Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Maaf ya ....


__ADS_3

Tidak ada pikiran tertuju ke arah 'itu' saat Biema mendekap dan mencium bibirnya. Bukan karena terlalu polos, tapi karena baru tadi malam mereka melakukannya. Apalagi sekarang masih siang menjelang sore. Langit belum gelap. Justru cenderung sangat terang. Namun kenyataannya Biema ingin melakukan itu lagi. Sekarang.


"Ini ... Belum gelap," sahut Paris polos.


"Melakukannya tidak harus dalam waktu gelap, Paris ...," ujar Biema pelan berusaha memberi pengertian. Paris meluruskan pandangan. Tepat ke arah dada bidang yang masih terbungkus kemeja.


"Benarkah?" tanya Paris mengernyitkan dahi.


"Kamu menolak?" tanya Biema seakan memojokkan Paris. Gadis ini tidak menjawab. Ia ragu. "Aku pulang karena itu. Tidak bisakah?" pinta Biema memohon. Pria ini kecanduan.


"Aku ... ," ujar Paris lirih. Sangat lirih hingga membuat indra pendengaran Biema tidak bisa menjangkaunya.


"Apa?"


"Aku masih ... sakit," ulang Paris. Sekarang Biema bisa mendengar apa yang di katakan gadis ini. Namun itu membuat keningnya berkerut.


"Sakit? Bukannya kamu bilang pinggangmu akan cepat sembuhnya." Paris mengerjap. Biema tidak mengerti apa yang di katakannya.


"Bukan pinggang," protes Paris.


"Lalu apa?" tanya Biema lembut seraya mendekatkan telinga ke bibir gadis ini. Dia ingin tahu lebih jelas apa yang di katakan Paris. Gadis ini berdecih dalam hati. Bukan marah, tapi malu. Menurutnya yang dia katakan sekarang begitu sensitif. Namun dia harus menjawab karena pria ini sedang bertanya.


Paris sengaja menjulurkan lehernya ke atas demi membuat Biema bisa mendengar apa yang dikatakannya, meskipun suaranya sangat lirih.


"Itu masih sakit. Di bawah ..." bisik Paris yang langsung membuat daun telinga hingga leher memerah karena malu. Biema mengerjap. Dia diam sejenak tetap dengan pelukan pada tubuh istrinya.


"Itu?" ulang Biema dengan kode.


"Ya. Itu," ujar Paris mengiyakan. Lelaki ini mulai paham dengan apa yang di bahasnya. Biema mendongak. Bola matanya menatap langit-langit pantry. Pria ini sedang berpikir.


"Jadi sekarang tidak bisa, ya ...," ujarnya kecewa. Sangat jelas di wajahnya. Paris mengangguk dengan lambat. "Baiklah. Aku memang sangat menginginkannya, tapi jika itu menyakitimu aku tidak mau." Biema mengambil keputusan.


"Yakin?" tanya Paris.

__ADS_1


"Enggak. Aku enggak yakin. Aku hanya mencoba bertahan," jawab Biema jujur. Paris memeluk tubuh Biema erat.


"Maaf, ya ..."


"Iya. Aku paham." Biema menyambut pelukan itu dengan pusat dirinya yang terasa sakit. "Aku harus segera mandi air dingin."


"Oh, baiklah." Paris melepas pelukannya. Biema melangkah menuju kamar. "Kamarku sudah aku bersihkan. Jangan lagi tidur di kamar kamu nanti malam," ancam Biema dengan senyuman.


"Ya. Aku tahu."


"Oh, ya ... Pihak laundry sudah mengambil sprei dan bed cover yang kotor?" tanya Biema yang urung masuk ke dalam kamar.


"Belum." Teet! Bel apartemen berbunyi. Paris bergerak mendekati pintu. Rupanya petugas dari pihak penatu.


"Siapa?" tanya Biema yang tidak masuk ke kamar karena menunggu Paris selesai menemui orang di depan.


"Petugas laundry." Paris mengambil kantung berisi cucian kotor itu dan menyerahkan ke petugas.


"Cepat tutup pintu," perintah Biema.


Setelah melihat Paris menutup pintu, baru Biema masuk ke kamar. Paris menuju pantry. Mengeluarkan barang belanjaan dari kresek. Brokoli, wortel dan beberapa makanan beku seperti bakso, ayam beku, nugget ayam dan sosis. Semua itu khusus untuk Paris yang kurang mahir memasak.


Semua belum di masukkan ke dalam kulkas. Masih berjajar di atas meja pantry. Paris hendak mengangkut makanan beku saat bola matanya tertambat pada Biema.


Setelah beberapa menit tadi berada di dalam kamar, kini dia keluar lagi dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


Paris menelan salivanya sendiri melihat tubuh bagus milik suaminya.


Tidak ku sangka, tubuh bagus itu milikku. Paris mengerjapkan mata berulang-ulang karena terpukau. Biema melirik. Dia tahu gadis ini sedang mengamati tubuhnya. Kemudian Paris memilih membalikkan tubuhnya. Berusaha menghindari tubuh polos bagus yang melintas barusan.


"Oh, ya Paris ..." Tiba-tiba Biema membelokkan kaki menuju pantry. Paris yang sudah berpikir pria ini akan masuk ke kamar mandi terkejut. Tubuhnya berbalik melihat Biema. Saat itulah bola matanya membulat mirip ikan buntang. Lalu degup jantungnya terdengar lebih kencang. Paris berdebar-debar.


"Y-ya. Ada apa?" tanya Paris gugup.

__ADS_1


"Kamu mau memasak?" tanya Biema yang ternyata hanya mendekat beberapa meter dari dirinya. Pria ini tidak mendekat seperti tadi saat dia memeluk tubuh Paris. Biema masih berdiri dengan jarak tertentu hingga tubuh itu terekspos semua. Dari atas hingga bawah.


"E ... t-tidak, tapi ... Hanya menggoreng beberapa nugget untuk camilan, mungkin," ujar Paris yang tiba-tiba ingin berbincang lama dengan Biema. Dia sengaja mengatakan ingin menggoreng nugget. Padahal sejak tadi ia hanya ingin membereskan barang belanjaan kemudian bersantai.


"Nugget? Bukan dari ikan laut, kan?" tanya Biema yang begitu hati-hati soal makanan laut. Pria ini alergi dengan ikan laut.


"Em ... Itu ... " Paris ragu. Akhirnya dia meraih kemasan makanan beku yang basah karena esnya mencair. Membacanya cepat bahan yang di gunakan untuk membuat nugget. "Bukan. Bukan ikan laut. Ini murni ayam," ucap Paris yakin setelah membacanya.


"Kalau begitu aku juga suka." Biema tersenyum. Paris ikut tersenyum dengan bola matanya yang kebingungan.


Bola matanya tidak berhenti menatap setengah tubuh bidang yang hanya tertutup handuk yang melilit sepinggang. Apalagi saat lilitan handuk itu terlihat longgar yang seakan-akan hendak melorot dengan sempurna. Paris mendadak tidak betah untuk tidak melihatnya. Namun dia harus mengalihkan pandangan ke arah lain saat kepergok Biema sedang menatapnya. Bibir Biema tersenyum melihat itu.


"Emm ... bisa buatkan aku jus alpukat?" pinta Biema lembut.


"Kita tidak punya buah alpukat lagi. Semuanya sudah habis aku makan." Paris ingat buah terakhir yang ia buat tadi. Karena kemunculan Biema Lei yang mengguncangkan tadi, Paris gagal berbelanja buah apapun. "


"Begitu ya ..."


"Aku bisa buatkan minuman dingin lainnya. Cokelat dingin?" tawar Paris selanjutnya.


Masih seperti tadi. Sebenarnya Paris bisa menghentikan obrolan agar dia terhindar dari pemandangan aduhai yang menggetarkan jiwa. Namun ia merasa ingin berbincang lama. Ia tidak rela bila Biema menghentikan obrolan.


"Boleh." Biema setuju. Paris menyalakan kompor untuk memasak air. Dia butuh air hangat untuk melarutkan bubuk cokelat. Saat itu Biema mendekat. "Ada yang bisa aku bantu?"


"Tidak. Aku bisa membuatnya sendiri," sahut Paris sambil memutar tubuh menghadap Biema. Saat itu pandangan Paris sedang terarah ke handuk yang melilit dengan ala kadarnya itu. Ada yang menyembul di sana. Paris menelan ludah.


Apa itu? desisnya dalam hati.


Kenapa aku ini? Kenapa itu membuatku resah dan gelisah? tanya Paris bingung dalam hati.


Semacam morfin, nikotin, atau, Street Methadone yang menduduki peringkat tinggi dalam ketergantungan psikologis dan fisik. Paris seakan butuh asupan sentuhan. Dia ingin menyentuh dan di sentuh.


Aku yakin aku sudah gila sekarang.

__ADS_1



__ADS_2