendingin, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Isi lemari pendingin mulai menipis. Dari sini Paris mendapat ide untuk mengisi waktu kosong yang membosankan. Yaitu dengan ... shopping.
"Oke. Jadi aku berbelanja saja. Sudah lama enggak berbelanja. Apalagi sendirian. Ini akan memberi fresh pikiranku," ujar Paris yang bangkit dari merunduknya. Kini ia menyendok buah alpukat itu perlahan. Setelah yakin puas dengan beberapa suapan, dan segera menuju ke kamar tidur. Ganti baju juga mencari kartu kredit milik Biema yang di berikan padanya. "Oh, ya. Lebih baik aku menghubungi Sandra. Mungkin saja dia mau ikut. Sepertinya ini sudah jam selesai ujian." Paris menekan nomor kontak saudara iparnya.
Setelah semua siap, Paris berangkat dengan memesan mobil online.
Ini sudah agak siang. Sekitar jam 11. Mungkin anak-anak sekolah sudah selesai mengerjakan ujian sekolahnya. Ini hari terakhir. Kemungkinan bertemu banyak anak-anak sekolah lebih besar. Paris berangkat menuju mall milik keluarganya. Meskipun begitu, dia tidak harus memberi tahu kakaknya atau siapa saja jika dia datang berkunjung.
Betul sekali dugaan Paris. Banyak anak sekolah masih memakai seragam berkeliaran di dalam mall. Meskipun tidak tahu mereka akan lulus dengan nilai baik atau tidak, setidaknya sekarang mereka bisa membuat otak santai setelah berjuang mengerjakan ujian nasional.
__ADS_1
Paris berjalan masuk semakin dalam ke area mall. Bertujuan mendatangi freshmart guna mengisi sedikit sayuran di dalam kulkas. Mungkin lebih segar bila belanja di pasar tradisional karena mereka membawa langsung dari petaninya. Namun ini sudah siang. Pasar tradisional sudah tutup. Kalaupun masih ada, isinya tidak akan lengkap. Lagipula Paris belum pernah berangkat ke pasar tradisional sendirian.
Kepalanya yang sedang menoleh ke kanan kiri untuk melihat suasana tertambat oleh sesuatu. Dimana seseorang sedang duduk di salah satu outlet makanan.
"Apakah aku hanya sedang teringat- ingat sama Priski? Kenapa itu perempuan mirip dengannya?" Bola mata Paris menyipit. Berusaha fokus melihat ke arah outlet. Namun akhirnya dia menyadari sesuatu. "Ih. Enggak banget kalau aku harus selalu ingat dia. Mending teringat kejadian semalam ... daripada harus mengingat wajah tuh anak." Mendadak ia tersenyum sendiri ingat hal itu. "Gila. Aku tersipu dan malu jika ingat itu. Busyet dahhh ..." Paris menggelengkan kepala. Membuyarkan pikirannya yang sedikit menerawang. "Enggak bagus juga jika ingat begituan di sini ..." Paris meringis menyadari dia sedang di tempat umum. Kakinya segera melangkah pergi menuju ke freshmart.
Trolly belanjaan sudah berada di tangannya. Kini ia tinggal meluncur mencari bahan-bahan yang ia butuhkan. Langkahnya ringan seringan bulu. Tidak pernah ia merasakan kedamaian seperti ini. Apakah ini karena dia sudah mengalami malam yang aduhai itu? Entahlah ...
Pertama-tama Paris menuju ke rak tempat sayur berada. Saat pertama kali melihat area ini, ia takjub akan display sayuran. Beragam sayuran di kelompokkan berdasarkan jenis kemudian di susun lagi dengan warna yang sama. Sungguh menakjubkan. Paris teringat sama Sandra. Jika gadis itu sekarang bersamanya, dia pasti akan meminta foto dengan background warna-warni sayuran di belakang mereka.
Tangan Paris terulur menyentuh wortel berwarna oranye segar. Ujung bibirnya tertarik. Kepalanya mengangguk. Seakan mengerti bahwa wortel yang di pegangnya punya kualitas bagus. Lalu memasukkan ke dalam trolly belanjaan. Setelah itu, Paris beralih ke sayuran yang lain. Brokoli hijau. Dia tidak suka rasa sayuran itu. Seperti makan rumput. Rasa dedaunannya begitu menyengat. Entah bagi orang lain, tapi bagi Paris rasa brokoli hijau aneh. Namun dia ingin mencoba.
Setelah puas mengisi troli belanja dengan beberapa sayuran, dia mendatangi rak buah. Display buah ini begitu menggiurkan. Ada satu etalase dingin berisi buah potong yang di taruh dalam berbagai macam tempat. Tubuh Paris menggeliat gemas melihat buah potong yang menggiurkan itu.
"Sepertinya brokoli hijau bukanlah sayur kesukaanmu," ujar seseorang mengomentari isi troli belanja milik Paris. Gadis ini menoleh cepat. Karena informasi soal kesukaannya bukanlah hal yang bisa di ketahui oleh khalayak umum dia ingin tahu siapa itu.
Bibir pria itu tersenyum, saat Paris sudah melihat ke arahnya.
"Hai, Paris," sapa Lei. Paris tidak segera menjawab, dia masih mengerjapkan mata sebelum akhirnya menyahuti sapaan pria muda ini.
"Hai, juga," sahut Paris sambil tersenyum. "Kenapa bisa muncul di sini?" tanya Paris merasa mendapat kejutan.
__ADS_1
"Iya. Ini jam makan siang. Semua bebas keluar saat jam istirahat." Kak Lei memberitahu. Paris mengangguk membenarkan. Lalu tertawa kecil.
"Makan siangnya kok di sini? Bukannya harusnya cari tempat makan." Kepala Paris menoleh ke sekitar. Sekedar menunjukkan bahwa tempat ini bukanlah tempat yang tepat untuk makan. Karena hanya berisi bahan mentah juga buah-buahan.
"Sengaja," ujar Kak Lei sambil tersenyum. Dia yang tidak sengaja melihat Paris jadi ingin membelokkan kaki untuk menyapa gadis ini. Paris hanya mengangguk saja tidak mengerti maksud Lei. "Kabarmu sehat?" tanya Lei lagi.
"Ya. Aku tetap sehat."
"Bukannya sekarang ujian nasional, ya ..." Lei ingat kalau hari ini ada ujian nasional bagi murid SMA.
"Ya. Memang begitu. Sekarang memang waktunya ujian." Paris hanya bisa menanggapi kalimat Lei dengan kalimat datar seperti itu. Karena dia sendiri belum menyelesaikan ujiannya. Tidak mungkin dia mengungkap apa yang sedang terjadi padanya, bukan?
"Jadi ... Kamu pulang dulu terus langsung kesini?" tanya Lei. Mungkin sedikit aneh melihat gadis ini sudah di sini dengan pakaian bebas. Karena di luaran tadi masih banyak anak sekolah memakai seragam.
"Hahaha ... benar." Paris ketawa menyembunyikan fakta sebenarnya. Tertawa sedikit garing.
"Sendirian? Enggak sama Sandra?" tanya Lei melihat sejak tadi tidak ada seorangpun yang mendekati gadis ini. Jika begitu, di pastikan dia sendirian.
"Sayang ... Kamu sudah selesai belanjanya?" tanya seseorang mengejutkan. Membuat Paris urung menjawab pertanyaan Lei.
__ADS_1
.