Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Mereka berdua


__ADS_3


Suara itu membuat mereka berdua menoleh dengan cepat. Ternyata itu Asha dan Arga. Wajah Paris sumringah melihat kedatangan mereka. Paris berdiri dan langsung memeluk kakak iparnya. Tangannya masih membawa nasi milik Biema. Sementara Arga duduk di dekat Biema. Hampir saja dia menduduki nasi milik Paris yang di letakkan di bawah kalau Biema tidak memindahkan.


"Ugghh ... senang sekali bisa ketemu Kakakk ..." kata Paris setelah pelukan mereka lepas. Terlihat sangat jelas kalau dia sedang bahagia. Kakinya sampai bergerak-gerak kegirangan. "Ayo duduk," ajak Paris antusias. Suram yang tadi sempat menghinggapi suasana hatinya lenyap.


"Aku harus pesan makan dulu baru duduk," kata Asha.


"Eh, iya. Kakak pesan dulu, deh." Paris yang tadinya bersemangat mengajak kakak iparnya untuk duduk bersama akhirnya harus merelakan. Ia mendekat ke pria yang sudah berbincang pelan di sana.


**


Keterbatasan Biema tidak pandai memakai alas nasi dari daun itu, sedikit membuat dirinya canggung. Karena di depannya, Arga dengan mudah memegang alas nasi itu. Jika tadi, Biema sempat berpura-pura merengek ingin di suapin istrinya, kali ini ia berpura-pura bisa mengatasi alas nasi dari daun pisang yang di rekatkan dengan bambu kecil yang tajam.


Paris membantu memeganginya setelah makanannya habis lebih dulu. "Dia enggak bisa makan pakai daun beginian. Maklum masih amatiran makan di sini," ungkap Paris sambil mencibir. Biema awalnya ragu, tapi kemudian merasa nyaman saat Arga tersenyum geli.


"Sering-seringlah makan di lesehan pinggiran dengan yang pakai alas nasi seperti ini. Kamu akan jadi ahlinya saat waktunya tiba," celetuk Arga membuat Asha menepuk lengan suaminya pelan.


"Tuuhh ... Kak Arga kasih saran yang bagus," ujar Paris senang. Biema ikut tersenyum.


"Jadi kamu juga pernah menjadi amatiran seperti aku?" tanya Biema kepada Arga. Karena mereka sempat kenal lebih dulu sebelum Paris jadi istrinya, Biema lebih nyaman memanggil kakak iparnya dengan menyebut nama. Apalagi mereka seumuran. Kalaupun Biema memanggilnya 'Kakak', itu mungkin dia hanya lupa karena menyamakan dengan Paris.

__ADS_1


"Ya. Berkat dia ... Aku jadi profesional soal ini," ujar Arga sembari mendekatkan kepala Asha pada bahunya sebentar. Ini membuat perempuan itu tertawa renyah.


"Benar. Akulah gurumu," kata Asha menanggapi. Arga menggeram gemas ingin menggigit istrinya.


"Tunggu. Kenapa kalian hanya berdua? Kemana baby gembul yang menggemaskan itu?" tanya Paris yang baru menyadari keberadaan Arash tidak ada sejak tadi.


"Tidur sama uti-nya," kata Asha.


"Sama bunda?" tanya Paris heran.


"Ya. Keponakanmu itu sekarang lagi demen sama uti-nya. Tadi aja tidur siang sama uti. Lalu pas mandi, ganti bajunya minta sama uti," cerita Asha.


"Barusan aja, di ajak keluar enggak mau. Malah terlelap di gendongannya uti," tambah Arga semangat. Biema dan Paris tersenyum. "Biasanya kan sama uti kalau pas main aja. Kali tidur itu susah sekali kalau enggak sama, bundanya ini." Arga menunjuk Asha dengan dagunya.


"Kenapa bisa muncul di sini?" tanya Asha heran. Secara ini tempat favoritnya orang-orang macam dirinya dulu. Kenapa pula orang-orang kaya semacam mereka muncul di tempat ini?


"Dia yang ngajakin," tunjuk Biema pada istrinya. Asha menoleh pada Paris.


"Kangen masa itu, ya?" tebak Asha. Paris tersenyum.


"Sedikit," kata Paris sambil ketawa kecil. "Kalian kemari juga karena ingat masa-masa pacaran dulu kan?" balas Paris.

__ADS_1


"Benar. Saat aku sedang deketin dia yang dinginnya minta ampun," tuding Arga. Asha tersenyum malu sambil mendorong bahu suaminya pelan.


"Jadi di sini tempat kenangan kalian berdua?" tanya Biema memastikan.


"Benar. Ini tempat momen indah aku dan istriku dimana untuk pertama kalinya kita jalan berdua." Arga menjabarkan.


"Pertama kencan?" tanya Biema.


"Bukan. Ini tempat di mana aku di tinggal kabur olehnya karena sang mantan," tutur Asha mengejutkan. Biema terkejut. Dia tidak menyangka ini juga momen tidak menyenangkan waktu itu. Paris tertawa terbahak-bahak. Hingga Arga langsung membelai rambut istrinya dengan sayang.


"Masih aja ingat ...," ujar Arga gemas.


"Aku tidak akan pernah lupa," kata Asha sambil menjetikkan jarinya. Tiba-tiba Arga mengecup kening Asha dari samping. "Hei ..." desis Asha yang terkejut oleh ulah pria ini.


"Lanjutkan makan. Kalau tidak aku akan melakukannya lagi dan lagi. Bahkan bukan hanya kening kamu, aku ..."


"Sst. Oke. Ayo kita makan," potong Asha. Dia tahu Arga bisa benar-benar melakukan apa yang ia katakan, jika dirinya tidak menghentikan pembicaraan soal mantan Arga.


"Kalah telak juga Kak Asha, nih." Paris tertawa lagi. Biema tidak jadi canggung, karena dia membuka awal bahasan soal mantan ini. Arga dan Asha tidak membahas masalah mantan dan momen tidak menyenangkan dengan kepala panas. Malah mereka berdua terlihat romantis.


"Paris, kamu udah selesai makannya? Tumben cepat banget." Asha yang melihat Paris tidak lagi makan seperti yang lain, heran.

__ADS_1



__ADS_2