
Paris menoleh dengan cepat ke asal suara yang menurutnya tidak asing. Pria itu tersenyum seraya mendekat ke arah Paris dan Lei yang berdiri.
"Biema!" seru Paris terperangah. Biema muncul dengan Fikar di sampingnya.
Kenapa pria ini bisa ada di sini? Bukannya dia sedang ada di kantornya ... keluh Paris.
"Sudah selesai belanjanya, sayang?" Biema mengulangi lagi pertanyaannya guna mendapatkan jawaban pasti dari Paris.
"Y-ya," sahut Paris tersendat pada akhirnya.
Kemunculan pria ini saja sudah membuat Paris heran, apalagi kata sayang yang di tempelkan di depan kalimat pertanyaan tadi. Ini sungguh mengagetkan.
Gadis ini bukan tidak mendengar, hanya saja panggilan sayang belum terbiasa di dengar oleh telinganya. Lagipula Paris masih perlu mengumpulkan jiwanya yang terkejut dengan kemunculan pria ini di sini.
Lei ikut menoleh. Setelah tahu bahwa itu adalah atasannya, dia mengangguk kemudian untuk menyapa.
"Selamat siang, direktur dan senior." Sebagai bawahan yang sopan, Lei harus menyapa atasannya dengan baik.
"Ya," sahut Biema datar dan terkesan dingin. Dia menyahuti Lei tanpa menoleh. "Sudah membeli sayuran yang aku suka?" tanya Biema setelah melihat troli gadis ini berisi sayuran.
"Sayuran?" Paris heran. Jadi dia masih perlu berpikir untuk mencari jawaban. Kepalanya menunduk, hingga pandangannya tertuju pada sayuran di dalam keranjang. "Ini?" tanya Paris seraya mengambil sayur itu dan menunjukkan pada pria ini dengan heran. Fikar yang ikut melihat ke arah sayur warna hijau itu meringis.
"Ya. Itu kesukaanku. Kamu tahu benar apa yang menjadi kesukaan suamimu," ujar Biema begitu jelas sambil tersenyum manis. Fikar menoleh pada Biema dengan bola mata membulat.
Kesukaannya? Yang benar saja. Fikar menggelengkan kepalanya mendengar kalimat pria ini. Sejak kapan dia menyukai sayuran itu?
"Kamu juga membeli wortel? Pasti kamu mau memasak tumis lezat dan sehat untukku. Kamu memang istriku yang manis. Begitu perhatian sama suami," ujar Biema seperti sedang mabuk. Dia meracau. Hingga membuat Fikar melirik Paris. Ingin melihat respon gadis ini.
__ADS_1
Sementara itu Paris sendiri melongo mendengar apa yang di katakan Biema. Dia tidak terbiasa. Biema mengatakan soal memasak? Apakah dia lupa bahwa dirinya tidak pandai memasak?
Biema tidak berhenti menatap. Masih menunggu Paris merespon kalimatnya.
"Ah benar," kata Paris berpura-pura mengerti. Dia mencoba menanggapi kalimat Biema dengan ikut alur yang tengah di buat pria ini. Paris sengaja menyelipkan tawa kecil di sela-sela keterkejutannya bahwa sayur brokoli hijau adalah favorit pria ini. Juga soal dia yang suka memasak untuk suami tercinta.
Dia juga menertawakan diri sendiri karena faktanya adalah ia membeli brokoli hanya karena iseng. Dia sendiri tidak menyukainya. Gadis ini meletakkan sayur itu lagi dalam keranjang.
"Ah, iya. Kak Lei sekarang akan cari tempat untuk makan siang bukan?" Paris mengingatkan mantannya itu agar segera pergi dari sini. "Mumpung jam istirahat masih lama."
Kakak? Biema memandangi Lei dengan kesal. Manis sekali Paris memanggil dia?
"Ya, benar. Aku hampir lupa. Kalau begitu aku pergi. Permisi," kata Lei yang mengerti bahwa dia harus menyingkir dari mereka berdua. Karena sepertinya, atasannya tidak menyukai keberadaannya. Dia paham itu.
"Ya," sahut Paris lega kak Lei mengerti bahwa dia harus pergi. Lei mengangguk pelan pada Biema. Pria ini hanya mengangguk kecil. Kemudian memperhatikan pria muda itu memutar tubuh untuk menuju pintu keluar dari tempat ini.
"Tunggu," cegah Biema. Kaki Lei yang baru sampai beberapa langkah berhenti. Hampir bersamaan, Fikar dan Paris menoleh pada Biema. Kedua mata itu tampak heran. Lei membalikkan tubuhnya lagi menghadap putra pemilik perusahaan tempatnya magang.
"Bisa ikut makan siang dengan kita?" Paris dan Fikar sempat membulatkan mata mendengar itu. Lei diam sejenak. Dia pasti terkejut. Dia tahu Biema tidak menyukainya.
"Maaf. Saya tidak bisa."
"Ini undangan khusus dariku." Paris tidak tahu kenapa Biema seakan memaksa Lei untuk makan siang bersama. Bola mata Paris melirik Lei. Pria itu tampak tenang meski sedikit terkejut. Fikar melirik keduanya. Dia tahu.
"Bukannya Lei sedang janjian dengan orang lain?" tanya Fikar sengaja mengarang cerita juga Dia tidak ingin Biema dan Lei satu meja. Fikar sedikit memberi kode untuk membuat pria ini pergi.
"Tidak senior. Aku tidak sedang ada janji dengan teman," kata Lei yang sepertinya menolak ingin pergi dari sana setelah mendapat undangan yang lebih mengarah ke sebuah tantangan itu. Fikar mengepalkan tangannya merasa gagal menjauhkan mereka berdua.
Paris diam. Dia tidak ingin melakukan apa-apa. Meski aneh, dia yang sudah berusaha mengusir Lei kini memilih diam saja.
__ADS_1
"Baiklah jika Anda memaksa, saya akan menerima undangan makan siang ini," ujar Lei menerima undangan makan siang dari bosnya. Paris menghela napas. Bukan lega. Dia tidak tahu pasti apa yang membuat Biema tiba-tiba muncul di tempatnya belanja. Karena dia juga tidak pernah memberi tahu soal rencana belanjanya ini. Darimana pria ini tahu bahwa Paris ada di sini?
Soal undangan makan juga mencurigakan. Mungkin jika di sana itu bukan Lei, yang mereka tahu bahwa dia adalah mantan Paris .... Undangan makan siang terlihat wajar. Karena Biema adalah atasan yang baik. Namun ini sedikit mencurigakan karena Paris tahu, Biema sempat marah soal Lei ini. Sungguh aneh jika tiba-tiba saja mengundangnya makan siang.
Namun Paris tidak bisa sengaja menunjukkan sikap ragunya kepada orang-orang ini.
"Baiklah. Kita akan makan siang bersama setelah istriku selesai berbelanja," ujar Biema sambil menatap Paris hangat. Paris mengerjap. Membuang raut wajah curiga dan tersenyum. "Kita selesaikan dulu belanjamu."
"Tidak. Ini sudah selesai," ujar Paris cepat.
"Hanya itu?" tunjuk Biema pada isi keranjang belanja istrinya. Paris menunduk. Isinya tidak banyak. Hanya sayuran dan beberapa makanan beku lainnya. Namanya juga tidak pandai memasak. Membeli makanan beku seringkali jadi pilihan utama.
"Ya," bohong Paris.
Sebenarnya masih banyak yang ingin di beli Paris. Seperti buah-buahan yang menggiurkan tadi. Ia belum memilih satupun dari jenis buah yang tertata indah di sana. Namun ia jadi tidak lantaran Biema muncul menyebabkan sedikit ketegangan di sini.
"Baiklah kalau begitu. Kita membayar ini dan segera mencari tempat makan siang," ujar Biema.
"Ya."
Paris terkejut merasakan ada yang menyentuh pinggangnya. Pandangan menunduk mencoba tahu. Biema rupanya melingkarkan lengannya pada pinggang rampingnya. Ini bukan suatu hal baru. Pria ini pernah melakukannya saat mereka bertemu. Namun kali ini sentuhan itu terasa berbeda.
"Fikar bisa menunggu kita di luar," ujar Biema memberi kode pada Fikar untuk membawa Lei pergi dari sana.
"Ya. Ayo, Lei. Kita keluar dulu." Fikar mengerti. Lei tidak bertanya. Pria itu hanya mengikuti saja.
"Sungguh mengejutkan kamu berada disini." Sejak tadi Paris ingin mengatakan ini. Kini saat mereka hanya berdua, Paris bisa mengatakannya. "Apalagi soal memasak tadi. Itu begitu membingungkan. Aku tidak mengerti apa maksud kamu?"
"Tidak ada yang sulit di mengerti di sini. Seorang istri memang seringkali menyiapkan makanan sehat untuk suaminya," balas Biema.
__ADS_1
"Tapi aku bukan istri seperti itu. Aku tidak pandai memasak dan memanjakanmu dengan makanan lezat," ujar Paris berkata jujur.