
Biema tidak pernah tahu kalau seusai penyatuan seringkali pinggang dan punggung terasa sakit. Namun sebagai pria dewasa dia pernah mendengar soal ini dari orang lain. Rasa bersalah sempat hinggap di hatinya. Karena sakit pinggang Paris mungkin di sebabkan olehnya tadi malam.
"Sebaiknya kamu tiduran saja. Aku akan membuat kompres hangat untuk pinggangmu," ujar Biema.
"Aku mau buat sarapan untuk kamu." Niat awal Paris memang membuat sarapan, tapi itu belum terlaksana lantaran dia terus menerus teringat kejadian semalam. Hingga akhirnya pinggangnya terasa sakit lagi saat Biema memeluknya.
"Tidak perlu. Ayo, aku antar tidur." Biema mengantar Paris ke kamarnya. "Untuk kali ini saja kamu boleh tidur di kamarmu. Nanti setelah aku membereskan kamar yang berantakan itu, kamu harus selalu tidur di sana. Di kamar kita."
Paris tidak menjawab. Dia hanya butuh rebahan sekarang. Terakhir, Paris keluar dari kamar pria itu semua memang masih berantakan. Paris membiarkan pria itu masih terlelap dalam kepolosan tubuhnya. Dia segera kabur dari sana dengan kaos milik pria ini. Karena Biema membawa dirinya tanpa apapun yang melekat di tubuhnya saat itu.
Biema kembali dari luar membawa kompres hangat. Dengan tidur tengkurap, Paris mulai di beri kompres hangat pada pinggangnya.
"Aku akan membereskan kamar yang berantakan karena kita semalam. Jika ada perlu panggil saja." Paris mengangguk dengan rona malu yang muncul sebab secuil kalimat Biema yang membahas tadi malam. Biema tersenyum melihat cuping telinga Paris memerah. "Aku tidak menyangka secuil kejadian semalam membuatmu tersipu," goda Biema.
"Tolong jangan di bahas lagi," pinta Paris tertahan. Pria ini memang sedang meledeknya
"Baiklah. Aku akan membereskan kamar." Setelah berpamitan, dia keluar dari kamar menuju ke kamarnya sendiri. Selimut dan sprei masih amburadul dan acak-acakan. Setelah tangannya sibuk mencari sosok Paris di sampingnya, dia segera bangkit dari ranjang dan menuju ke kamar mandi. Dia sengaja membiarkan semuanya masih tidak beraturan karena ingin segera bertemu dengan Paris.
Bibirnya tersenyum geli membayangkan kemungkinan dirinya menjadi liar semalam.
Ketika membereskan selimut berwarna biru langit itu, dia menemukan bekas noda merah yang mulai menghitam. Dia tidak perlu mencari tahu apa itu karena itu pasti milik Paris. Biema melipat semuanya jadi satu dan meletakkan di pinggir dekat dinding. Kemudian merapikan ranjang. Ketika itu ponselnya yang ternyata ada di atas nakas berbunyi.
Biema mendekat dan mengambilnya. Terlihat nama Fikar di sana.
"Ada apa?" tanya Biema.
"Hari ini kamu datang ke kantor?" tanya Fikar menggebu.
"Eee ... Ya." Biema kembali ragu karena dia ingin menemani Paris lagi. Namun itu tidak mungkin. Dia memang harus berangkat ke kantor hari ini.
"Oke. Ngomong-ngomong, apa Paris akan ujian hari ini?"
__ADS_1
"Tidak. Sepertinya baru besok."
"Oh, begitu. Ya sudah. Aku tunggu kamu di kantor. Jangan tidak muncul tanpa kabar seperti kemarin," ancam Fikar.
"Jadi kamu mengancamku?"
"Iya. Walaupun kau bosnya, setidaknya memberi kabar yang jelas padaku agar aku bisa memberitahu yang lain jika bertanya."
"Memangnya siapa yang bertanya?" tanya Biema sambil merapikan bantal dan guling. Ponsel ia jepit di antara bahu dan telinga.
"Mela."
"Oh dia. Tumben kamu bingung saat dia bertanya."
"Karena saat aku bilang kamu mungkin sakit karena habis dari luar kota, dia ingin datang ke apartemenmu."
"Kenapa tidak bilang kalau aku sedang berdua dengan istriku?"
"Aku tidak mau bicara soal itu. Mungkin itu terkesan aku sedang mengomporinya. Aku tidak mau begitu."
"Pokoknya aku tidak mau sengaja membahas kalian berdua di depan Mela. Itu urusan kamu. Sudah, aku tutup." Biema meletakkan kembali ponsel itu di atas nakas. Dia ingin segera membereskan ranjangnya agar rapi.
Di kamar, Paris sedang menatap dindingnya dengan termenung. Kompres air hangat masih tetap berada di pinggangnya. Sesekali dia menggelengkan kepala seperti mengusir sesuatu yang bercokol di otaknya. Paris bukannya tidak pernah dengar soal malam pertama, tapi jika itu terjadi pada dirinya sendiri ... semua hal yang pernah ia dengar jadi buyar. Dia yang masih sekolah sudah merasakannya sendiri. Kejadian itu serasa mimpi.
Bila di ingat lagi obrolan dari anak-anak yang tidak sengaja ia dengar, tidak ada kejadian punggung sakit seperti ini jika melakukan malam pertama, tapi ... yang ia rasakan sedikit berbeda.
Biema melintas di depan pintu kamar Paris yang terbuka. Dia baru saja membungkus selimut dan sprei untuk di bawa ke penatu. Kakinya berhenti sebentar untuk melihat gadis yang akan beranjak menjadi seorang wanita. Kini ia melangkah masuk mendekatinya.
"Aku ganti kompresnya?" tawar Biema membuat Paris terkejut.
"T-tidak. Kamu belum bersiap-siap ke kantor?" tanya Paris heran melihat Biema masih dengan kaos yang di pakainya tadi.
"Iya. Aku masih menyiapkan sarapan untukmu."
__ADS_1
"Enggak usah, Biem. Aku bisa kok buat sendiri. Kamu bisa segera bersiap-siap untuk berangkat ke kantor," cegah Paris.
"Pinggang kamu sakit, Paris ..."
"Iya ... tapi bentar lagi juga sehat kok. Jangan cemas. Sakit ini tidak akan lama," ujar Paris berusaha meyakinkan. Biema tergelak.
"Tahu darimana kamu, jika sakit pinggangmu itu segera sembuh?" tanya Biema ingin menggoda Paris. Karena dia yakin Paris baru saja merasakan itu.
"Eee ... pokoknya gitu," jawab Paris asal. "Masa kamu enggak doain aku? Harusnya kamu doain aku cepat sembuh dong ..." Paris segera ganti memojokkan Biema.
"Tidak mungkin aku enggak doain kamu.Aku selalu berharap kamu dapat apapun yang terbaik. Termasuk soal kesehatanmu." Biema selalu berkata dengan segala kelembutannya dalam kalimat yang indah. Jika begini Paris harus diam. Dia selalu kalah jika Biema mengatakan sesuatu seperti itu soal dirinya.
"Sudah. Siap-siap, gih. Kamu harus kerja kan?"
"Iya. Nanti akan ada orang dari penatu ambil sprei dan selimut. Jadi aku sudah bungkus itu semua dalam satu tempat. Kamu tinggal ngasih ke orangnya." Paris mengangguk. Setelah itu menatap punggung pria itu yang menjauh dari kamar tidurnya.
Biema menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri lagi. Setelah membersihkan kamar, dia lumayan berkeringat.
"Paris, aku berangkat," ujar Biema muncul di ambang pintu. Paris menoleh dan mengangguk. Tubuhnya tidak lagi tengkurap. Kini ia duduk dengan bebas. Rasa sakit tadi lumayan hilang.
"Ya."
"Telepon aku jika ada perlu."
"Aku usahakan tidak merepotkanmu," pangkas Paris yang memang keras kepala. Biema yang mulai hapal sifat gadis ini menghela napas.
"Jika sudah berusaha sendiri, tapi kamu masih memerlukan sesuatu, telepon aku." Biema berusaha keras mengatakan pada Paris untuk meminta bantuan padanya. "Kamu bisa mengandalkan aku."
"Ya ... Aku tahu."
"Aku berangkat sekarang."
"Ya. Hati-hati." Baru saja pria itu berpamitan pergi, beberapa detik kemudian dia sudah muncul lagi di depan Paris. Ini membuat gadis ini mengerjap heran. "Ada yang lupa?" tanya Paris. Biema tersenyum. Lalu mendekat tanpa menjawab. Ini membuat Paris bingung. Mendadak memeluk Paris tanpa aba-aba.
__ADS_1
"Jaga diri baik-baik," ucap Biema lirih membuat Paris membeku. Setelah melepas pelukannya, Biema mengecup kening Paris.