Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Ingin pulang


__ADS_3

"Apa ada nama Mela dalam daftar itu?"


"Ya," sahut Fikar akhirnya mengaku karena Biema bertanya. Raut wajah Fikar sedikit tersiksa saat mengatakannya. Karena dia takut Paris cemburu. Namun gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Padahal sejak tadi dia menoleh padanya. Seakan menunggu jawaban darinya.


Kini gadis itu tengah melihat ke arah jalanan. Entah Paris tidak peduli, atau Paris sedang menahan diri menyembunyikan kecemburuannya. Fikar tidak tahu.


"Kamu sudah menyiapkan tempat bertemu dengan mereka?" tanya Biema.


"Tidak. Kemungkinan mereka akan datang ke kantor karena tidak meminta tempat untuk bertemu di luar." Fikar mendengar helaan napas dari belakang. "Ini tidak akan lama. Mereka hanya ingin berbincang denganmu sebentar." Fikar tahu pasti Biema lelah.


"Lalu Mela?"


"Mungkin berbicara lagi soal produk baru. Dia selalu ingin tahu lebih dulu produk baru kita karena begitu berkualitas. Dia butuh referensi soal produk baru untuk bahan produksi."


"Oh hanya itu. Bagus."


"Bagus apanya?" tanya Fikar melihat ke atas lagi. Ke arah spion.


"Bagus karena kamu bisa mengatasinya.” Paris yang tadinya melihat keluar jendela menoleh pada Biema.


"Kamu tidak kembali ke kantor?" selidik Fikar tidak tenang.


"Tidak. Aku akan pulang lebih awal hari ini. Antarkan aku dan Paris ke apartemen, lalu kamu bisa kembali ke kantor sendirian." Paris menengok ke samping.


"Kenapa kamu ..."


"Sst ... Aku ingin pulang," ujar Biema memotong kalimat Paris dengan lembut.


"Lalu mereka bagaimana? Pertemuan itu." Fikar panik.


"Sudah aku bilang kamu pasti bisa mengatasinya. Temui mereka sebagai wakilku."

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku melakukannya? Direktur perusahaan ini adalah kamu bukan aku," sungut Fikar.


"Jika begitu, batalkan saja." Paris melihat Biema dengan terkejut. Namun Paris segera kembali tidak peduli dengan perdebatan mereka, karena Biema menyuruhnya tidak ikut bicara dengan menempelkan jari pada bibirnya.


"Heiii ... tidak bisa begitu." Fikar tidak setuju. "Mungkin aku lolos di tegur olehmu karena kamu sendiri yang ingin membatalkannya, tapi aku akan kena teguran Tuan Yudhis jika mengikuti ide burukmu. Aku akan di cap buruk oleh beliau."


"Maka dari itu temui mereka," ujar Biema.


"Agghh ... Oke. Aku akan temui mereka." Fikar menyerah. Apa daya dirinya hanyalah seorang bawahan. Jadi wajib patuh pada atasan. Fikar menjalankan mobilnya dengan setengah menggerutu di dalam hati.


Sebelum Paris dan Biema sedang bermesraan, tidak jauh dari mereka ada dua orang yang bermesraan lebih dulu di balik mobil. Si pria bahkan menggesek-gesekkan hidungnya pada tubuh si wanita. Saat itu bola mata si wanita melihat Paris dan Biema yang sedang bermesraan.


Paris, pekiknya di dalam hati dengan bola mata terkejut. Aku harus segera menghindar. Dia akan melihatku. Itu tidak boleh terjadi. Dirinya panik. Jadi wanita ini segera bertindak. "Jangan di sini," cegah si wanita dengan mendorong wajah pria ini.


"Kenapa? Aku membayarmu untuk ini," ujar pria itu dengan sengit.


"Aku tahu, tapi aku tidak mau bermesraan di sini," protes wanita itu tidak kalah sengit.


"Tidak. Aku tidak mau. Sebaiknya kita segera pergi."


"Ah, sudahlah." Lalu melepaskan tangannya dari si wanita dan masuk ke dalam mobil. Si wanita bergegas ikut masuk ke dalam mobil. Bola matanya masih melihat ke arah Paris dan Biema yang sedang berjalan bergandengan tangan menuju ke mobil.


Sial. Kenapa dia muncul? Untung saja pria ini mau di ajak pergi.



Biema berada di depan pintu apartemen dan membukanya. Lalu mempersilakan Paris masuk dan di susul dirinya kemudian. Tangan Biema yang membawa kresek belanja, segera menuju ke meja pantry.


"Memang enggak apa-apa Biem, kamu pulang lebih awal? Bukannya tadi masih ada pekerjaan?" Paris masih ingin membahas itu. Karena di rasanya kurang tepat kalau pria ini memilih pulang padahal pekerjaan masih ada. Paris mendekat ke tempat Biema berdiri karena ingin melanjutkan perbincangan.


Biema yang tadinya memunggungi Paris, kini membalikkan tubuh menghadap ke arahnya. "Tidak masalah. Aku punya asisten pintar seperti Fikar."

__ADS_1


"Iya ... tapi kan kamu itu direkturnya. Mungkin tamu-tamu itu inginnya di temui kamu, bukan Fikar."


"Itu sama saja. Karena Fikar adalah wakilku. Kalau mereka tidak menghargai Fikar, berarti mereka tidak menghargaiku juga," pungkas Biema membuat Paris mengalah. Dia memang tidak harus banyak bicara jika Biema sudah memutuskan. Upaya dia untuk mengingatkan Biema sudah ada. Hanya saja tidak berhasil.


"Ya. Semoga saja semua berjalan dengan baik," ujar Paris berbelok hendak menuju ke kamarnya karena merasa pembicaraan sudah selesai. Namun Biema segera menarik lengan Paris hingga membuatnya terpelanting ke dada bidangnya. "Biema!" seru Paris terkejut. Biema memeluk Paris dengan erat.


"Apa?" tanya Biema seraya menundukkan pandangan ke bawah. Ke arah istrinya yang sedang mendongak ke arahnya.


"Kenapa memilih bolos kerja? Kan masih ada pekerjaan di sana?" Paris masih berusaha membujuknya.


"Aku ingin pulang," jawab Biema enteng. Paris menatap Biema lurus-lurus. Tidak setuju dengan alasan yang di katakan Biema. "Oke. Aku tahu mungkin tidak tepat aku pulang sekarang, tapi aku yakin pekerjaanku nanti tidak akan berjalan dengan baik."


"Kenapa? Sepertinya kamu tidak pernah melakukan pekerjaanmu dengan buruk." Paris mengerutkan kening dengan tubuhnya masih dalam dekapan Biema.


"Memang. Aku selalu yakin akan berjalan dengan baik karena mengerjakan pekerjaanku dengan sungguh-sungguh. Namun kali ini tidak." Biema mengatakan kalimat terakhir dengan melempar pandangan lurus ke arah lain. Seperti sedikit menerawang.


"Tidak? Kenapa? Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Paris beruntun. Dia khawatir. Biema menundukkan pandangan ke arah Paris lagi sambil tersenyum. Bola mata Paris membulat dan berkedip saat menatapnya. Dia menunggu jawaban dari pria ini.


"Ya. Akhir-akhir ini banyak hal yang mengganggu pikiranku."


"Benarkah? Maaf, aku tidak tahu." Paris merasa bersalah. Dia tidak tahu Biema sedang punya banyak pikiran. "Kamu bisa berbagi denganku. Mungkin aku bisa membantu. Meskipun tidak pandai, mungkin bisa sedikit membantu menyelesaikan gangguan itu." Paris dengan yakin mengatakan itu. Raut wajahnya bersungguh-sungguh. Biema menatap Paris dengan lekat. Lalu pandangan itu berubah. Kini turun dan menatap bibir gadis itu. Biema mendekatkan bibirnya ke permukaan bibir Paris. Menciumnya dengan lembut dan halus. Sontak ini membuat Paris menutup matanya pelan.


Setelah beberapa detik, Paris membuka matanya yang tertutup saat Biema mulai melepaskan bibirnya.


"Jadi aku boleh berbagi hal yang mengganggu pikiranku?" tanya Biema.


"Ya. Apapun itu kamu bisa berbagi denganku. Aku tidak ingin kamu menyelesaikan sendiri."


"Tentu. Tentu aku butuh bantuanmu. Aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Dan aku yakin kamu pandai melakukannya." Paris mengerjap tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin di katakan Biema. Dia hanya menunggu.


Biema mendekap Paris erat seraya mendekatkan bibirnya di telinga Paris. "Aku ingin menyatu denganmu. Lagi," bisik Biema membuat sekujur tubuh Paris meremang seketika. Dia tidak pernah tahu kalimat yang di ucapkan Biema barusan. Hanya saja dia paham apa yang di inginkan pria ini darinya. Apalagi saat Biema melepas dekapannya dan menatap dirinya. Paris pernah melihat bola mata berkabut itu. Yaitu ketika semuanya terjadi dengan cepat. Malam pertama. "Aku menginginkannya," ucap Biema lagi dengan suara serak seperti menahan diri dari hasrat yang membuncah.

__ADS_1



__ADS_2