
HH ... Paris menghela napas. Ini sudah beberapa kalinya gadis ini berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi. Sejak matahari masih malu-malu untuk tampak tadi, ia sudah masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa tes pack. Ia akan mencoba alat pendeteksi kehamilan yang tadi malam di belinya.
Ada bimbang yang tiba-tiba menyergap hatinya. Ia mendadak ragu untuk mencoba alat itu. Kakinya berhenti dan menatap tes pack berbentuk stick di tangannya. Di amati lagi alat itu.
"Kamu ... Kenapa tiba-tiba kamu berada di tanganku, hah? Kenapa? Padahal masih beberapa waktu lalu aku melihatmu lewat di depan layar kaca di dalam sebuah drama. Di dalam tangan seorang perempuan cantik di sana, tapi kenapa sekarang pindah berada di dalam genggaman ku?" tanya Paris jenaka campur cemas dan geram pada alat di tangannya itu.
Paris tetap seperti itu beberapa menit. Tetap mondar-mandir di dalam kamar mandi tanpa mencoba sama sekali tes pack itu. Bukan karena ia belum paham tata cara penggunaannya. Sebelumnya ia sudah membaca cara kerja alat pendeteksi kehamilan itu. Apa yang di butuhkan sudah ada di dalam kamar mandi. Ia sudah mempersiapkannya tadi. Semuanya mungkin karena alasan lain.
Kakinya berhenti mondar-mandir. Memejamkan mata sejenak kemudian menghela napas. Jari-jarinya mengepal terus menerus. Paris tidak tenang.
"Paris ...," panggil Biema tiba-tiba dari luar. Suara pria ini membuat Paris berjingkat karena terkejut. "Kamu ada di dalam sayang?" tanya Biema lagi. Sepertinya pria ini sudah bangun tidur juga. Paris terkejut mengetahui bahwa Biema sedang menunggunya di luar.
"Y-ya!" sahut Paris cepat dari dalam kamar mandi.
"Apakah kamu mencoba tes pack-nya?"
"Ya. Aku sedang melakukannya." Paris mengatakannya dengan mata menatap ragu pada alat itu.
"Belum selesai sayang?" tanya Biema beberapa menit kemudian. "Kamu sudah cukup lama berada di dalam. Kalau belum paham, kita bisa tanyakan ke mama. Pasti beliau tahu." Biema mengatakannya dengan tidak sabar.
"Oh, t-tidak. Aku sudah baca. Aku tahu." Paris menjawab dengan gugup. Ia menolak bantuan yang di usulkan suaminya. Karena ia tidak ingin harus banyak orang tahu dia sedang menggunakan alat pendeteksi kehamilan.
"Jadi kenapa lama? Kamu sudah coba pakai alatnya kan?" tanya Biema lagi.
"Iya. Bentar lagi aku keluar," sahut Paris berbohong. Ia segera menggunakan tes pack di tangannya.
"Kamu enggak apa-apa, kan? Perutmu tidak bermasalah bukan?" tanya Biema makin khawatir.
"Enggak. Aku enggak apa-apa." Paris berusaha menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja di dalam.
__ADS_1
"Boleh aku masuk?"
"Jangan!" sahut Paris panik.
"Oke. Aku tidak akan mendobrak masuk, tapi cepatlah keluar jika memang sudah selesai pakai tes pack. Biar aku juga ikut lihat hasilnya," kata Biema sangat berharap.
"Ya. Tunggu saja di luar." Paris segera membuka bungkus tes pack berbentuk stick itu. Wadah untuk menampung air urine juga sudah tersedia.
**
Setelah melakukan serangkaian prosedur mendeteksi kehamilan dengan alat itu, Paris tidak langsung melihat hasilnya. Ia masih menutupi alat itu dengan tangannya. Gadis ini merasa tidak mampu untuk melihatnya langsung.
"Paris ...," tegur Biema lagi berusaha sabar dari luar kamar mandi. "Sudah selesai?" tanya Biema tidak ingin istrinya berlama-lama.
"Ya. Sudah."
"Kamu bisa buka pintunya?"
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Biema yang menunggu tidak sabar langsung menarik tangan Paris dengan lembut saat melihat tubuh itu muncul dari balik pintu. Tubuh itu langsung merapat padanya. Biema memeluk istrinya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Biema sambil tersenyum. Paris terdiam sambil menggenggam tes pack itu.
"Aku belum lihat karena kamu keburu menarik tanganku," kata Paris membuat Biema terkejut. Tangannya langsung menjauhkan dirinya dari tubuh Paris.
"Benarkah?" tanya Biema. Paris mengangguk. "Oh, maaf." Biema melepaskan pelukannya. Lalu menunduk melihat tes pack itu dalam genggaman istrinya. "Lebih baik kita duduk dulu di sana. Lalu di lihat bersama-sama." Biema memberikan usulan. Paris mengangguk mengikuti saran suaminya. Mereka berjalan menuju ranjang. Lalu duduk hampir bersamaan di atasnya. "Ayo, kita lihat." Biema memegang punggung tangan Paris.
Detak jantung Paris terasa lebih keras daripada biasanya. Ya. Saat tangan Biema membantu punggung tangannya untuk menggerakkan tes pack itu, dada Paris berdebar kencang. Perlahan indikator penunjuk kehamilan terlihat. Bersamaan dengan itu napasnya juga terasa jadi lebih berat.
Pluk! Indikator tes pack terlihat semuanya. Biema melongok ke alat itu. Paris tidak berani melihat.
__ADS_1
"Sayang ..." bisik Biema. Paris melirik. Biema terdiam. Sedikit mendesah lelah perlahan. Paris memberanikan diri untuk melihat.
Negatif. Indikator penunjuk kehamilan menunjukkan status negatif di sana.
"I-inj artinya ..." kata Paris lambat. Dia ragu untuk meneruskan kalimatnya. Biema langsung menggenggam jari-jari dan tubuhnya.
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa," kata Biema sambil menepuk punggung gadis ini pelan.
"Itu artinya ... apa, Biem?" tanya Paris ingin lebih yakin. Biema melepas pelukannya.
"Ya. Benar. Itu artinya kamu tidak hamil," kata Biema meneruskan. Kedua alis Paris naik. Ia ingin berteriak saat melihat Biema tersenyum tipis. Senyuman tipis yang menyiratkan kesedihan. Ujung bibir Paris yang tadinya akan naik karena sedikit merasa gembira, kini urung. Paris tidak jadi tersenyum lebar. Ada yang sedang bersedih.
"Sayang ...," tegur Paris saat melihat aura Biema menjadi sendu.
"Aku tidak apa-apa. Mungkin bukan waktunya bagi kita mendapatkannya. Mungkin bukan s
sekarang," kata Biema membesarkan hatinya. Namun yang Paris tangkap, Biema tengah menenangkan dirinya sendiri.
"Kamu sedih, sayang?" tanya Paris pelan. Biema tersenyum. Ada gurat sedih yang sangat kentara di sana. Gadis ini tertegun. Ia yang sudah melakukan seidkit euforia karena tes pack menunjukkan negatif, kini jadi ragu. Apakah dirinya sudah benar merasa sedikit lega karena tidak dinyatakan negatif?
Ada rasa bersalah sudah senang bahwa tes pack tidak menunjukkan adanya kehamilan. Apakah dirinya begitu jahat karena tidak berpikiran sama dengan suaminya.
"Maaf," ucap Paris.
"Tidak. Aku tidak harus sedih. Jangan meminta maaf. Itu bukan salah kamu," ujar Biema sambil mengelus lembut lengan istrinya.
"Tapi ... tapi, kamu jadi sedih. Itu kan membuat aku ..."
"Enggak. Aku enggak apa-apa," potong Biema. Tangannya menangkup kedua pipi istrinya dengan gemas. Mencium bibir Paris sejenak lalu melepaskannya. "Oke. Aku bersedih karena aku pikir kamu akan hamil, tapi jika kenyataanya kamu masih belum berisi, aku tidak apa-apa. Bukan menganggap hal itu remeh, tapi lebih harus menerima. Kamu juga pasti bersedih."
__ADS_1
Paris jadi makin merasa bersalah.