
"Tidak ku sangka bisa menemukanmu di sini," ujar Paris. Gadis itu mendongak. Wajahnya masam saat tahu siapa yang menegurnya. Bibirnya menipis. Sebenarnya Paris juga seperti itu. Namun dia mencoba berdamai dengan keengganannya pada gadis ini.
Lalu Priski ikut mendekat ke cermin. Tangannya mengaduk tas kecil untuk mencari sesuatu. Rupanya sebuah lipstik. Dia bersikap tidak pernah ada suatu masalah di antara mereka. Paris tidak melanjutkan obrolan. Dia kembali fokus untuk merapikan diri.
"Senang ya, mendapat bantuan dari kepala sekolah?" kata Priski sambil memoles bibirnya dengan lipstik. Ada nada mengejek di sana. Ternyata gadis ini diam bukan untuk berhenti mengganggu Paris. Dia masih punya stok kosa kata untuk mengganggu. Bibir Paris tidak menjawab. "Ternyata semudah itu kamu keluar dari masalah."
"Kamu kan, yang berulah soal semuanya?" tanya Paris kemudian. Priski melirik sebentar. "Aku tahu semua berita tidak sedap itu berasal dari mulutmu. Soal sebutan cewek panggilan itu terutama."
"Aku hanya bicara sedikit, tapi mereka langsung menyimpulkan dengan panjang dan lebar. Bukan salahku, kan?" Priski mengedikkan bahu merasa tidak bersalah. Lalu kembali memoleskan gincu berwarna merah di bibirnya.
"Akhirnya kamu mengaku kalau kamu yang memulai." Paris mendapat jawaban iya. Priski mendengus. Kemudian dia bercermin lagi.
"Lagipula ... menikah di saat masih sekolah itu pelanggaran. Kamu itu sudah melanggar peraturan sekolah, tahu. Seharusnya tahu diri dan jangan berlagak." Priski mengatakan dengan tepat. Paris berdecih karena itu adalah fakta. Dia tidak bisa membalas mulut gadis ini karena benar. "Jadi apa yang di bicarakan anak-anak di sekolah itu benar. Aku tidak salah. Kamu itu sudah menikah. Semua wajib tahu dong ada siswi yang melanggar peraturan sekolah." Priski masih mematut diri di depan cermin.
Paris menghela napas. Lalu melihat ke arah gadis ini melalui cermin. "Memang. Kamu memang tidak bersalah. Kamu hanya mengatakan kebenaran." Mendengar Paris membenarkan dirinya, bibir Priski tersenyum sinis. Merasa menang. "Namun perlu kamu ingat juga ... mengambil fotoku secara sembarang tanpa ijin lalu menyebarkannya adalah kesalahan. Kamu melanggar hukum, Priski," desis Paris. "Aku juga bisa memperkarakan pencemaran nama baik."
Mata Priski melebar sekejap barusan. Kemudian berdehem barusan. Sedikit gugup. Mungkin juga mengumpat di dalam hati.
"Tidak perlu berlebihan. Toh, semuanya kembali seperti semula. Kamu juga sudah bisa mengikuti ujian bukan? Apalagi yang harus di permasalahkan." Priski ingin kabur dari kegemparan yang sudah ia buat. Meskipun apa yang di katakan benar, tapi sikapnya yang tidak merasa kejadian itu sudah mampu membuat semua orang sekolah membenci Paris, menyebabkan gadis ini terlihat sangat menyebalkan.
"Kamu ini ..." desis Paris heran.
"Dimana banyak cewek masih giat belajar, ternyata kamu sudah belajar tentang hal lain," ujar Priski dengan mata memutar menyiratkan sesuatu. "Hahaha ..." Kemudian terdengar suara tawa yang mencela Paris dengan sangat kentara. Paris menggeram di dalam hati. Ingin rasanya mencakar-cakar wajahnya agar tidak mulus lagi.
__ADS_1
"Aku tidak tahu maksud kamu soal belajar tentang hal lain itu." Paris mengatakan itu dengan santai sambil mematut di cermin.
"Jangan berlagak polos deh," ujar Priski dengan wajah di tekuk.
"O ... Jadi kamu paham, apa yang di maksud dengan belajar tentang hal lain itu?" Paris bicara dengan tenang. Ini membuat Priski kebakaran sendiri.
"Aku tahu kamu berlagak bloon. Semua orang menikah pasti melakukannya. Jangan sok enggak ngerti. Kamu pasti sudah melakukannya. Melakukan dengan pria itu." Priski berusaha memojokkan Paris. Gadis ini diam.
"Jadi kamu tahu apa yang aku lakukan dengan suamiku?" kata Paris sengaja memancing.
"Tentu saja." Priski yakin dengan jawabannya.
"Oke. Aku memang sudah melakukannya. Lalu kenapa? Bukannya suami istri, tidak salah melakukan itu. Hmm ... Aku rasa kamu bukan amatiran. Kamu pasti juga pernah melakukannya. Bahkan dengan pria yang belum menjadi suamimu," ujar Paris seraya mendorong bahu Priski pelan.
"Apa maksudmu?" Priski terkejut dengan kalimat Paris. Lalu menghalau jari Paris dari bahunya.
"S-sialan! Jangan sembarangan, ya!" Priski naik darah. Paris tersenyum manis.
"Tidak perlu marah. Kamu juga tidak perlu panik. Karena jika memang kamu tidak seperti itu, aku tidak akan bisa menemukanmu kok," ujar Paris makin gencar membuat Priski tidak tenang. Gadis itu menghela napas dan kembali bercermin. Membuang rasa gelisahnya dengan membubuhkan bedak pada wajahnya tipis-tipis.
"Bukankah membanggakan, saat kamu berhasil menggaet pria tampan?" tanya Priski masih dengan sikap tidak menyenangkan.
"Oh, ya. Suamiku memang tampan," sahut Paris membuat Priski menoleh heran dengan sikap percaya diri gadis itu.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka bahwa kamu sengaja memamerkan suamimu." Priski menggelengkan. Paris mengangkat bahu acuh tak acuh.
"Bukannya kamu dulu, yang memamerkan pria yang sekarang jadi suamiku itu?" kata Paris. Priski mengernyitkan dahi.
"Apa maksudmu?"
"Kamu lupa, siapa dia?" tanya Paris membuat gadis ini makin penasaran. Priski terdiam mendengar pertanyaan Paris. Merasa tidak mengerti. "Dialah pria yang kamu foto untuk membuat gosip di sekolah soal aku."
"Pria di foto?" tanya Priski terkejut. Paris tersenyum tipis dengan bangga. Bola mata Priski melebar. Itu membuatnya senang. Ternyata Priski belum paham kalau yang ada di foto itu adalah pria yang sekarang jadi suami Paris.
"Yep. Itu dia." Paris melakukan pulasan tipis terakhir untuk wajahnya dan berbenah untuk pergi. Wajah Priski masam lagi. Dia jadi paham mengapa Paris tidak terpengaruh dengan gosip murahan yang ia buat. Karena Paris sadar bahwa ia sedang bersama suaminya saat di foto oleh orang suruhannya.
Sial.
"Lebih baik jangan berulah lagi, Priski. Karena suatu saat kamu akan mengalami apa yang sudah kamu lakukan padaku," pesan Paris.
"Enggak usah sok-sokan menasehati, deh." Priski geram.
"Oke. Aku mungkin masih mengasihimu karena semua hal yang kamu lakukan belakangan ini padaku. Namun entah nanti. Aku harap sih enggak ketemu kamu lagi saat lulus. Eneg sendiri lihatnya. Sudah, aku pergi. Jaga baik-baik diri kamu agar enggak dapat karma karena aku membiarkanmu," desis Paris tepat di dekat telinga gadis itu. Lalu melenggang pergi.
Setelah Paris pergi, Priski menggeram kesal.
"Sialan. Apa dia tahu apa yang aku lakukan di luaran sana? Jika begitu, bisa gawat jika dia tahu kalau aku itu ..."
__ADS_1
"Priski!" panggil seseorang pria dari luar. Priski tahu siapa itu. Dia segera berkaca sekilas, setelah merapikan isi tas kecilnya.