
"Arga?"
"Ya. Sejak itu kak Arga sangat menyukai mi instan buatan kak Asha ...," ujar Paris seperti bocah yang bercerita tentang khayalan di otaknya. Biema tersenyum.
"Karena itu yang buat Kak Asha makanya lebih enak dua kali lipat." Biema menengok ke belakang. "Buatan orang yang di cintai itu akan lebih enak daripada buatan siapapun."
"Oh ..." Paris mengangguk lambat-lambat. Sepertinya kalimat itu sengaja di tujukan untuknya. "Jadi ... Buatanmu enak juga?"
"Aku tidak tahu. Buatku tentu iya." Biema menengok ke arah Paris lagi. "Itu tergantung kamu yang merasakannya." Kalimat menjebak. Sepertinya Paris harus benar-benar merasakannya dan berkata enak meskipun tidak enak. Karena itu yang buat pria ini. Pria yang di cintainya.
"Itu mau buat apa lagi?" Tunjuk Paris pada mi yang di biarkan keluar dari bungkusnya di atas meja.
"Kamu tidak tahu?" tanya Biema sambil tersenyum.
Paris menggeleng. "Tidak."
"Aku akan membuatkan omelet untukmu. Kamu pernah makan ini?" Paris diam sambil berpikir.
"Buk Sumi pernah buat enggak, ya ..."
"Jadi kamu enggak pernah membuat sesuatu selain menyuruh Bik Sumi?" tanya Biema membuat Paris meringis.
"Aku terlalu sibuk memikirkan sekolah, jadi enggak punya waktu membuat sesuatu," kilah Paris jenaka.
"Sekolah bukan perlu di pikir, tapi buku-bukunya yang perlu di pelajari." Biema tahu Paris hanya beralasan.
"Ya begitulah ..." Paris enggan berdebat. Dia pasti kalah.
"Bisa kamu remukkan mi ini? Aku akan memotong sayuran dan sosisnya." Biema mengangkat mi yang sudah di keluarkan dari bungkusnya.
"Remukkan? Aku bisa." Paris langsung meremukkan mi yang punya tekstur rapuh itu dengan cepat.
"Sepertinya jika itu berhubungan dengan tenaga, kamu ahlinya.".
"Jangan meledekku," sembur Paris. Biema tertawa ringan.
Makanan akhirnya selesai. Biema membawanya ke meja makan. Paris ikut senang dengan selesainya acara merepotkan tadi. Hingga dia bisa mulai makan.
"Mmm ... Ini enak," seru Paris gembira. Tubuhnya sampai bergetar kesenangan. "Ini bukan makanan istimewa, tapi kenapa jadi enak sekali. Mmm ..." Paris tidak berhenti memuji rasa makanan yang ia makan. Sebenarnya di awal tadi, dia cemas akan rasa masakan Biema. Bahkan dia berniat bohong demi menunjukkan bahwa mereka adalah pasangan yang saling mencintai. "Padahal ini hanya mi. Mi instan yang di sulap jadi makanan lain, tapi aku merasakan sensasi yang berbeda."
"Aku senang kamu menyukainya."
__ADS_1
"Aku jadi membuatmu repot masak-masak. Padahal kamu kan seharusnya diam untuk istirahat." Paris baru sadar sudah membuat pria ini melakukan banyak hal. Dia menipiskan bibir sambil mengunyah omelet di dalam mulutnya. Kemudian mengambil minuman dan meneguknya.
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan bilang kamu enggak capek, Biema. Jangan bohong," ujar Paris menunjuk Biema.
"Ya aku capek, tapi aku senang jika melihatmu begitu gembira. Rasa lelahku berkurang." Paris sampai terpana dengan kata-kata Biema. Itu juga membuatnya terharu. Apalagi saat Biema menambahkan kalimatnya, "Selalu bahagia Paris. Jangan pernah sekalipun kamu bersedih. Aku selalu berharap kamu tersenyum dalam kebahagiaan." Mendengar ini bola mata Paris mendadak meremang. Dia terdiam mendengar kesungguhan pria ini saat mengatakannya.
"Bukan aku yang akan selalu bahagia dan tersenyum Biema, tapi kita. Kita berdua. Kamu ... Juga aku." Paris sangat yakin bahwa saat ini keinginannya adalah itu. Mendadak Biema berdiri. Membungkukkan tubuhnya hingga dekat dengan wajah Paris. Lalu menyambar belakang kepala Paris dengan lembut, kemudian menciumnya.
"Aku mencintaimu," ujar Biema setelah melepaskan pagutannya. Paris tidak segera menjawab. Bola matanya hanya mengerjap berulang kali karena terkejut. Bahkan sampai pria itu kembali duduk seperti semula, Paris masih terkejut. "Segera selesaikan makan kamu. Kita harus cepat tidur." Tiba-tiba saja Biema bicara soal tidur.
"Oh, ya. Aku juga lelah ingin tidur lagi." Spontan Paris mengatakan apa yang sedang ada di dalam pikirannya juga.
Setelah semuanya benar-benar selesai makan, sontak Biema menarik tangan Paris. Membawa gadis ini menuju ke kamar pria itu.
Jadi aku harus tidur bersamanya lagi?
"Maaf sudah membuatmu tidur sendirian. Jadi sekarang aku harus membayarnya dengan menemanimu tidur hingga pagi."
"Aku tidak apa-apa soal ... itu!" jerit Paris di akhir kalimatnya karena Biema menarik tangannya hingga tubuh Paris terpelanting ke dadanya.
"Turuti saja keinginanku," bisik Biema tepat di telinga gadis ini. Paris yang sudah berada di dekapan Biema diam.
Meskipun koran tidak lagi populer, Biema tetap menerima langganan surat kabar dari penerbit. Dia termasuk tipe orang yang kuno untuk hal ini. Pagi ini dia sudah duduk di balkon dengan koran di tangannya. Membaca dengan serius dan bermandikan cahaya pagi.
Paris menggeliat di atas ranjang. Karena cahaya matahari masuk dengan tegas, melalui pintu balkon yang di buka. Bukannya bangun, mata Paris makin tertutup. Selimut juga makin di tarik guna menutupi seluruh tubuhnya. Paris makin masuk ke balik selimut.
Namun angin pagi terus saja berhembus dari luar membuat Paris membuka mata sambil menggerutu.
"Ih, dingin banget sih. Darimana datangnya angin ini ....," ujar Paris yang menoleh ke sana kemari mencari penyebab dinginnya kamar ini. "Pintunya di buka, makanya jadi lebih dingin." Paris hendak menyusup di balik selimut lagi saat suara Biema menyadarkannya bahwa dia sedang tidak ada di dalam kamarnya sendiri.
"Maaf, aku membuatmu terbangun."
Biema! Aku lupa. Aku ada di kamar Biema. Paris meloncat sambil bangun dari ranjang dengan kaget.
"Kamu tidak perlu bangun jika masih ingin tidur, Paris."
"Tidak. Sepertinya memang sudah waktunya bangun." Paris melongok keluar pintu melihat mentari pagi sudah bersinar cerah. Tubuh Paris langsung berjalan mendekati pintu. "Kita harus sarapan. Aku akan memesan sarapan pagi."
__ADS_1
"Tidak perlu. Kita akan keluar mencari makan pagi bersama-sama."
"Bukannya kamu mau berangkat kerja?"
"Tidak. Aku akan ambil libur untuk hari ini. Jadi kita bisa melakukan banyak hal berdua."
"Benarkah?" Biema mengangguk. "Baiklah. Aku mau mandi dulu."
"Ya."
Paris bergegas menuju kamar mandi. Gadis ini mandi dengan bersenandung. Dia bahagia. Biema tidak perlu menunggu lama, gadis ini sudah muncul dengan berganti pakaian. Biema juga sudah siap untuk berangkat.
"Ini pertama kalinya kita keluar pagi berdua," ujar Paris sambil tersenyum saat memasang sabuk pengaman di tubuhnya.
"Bukannya kita sering keluar pagi buat nganterin kamu berangkat sekolah?" ujar Biema mengingatkan. Dia mulai menyalakan mesin.
"Beda. Itu rutinitas. Bukan keluar pagi seperti ini."
"Oh, begitu." Biema tersenyum.
"Eh iya aku lupa. Kak Asha menyuruh kita menjenguk ayah di rumah sakit."
"Rumah sakit? Ayah sakit?" tanya Biema terkejut. "
"Iya. Apa aku tidak memberitahumu?" Paris juga terkejut Biema belum tahu.
"Aku rasa belum. Kenapa baru memberitahuku Paris?"
"Oh belum ya ... Maaf."
"Sebaiknya kita segera kesana. Ke rumah sakit mana ayah di rawat?"
"Jangan sekarang," cegah Paris.
"Kenapa Paris? Bukannya kita harus bergegas ke rumah sakit?"
"Iya aku tahu, tapi tidak mungkin sekarang. Bukannya pagi ini aku harusnya ikut ujian? Bunda akan heran melihat aku di sana saat ujian sedang berlangsung."
"Bunda tidak tahu?" Paris mengangguk.
"Baiklah. Kita akan ke sana jika waktu ujian sudah selesai."
__ADS_1