
Paris menoleh pada Biema tidak percaya. Lei sempat menaikkan alisnya karena terkejut, tapi pria ini tersenyum mendengar pengakuan atasannya.
"Kalau begitu selamat, Tuan. Anda pasti sangat bahagia," ucap Lei dengan bijak menyikapi kabar itu.
"Benar. Aku sangat bahagia. Ayo sayang, kita segera ke ruanganku. Kita pergi Lei," pamit Biema.
"Ya, Tuan." Tangan Biema merengkuh pundak istrinya dan berlalu. Paris mengerjap masih tidak percaya baru saja tidak percaya, bahwa dia bertemu dengan Lei setelah lama tidak jumpa, sekedar memberitahu kehamilannya.
"Apa-apaan itu tadi Biem?" tanya Paris setelah mereka sampai di dalam ruangan.
"Tentang apa?" tanya Biema yang mempersilakan istrinya duduk. Paris menggeleng. Karena ia ingin melihat-lihat isi ruang kerja suaminya. Biema membiarkannya dan ingin menuju ke meja kerjanya.
"Soal kehamilanku yang kamu pamerkan pada Lei," kata Paris yang sempat membuat Biema terkejut. Sebutan Kak, tidak muncul pada nama Lei barusan. Entah kenapa itu membuatnya senang.
"Aku hanya sedang bahagia. Jadi aku ingin membagikan kebahagiaanku pada semua orang," ujar Biema beralasan. "Duduk dulu aku akan minta seseorang membuat minuman hangat untukmu." Paris yang masih melihat-lihat isi ruangan menoleh cepat.
"Kamu seperti bocah kecil tadi. Aku takut Lei berpikiran kamu norak," ungkap Paris. Biema yang akan berjalan menjauh, berhenti.
"Kamu takut orang lain menganggapku kekanak-kanakan?" tanya Biema tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
"Tentu saja. Jika dia bawahanmu, kamu tidak bisa seenaknya menunjukkan sikap seperti tadi. Kamu itu ..." Tiba-tiba Biema kembali mendekat ke Paris dan menciumnya. Paris yang masih melihat-lihat, hanya mengerjapkan mata mendapat serangan kilat barusan.
"Aku pikir kamu tidak setuju jika aku sengaja menunjukkan kehamilanmu pada Lei agar dia tahu bahwa kamu sungguh-sungguh mencintaiku. Ternyata kamu cemas citraku di depan pegawaiku ..." ujar Biema terang-terangan mengatakan tujuan dia bicara soal kehamilan Paris di depan pria muda tadi.
__ADS_1
"Tanpa kamu bilang padanya pun, dia akan mengerti kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu," lirih Paris yang bisa di dengar oleh Biema.
"Oh, ya?" Biema yang belum berjalan jauh segera mendekat dan memeluk Paris. Lalu mengusap lembut perut yang berisi janin itu. "Aku mendengar barusan. Jadi ada perbedaan antara aku dan dia yah ...," kata Biema sambil menarik kemeja putih Paris yang di masukkan ke dalam ban pinggang rok. Sesuai aturan sekolah bahwa wajib memakai seragam dengan gaya rapi seperti itu.
"Mau apa menarik kemeja ku segala?" tanya Paris was-was.
"Aku mau mengelus perutmu, tapi terhalang dengan seragam ini." Biema terus saja mencoba menarik kemeja putih itu hingga keluar dari ban rok. Lalu menyelipkan tangannya ke balik kemeja yang mulai sedikit longgar karena tidak terpakai dengan rapi lagi.
Kini tangan itu sudah bisa menjangkau kulit perut istrinya dengan mudah. Biema mengelus perut istrinya lembut.
"Anakku ... Mama kamu ini sungguh menggemaskan. Hingga papamu ini tidak betah kalau jauh-jauh darinya," ujar Biema seakan bicara dengan seseorang. Tangan itu tidak saja mengelus lembut perutnya, tapi mulai menjalar naik hingga sempat membuat erangan kecil dari bibir Paris keluar.
"Ahh ..."
"Kamu menikmatinya?" bisik Biema yang rupanya mengusap gundukan kenyal milik istrinya.
"Makanya aku ingin pulang lebih awal sayang ...," bisik Biema.
"Aku kan hamil. Jadi kita enggak boleh melakukannya," kata Paris sok tahu. Dia paham maksud di balik keinginan suaminya pulang lebih awal.
"Benarkah?" tanya Biema terpancing untuk berhenti.
"Aku kan sudah hamil, jadi apalagi tujuan kita melakukannya?" Oh astaga ... gadis ini polos sekali. Itu membuat Biema tergelak. "Kamu menertawakan aku?" tanya Paris sadar dia sedang di tertawakan oleh pria yang masih saja memeluknya dari belakang ini.
__ADS_1
"Maaf," kata Biema mulai mengurangi tawanya.
"Apa aku salah?" tanya Paris mengoreksi diri sendiri. Dia mulai berpikir, jika Biema menertawakannya itu berarti kalimatnya keliru.
"Emm ... tidak juga, tapi tidak sepenuhnya benar," koreksi Biema masih memeluk erat tubuh Paris. Namun tangannya tidak lagi melakukan hal sensual tadi.
"Jadi kita bisa melakukannya lagi meski aku sedang hamil?" tanya Paris berusaha tahu.
"Emm ... Sepertinya iya." Paris membasahi bibirnya gelisah.
"Jangan bohong ya. Aku akan marah jika kamu bohong hanya karena ingin melakukan itu," ancam Paris.
"Oke, oke. Kita tanya saja pada dokter agar kamu yakin ya ...," bujuk Biema.
"Oke. Sekarang lepaskan tanganmu dari tubuhku dulu," pinta Paris sambil berusaha melepaskan tangan Biema dari balik kemejanya. "Lagipula kita di kantor. Jadi kamu tidak boleh melakukannya di sini."
"Jika hanya menyentuh tanpa penyatuan, apa boleh?" tawar Biema pantang menyerah.
"Ih, kamu ini. Lakukan di rumah saja. Segera selesaikan pekerjaanmu, lalu pulang. Oh, tidak. Kita harus ke dokter buat konsultasi," ralat Paris.
"Baiklah," ujar Biema pasrah.
.......
__ADS_1
.......
...IG# LADY_VE...