
"Hhh ... " Paris menghela napas. "Aku mengajak dia untuk mengikutiku yang masih enggan pulang," serobot Paris demi membantu Sandra menjawab. Mendengar Paris yang menjawab, ekor mata Biema melirik ke arah Paris. Di tatap dengan lirikan maut, Paris hanya mengerjapkan matanya dan melihat ke arah lain. Bersikap tidak acuh.
Dua cowok di depan mereka hanya diam menyaksikan. Ternyata mereka belum pergi. Mereka tidak paham ada apa. Hanya saja satu yang mereka mengerti. Pria yang memakai jas berwarna abu-abu dan rapi itu adalah kakak mereka.
"Lalu? Apa yang kulihat barusan?" cecar Biema. Dia berniat memarahi keduanya. Cowok tadi menunduk melihat ke arah tangannya. Dimana sebuah tas masih berada dalam genggamannya.
"Hei!" tegur cowok berseragam tadi. Paris dan Sandra menoleh. Biema juga ikut menoleh karena suara itu. "Nih, tasmu." Dia melemparkan tas berwarna kuning menyala ke arah Paris. Dengan tangkas Paris menerima lemparan tas itu. "Lain kali hati-hati. Banyak preman sekolah di jalanan. Untung saja tas itu selamat." Cowok itu memberi nasehat. Juga ingin memberi tahu pada dua pria yang baru datang ini bahwa Paris dan Sandra sempat terkena musibah tadi.
"Thanks," ujar Paris. Sandra ikut mengangguk mengucap terima kasih.
"Tidak masalah. Sebaiknya aku pergi. Sepertinya kalian sangat sibuk." Ekor mata cowok itu sesekali melirik ke arah Biema. Kalimatnya itu di maksudkan untuk Biema yang membuat dua gadis ini sibuk. " Lain kali saja aku mengobrol leluasa dengan kalian," ujar cowok itu dengan senyum menawan.
Biema menatap lama ke arah cowok dengan tinggi hampir sama dengannya. Memindai pemuda yang terlihat tenang saja meskipun sorot mata Biema tajam. Fikar ikut melihat ke arah cowok itu juga karena suara teguran tadi. Lalu cowok itu pergi dengan temannya dari tempat itu.
"Er, bukannya dia ..."
Cowok jangkung itu melingkarkan lengannya pada leher temannya. "Ssstt ... kita pergi saja dulu. Lain kali kita cari mereka berdua. Kamu mulai sadar ya, dia siapa?" Senyum penuh arti terlukis pada bibir cowok itu.
__ADS_1
"Biema. Ada apa?" tanya Mela yang ternyata juga ikut menyeberang dan menyusul di belakang mereka. Mereka menoleh. Kedatangan Mela langsung menyita semua perhatian mereka. Terutama bola mata Paris. "Siapa mereka ... Hei! Kamu adik manis Biema, ya. Sandra!" seru Mela merasa mendapat kejutan. Bibirnya langsung tersenyum pada Sandra.
"Kak Mela!" ujar Sandra yang juga mengenal Mela. Dia merasa terkejut juga bisa bertemu wanita ini. Lalu mereka berpelukan. Mereka terlihat begitu dekat. Tangan Mela mencubit pipi cubby Sandra dengan gemas. Mereka berdua sudah seperti layaknya seorang adik dan kakak.
Di saat mereka saling melepas rindu karena lama tidak berjumpa, Biema ganti memandangi Paris. Pria ini menatap istrinya lurus-lurus.
"Bagaimana dengan Paris?" bisik Fikar. Biema menoleh ke samping. "Tidak mungkin kan kamu bilang soal Paris pada Mela." Setelah melirik pada Fikar untuk menanggapi perkataan bawahannya itu, dia melihat pada Paris lagi.
"Jadi kamu menyeberang dengan penuh tekad ke sini karena ada Sandra?" tukas Mela yang mencoba membaca situasi saat ini. Sandra masih tenggelam dalam pelukannya dengan manja.
"Hahaha ... Biema memang sayang adiknya." Fikar menanggapi dengan tawa. Biema tidak merespon. Paris juga hanya diam saja. Matanya melihat Mela yang terus bercanda dengan Sandra. Dia sedikit tersisih. Merasa asing.
"Tunggu. Aku melewatkan seseorang. Ini siapa?" tanya Mela baru menyadari keberadaan Paris di sana. Pelukan Sandra mengendor menyadari bahwa masih ada Paris di sana. Sesaat tadi dia sempat lupa karena melepas rindu dengan kakak tetangga yang baik hati ini.
"Kenapa pada diam? Dia di sini karena kenal dengan salah satu dari kalian, kan?" tanya Mela lagi seraya menggelengkan kepala. Heran dengan sikap mereka bertiga. "Atau jangan-jangan dia hanya gadis yang tidak sengaja lewat?" tanya Mela menggebu ingin tahu.
"Aku tidak hanya sekedar lewat," kata Paris tidak setuju. "San, tasmu!" Paris melempar tas yang sedang di pegangnya. Sandra terkejut dengan lemparan dadakan ini. Hingga Fikar juga ikut berusaha menangkap tas itu. Paris melemparkan tatapan tajam pada Biema yang bungkam.
"Hai, aku Paris." Tiba-tiba Paris menyapa dan menyebutkan namanya. Mendengar nama ini, Mela teringat saat Fikar tadi menyebut nama yang sama.
__ADS_1
"Paris?" Muncul nama itu lagi. "Yang ... di sebut oleh Fikar tadi?" tanya Mela sambil melihat ke arah Fikar. Manik mata Paris ikut melihat bawahan Biema. Mereka menyebut namaku? Bibir Fikar hanya meringis. Bukan membantah atau mengiyakan. "Jadi Paris itu adalah kamu?"
"Ya." Mela manggut-manggut.
"Lalu kamu siapa? Kok kenal sama Biema dan Fikar?" Telunjuk Mela menunjuk kedua orang di depannya.
"Aku teman sekolah Sandra. Aku juga mengenal mereka karena Sandra seringkali bersamaku." Biema melihat ke Paris yang tersenyum menjelaskan siapa dirinya. Semua memandang Paris. Lalu saling pandang.
"Teman sekolah? Sahabatnya Sandra ya ..." tebak Mela dengan wajah ramah.
"Benar. Kenalkan, aku Paris." Dengan tenang Paris mengulurkan tangannya. Semua mata melihat ke arah tangan paris yang terulur ke depan meminta jabat tangan.
"Oh, ya. Aku Mela. Sahabatnya Biema. Juga kakak dari gadis kecil ini," tukas Mela menyambut jabat tangan Paris seraya mengelus rambut Sandra dengan sayang.
"Kakak?" tanya Paris heran. "Sandra punya kakak perempuan?"
Mela tergelak. "Bukan kakak sebenarnya. Dulu, Sandra ingin sekali punya seorang kakak perempuan. Karena kita bertetangga, jadi dia selalu memanggilku dengan sebutan 'kakak'. Bahkan dia juga seringkali berandai-andai untuk menjadikanku kakak iparnya saat Biema dewasa kelak." Gelak tawa kecil Mela terdengar dari bibir wanita ini saat menceritakan sekelumit cerita dari masa lalu mereka. Senyuman Mela di lempar juga ke arah Biema. Namun pria itu hanya diam saja.
Meskipun dalam kenyataan, Biema dan Paris menikah tanpa dasar cinta, tapi jika ada perempuan yang membicarakan akan menjadi kakak ipar Sandra, itu berarti perempuan itu sedang membicarakan akan menjadi istri Biema. Sementara yang di ajak bicara adalah istri sahnya. Ini membuat keadaan canggung. Fikar dan Sandra terkejut.
__ADS_1
"Oh, begitu. Sandra pasti sangat beruntung dan bahagia sekali jika memang kak Mela bisa jadi kakak iparnya." Tatapan tidak percaya mencuat dari wajah Fikar dan Sandra. Paris bagai gadis polos yang tidak tahu situasi. Dia mengatakan itu semua dengan wajah datar dan tenang. Padahal mereka bertiga tahu, bahwa saat ini yang menjadi kakak ipar Sandra adalah Paris. Dia istri sah Biema sekarang.