
Fikar menunggu di depan apartemen dengan mobil kantor. Paris mempercepat langkahnya dan membuka pintu depan mobil.
"Kita harus segera makan. Perutku berbunyi sangat keras tadi. Aku sangat kelaparan." Paris langsung mengeluhkan rasa laparnya pada Fikar.
"Benar. Kita sama. Senasib. Aku juga sangat kelaparan." Fikar setuju. Mobil pun melaju menuju ke tempat mereka sarapan.
Setelah menimbang akan bertanya soal Biema pada Fikar atau tidak, keputusan jatuh pada ... dia harus bertanya. "Biema ... ada di dalam kamar atau tidak?" tanya Paris menyelidiki. Pertanyaan aneh. Karena yang tinggal seatap dengan Biema adalah dirinya, bukan Fikar. Namun kenyataaanya begitu. Dia tidak tahu Biema ada di dalam kamarnya atau tidak.
"Aku tidak tahu, Paris. Kamu belum bertemu dengannya?" tanya Fikar heran.
Paris menggeleng lemah. "Belum."
"Belum?" Sepertinya Fikar terkejut dengan jawaban Paris. Lalu pria itu hanya manggut-manggut sambil menyetir.
"Biema tidak bicara apa-apa ke kamu?" Paris masih ingin tahu lebih banyak.
"Soal apa? Kalau bicara, ya ... banyak. Aku ini kan bawahannya. Tentu saja dia banyak bicara padaku. Terutama soal pekerjaan."
"Kalau soal mengantarku ke sekolah?"
"Dia hanya memberitahuku bahwa mulai sekarang akulah yang akan melakukan ini tadi malam. Tentu saja aku tidak berani bertanya kenapa. Aku hanya bawahannya. Aku cukup menuruti kehendak dan titah atasan."
"Benar juga. Kamu akan di pecat oleh Biema jika mengurusi hal semacam itu."
"Nah ... kamu tahu sendiri akibatnya." Paris tersenyum tipis. Paris akhirnya tidak membahas lagi soal dia di antar Fikar. Yang tahu alasannya memang hanya Biema sendiri. Fikar melirik ke samping. Raut wajah Paris tampak terpukul dengan pergantian ini. "Kamu enggak setuju, kalau aku yang mengantar dan menjemputmu?"
"Bukan. Aku hanya merasa aneh jika kedepannya kamu yang mengantarku ke sekolah. Karena hampir setiap hari, Biemalah yang berada di tempatmu sekarang. Di sampingku." Fikar melihat sorot mata gundah di sana. Paris sedih. "Jangan melihatku seperti itu. Ini hanya tidak biasa. Aku belum terbiasa." Sepertinya Paris ingin menutupi rasa sedihnya.
"Oh ... begitu." Fikar mengangguk mengerti maksud Paris.
Sampai di sekolah Paris di sambut Sandra. Kepala Sandra melongok ke arah mobil yang baru saja mengantarkan kakak iparnya.
"Sepertinya barusan bukan kak Biema, deh ... Hayo, itu siapa?" tanya Sandra sambil menggoda Paris.
__ADS_1
"Ya. Itu memang bukan Biema. Itu Fikar," sahut Paris pelan. Sandra melirik sahabatnya ini dengan seksama. Ada aura sendu yang terpancar. Paris terlihat tidak bersemangat.
"Jadi ... kemana kakakku? Tumben banget dia tidak mengantar kamu?" tanya Sandra bukan bermaksud menyindir atau bagaimana. Dia memang tidak tahu kenapa kakaknya tidak mengantar Paris.
"Itulah yang ingin aku tahu," sahut Paris dengan helaan napas lelah.
"Kamu ... tidak tahu kenapa kakak enggak bisa antar kamu atau kamu enggak tahu kemana kakakku?"
"Keduanya. Aku tidak tahu kemana kakakmu dan aku juga enggak tahu kemana dia. Aku tidak bisa menemukannya pagi ini."
"Sebentar." Sandra menghentikan langkah Paris dan berdiri di depannya. "Maksudnya bagaimana sih? Masa' kamu enggak ketemu sama kak Biema. Secara, kamu kan tinggal satu atap sama dia ..." Sandra tidak habis pikir.
"Aku memang tidak bertemu dengannya pagi ini. Sama sekali."
"Bagaimana mungkin ... Saat bangun tidur kan kamu bisa lihat kak Biema ada di sampingmu apa enggak. Bukannya gitu?" Sandra bingung.
"Aku tidak tidur dalam satu kamar dengannya." Ini pertama kali Paris mengungkap soal tempat tidur mereka berdua.
"Jadi ..."
"Jadi itukah kamu tidak tidur satu kamar dengan kak Biema?" Paris mengangguk.
"Aku hanya berusaha terlihat baik saat menjadi istri Biema di depan semua orang, tapi kita tidak begitu saat hanya berdua."
"Benarkah? Aku rasa kak Biema enggak begitu."
"Mungkin karena kamu adiknya jadi kamu membelanya."
"Aku tidak membela kak Biema, tapi aku tahu."
"Sudahlah. Aku lagi tidak bersemangat. Apalagi berdebat soal Biema. Maaf." Paris pun berjalan mendahului adik iparnya.
Sebenarnya ada apa? Apakah mereka bertengkar hebat karena kak Lei?
Jam istirahat
__ADS_1
Menjadi lawan Priski dan memenangkannya membuat Paris terkenal. Itu sungguh tidak di sangkanya. Dia tidak ada niatan menjadi lebih di kenal semua murid, dengan jalur alternatif seperti ini. Dari tadi pagi saja dia sudah di sapa banyak orang. Paris di buat bingung dengan sapaan mereka.
"Wahh ... kamu jadi populer, Paris," ujar Sandra dengan decak kagum begitu kentara.
"Aku tidak suka. Tidak bangga. Bahkan menurutku ini tidak menyenangkan." Paris menggelengkan kepala tidak setuju.
"Kenapa tidak menyenangkan?" tanya Sandra heran.
"Setiap jalan, pasti setiap mata dari mereka melihat ke arahku. Itu lebih mirip mengamatiku. Aku tidak nyaman." Paris menjelaskan. Sandra tersenyum.
"Itu mungkin kekaguman Paris. Ih, kamu ini." Sandra menyenggol lengan Paris. Mungkin pikiran tentang kenapa Biema enggak muncul dan kenapa pria itu menyerahkan tugas menjemput dan mengantar ke sekolah pada Fikar masih ada, tapi tatapan bola mata anak-anak sekolah membuatnya hilang fokus pada soal Biema.
Paris keluar dari kelas hendak ke kantin. Ada yang aneh dari anak-anak yang melewatinya. Mereka semua seperti sedang mengamati Paris. Awalnya gadis ini mengira mereka hanya kebetulan melihat ke arahnya. Bukan karena suatu ke sengajaan. Namun semakin lama semakin terasa hawa tidak menyenangkan dari mereka.
"Mereka sedang perhatikan aku yah?" tanya Sandra yang ada di sebelahnya.
"Masa sih?" Bola mata Sandra melihat ke sekitar. Cewek-cewek itu sedang melihat ke arah mereka trus berbisik-bisik.
"Lihat saja. Itu bukan hanya satu kali dua kali. Sejak keluar dari kelas, bahkan ini hampir sampai di kantin, mereka terus saja melakukan hal yang sama. Melihatku lalu berbisik."
"Emm ... sepertinya iya." Sandra pun mulai sadar. Memang tatapan mereka awalnya terlihat seperti sedang melihat dia dan Paris. Namun jika di perhatikan lagi, mereka itu lebih fokus ke Paris.
"Memangnya ada apa di wajahku?" tanya Paris seraya menunjuk pada wajahnya sendiri. Sandra berusaha memperhatikan dengan seksama. Namun tidak ada yang janggal dari wajah Paris. Tidak ada coretan, tidak ada kotoran atau semacamnya.
"Enggak ada. Wajahmu bersih. Masih cantik," ujar Sandra memberitahu.
"Itulah. Kenapa mereka terus saja melihatku seperti itu?" tanya Paris heran.
"Hei, Paris! Sebentar." Banu si ketua kelas memanggil Paris. Mereka berdua pun berhenti.
"Ada apa?" tanya Paris. Banu meraih sesuatu dari punggung gadis ini. Lalu menyerahkan pada Paris. Sebuah kertas besar yang bertuliskan Open BO. Sandra terkejut seraya menutup mulutnya. Paris melebarkan mata membaca tulisan di atas kertas yang berada di tangannya.
"Aku rasa seseorang sedang iseng." Banu mengatakan itu dengan tenang. Namun wajah Paris sudah merah karena marah. Kepalanya menoleh ke kanan ke kiri mencoba mencari seseorang.
"Ya. Aku rasa ada seseorang yang iseng," ujar Paris dengan geraman yang tertahan. Sandra melihat ke arah Paris. Dia yakin saat ini sahabatnya itu akan segera meledak. Ini sungguh berbahaya. Banu pun pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1