
Semua murid yang saat itu melihat Paris dengan Biema di dekat mobil, memperhatikan mereka dengan seksama. Berita soal Paris yang sudah menikah memang sudah menjadi perbincangan semuanya. Mereka semua masih penasaran dengan suami Paris.
"Itu ... Suaminya cewek itu?"
"Ya. Tampan bukan?"
"Memang tampan."
"Bukan hanya tampan. Bodinya juga sip. Apalagi sepertinya dia pria yang matang dan mapan."
"Jika melihat pria yang begitu, apa mungkin kita menolak untuk menikah?" tanya salah satu dari mereka yang langsung di sambut gelengan kepala yang lain. Kemudian terdengar sorakan ramai.
"Tentu tidak, hahahaha ..." Sorakan mereka tentu saja terdengar jelas di telinga pasangan ini. Namun tentu saja mereka tidak perlu mendengarkan. Terutama Paris. Dia sepertinya lagi sibuk dengan pikirannya sendiri.
Aku ngapain? tanya Paris.
Bagai bangun dari tidur, Paris terheran-heran dengan apa yang ia lakukan barusan. Rupanya, bukan hanya Biema yang terkejut. Paris sendiri merasa heran akan itu.
Mau cium tangan Biema? Mengejutkan, ucapnya takjub dalam hati.
Rasa kantuk ternyata mempengaruhinya. Jadi tanpa sadar Paris melakukan hal yang di luar kebiasaan.
Aku pasti sedang tidur sambil jalan nih ...
Tidak berlebihan jika Paris kelelahan karena Biema. Meskipun tidak di 'serang' oleh Biema berhari-hari, tapi dia masih bocah yang butuh adaptasi dengan hal itu. Apalagi dengan kondisi Biema yang prima, Paris jelas kewalahan. Itu membuatnya merasa tubuhnya seakan remuk. Mungkin bagi orang yang sudah terbiasa dengan 'pergulatan panas' akan mengatakan tidak ada masalah pada tubuhnya. Berbeda dengan Paris yang baru saja melakukannya.
Langkahnya di percepat karena dia terkejut sendiri sama apa yang di lakukan barusan. Bukan tidak mau, tapi belum terbiasa. Hingga akhirnya saat tersadar akan itu di sela-sela kantuk yang menyerang, dia segera geser punggung tangan itu ke arah pipinya. Itu semua murni ketidaksengajaan.
Pasti dia heran. Pasti itu. Aku yakin, ujar Paris di dalam hati.
__ADS_1
Perkiraan Paris memang benar. Pria itu terheran-heran dengan yang barusan ia lakukan. Sangat jarang sekali Paris melakukan itu pada dirinya. Meskipun Biema adalah pasangan hidup notabene suaminya, gadis itu sangat jarang melakukannya.
Bukan tidak tahu, tapi Biema tidak terbiasa dengan Paris yang seperti itu. Sangat wajar saat gadis itu melakukannya, Biema terheran-heran.
"Dia ingin cium tangan?" gumam Biema pada dirinya sendiri. Lalu tersenyum geli. "Jadi ia ingin bersikap santun kepadaku?" Biema memandangi punggung Paris dari tempatnya berdiri dengan takjub. "Itu mungkin bagus walaupun sepertinya dia melakukannya karena masih terpengaruh sama kantuknya." Biema sangat paham sekali bagaimana Paris. Dia tidak perlu merasa tidak di hargai. Karena dia tahu bagaimana awal mereka menjadi suami istri. Tidak ada cinta sama sekali di antara keduanya!
Saat itu seorang gadis baru saja keluar dari sebuah mobil mewah. Semua pandangan juga terarah kepadanya.
"Hei Priski. Tambah kece aja nih ... ," sapa seorang cowok saat mobil mewah itu pergi. "Pasti habis bermalam berdua, nih ...." Bola mata Priski melirik tajam pertanda ia tidak suka. "Waduh judes amat ngelihatnya."
"Jangan banyak ngomong deh. Masih pagi juga ... " sahut Priski sengit. Kemudian menjauh dengan di iringi sorakan tidak jelas dari para cowok yang masih nongkrong di depan sekolah. "Siapa pria di depan itu? Bahunya lebar. Tubuhnya oke. Tingginya menjulang. Penampilannya sangat menarik," gumam Priski mengamati. "Aku ada ide," lanjutnya senang. Sengaja ia menabrak tubuh pria di depan.
Biema yang sedang memperhatikan Paris dari belakang menoleh. Sedikit terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya.
"Maaf," ujar Priski dengan nada manja dan lembut. Dia tidak tahu siapa yang sedang ia tabrak.
"Aku terima maafmu," ujar Biema setelah menghadap ke belakang. Priski terkesiap saat mendongak. Matanya melebar mendapati pria ini menatapnya dingin dan tajam.
"Orangmu pasti sudah memberitahu mu apa yang aku katakan bukan?" tanya Biema.
"A-aku tidak mengerti." Priski masih mencoba berkilah.
"Jangan berlagak bodoh. Jika saja Paris mau meminta padaku untuk melenyapkan mu, kau dan wakil kepala sekolah pasti akan segera ku bereskan. Hanya saja dia terlalu tidak peduli dengan semua ulahmu. Ingat apa yang aku katakan, bocah. Jangan pernah mengganggu istriku lagi. Aku akan membereskan kalian tanpa pertimbangan jika itu terjadi," desis Biema begitu dingin dan menakutkan. Priski menelan ludah.
"Priski!" teriak salah satu gadis. Biema melirik. Kemudian melangkah masuk ke mobil miliknya. Melaju pergi dengan cepat bersamaan dengan gadis yang sedang mendekati Priski. "Dia siapa? Sugar Daddy mu?" bisik gadis itu.
"Diamlah. Aku sedang bad mood," desis Priski geram. Lalu pergi mendahului gadis yang tadi menyelamatkannya.
__ADS_1
Ujian Paris di lakukan di ruangan yang khusus di buat untuk mengikuti ujian susulan
Rupanya dia tidak sendiri. Ada dua orang teman yang juga ikut ujian susulan. Usut punya usut, ternyata mereka sedang sakit saat ujian nasional berlangsung.
Sedikit melegakan karena dia tidak sendiri. Namun menjadi tidak menyenangkan saat Paris tidak bisa mengerjakan soal dengan baik. Padahal dua orang yang sedang mengikuti ujian tampak tenang. Berbeda dengan dirinya yang sedikit panik. Namun mencoba tetap tenang.
Sial. Aku tidak belajar sama sekali. Ini semua karena Biema nih ... Karena dia berulang kali meminta 'itu' padaku, tubuhku jadi lemah dan malas bangun. Padahal sudah janji untuk bangun pagi buat melihat buku sedikit.
Gadis ini memang tidak belajar. Dia justru sedang belajar hal lain dengan Biema. Paris meringis di dalam hati. Apalagi kepalanya berulang kali menunjukkan memori kemarin saat hujan.
Biema! Kamu harus tanggung jawab!
Waktu ujian sudah selesai. Paris terlihat tidak bersemangat keluar dari ruang ujian. Wajahnya terlihat frustasi.
"Paris," panggil seseorang. Paris membalikkan tubuh. Ternyata seorang guru.
"Ya, Bu," sahut Paris sopan.
"Terima kasih lho, atas kirimannya," ujar ibu guru itu dengan memegang lengan Paris lembut.
"Kiriman?" tanya Paris tidak paham.
"Benar. Kalian sangat baik. Terima kasih ya sayang ..." Setelah mengatakan hal yang membingungkan, ibu guru itu berlalu. Paris memegang keningnya heran.
"Sayang? Apa ya?" tanya Paris masih bingung. "Enggak banget ibu guru tadi manggil aku sayang." Keningnya berkerut. "Sudahlah. Aku enggak mau mikirin itu." Paris berjalan menyusuri lorong sekolah. Saat itu ia melihat ada mini truk makanan. Tepatnya di depan ruang guru. "Tumben truk makanan ada di sini?" gumam Paris heran. "Curang nih. Aku sudah mau lulus sekolah, di sini malah ada truk makanan yang keren seperti ini."
Paris perlahan mendekat. Karena di sana juga sedang ramai anak-anak yang masuk sekolah meskipun sudah selesai ujian. Bahkan Priski juga ada di sana, tapi tidak mendekat sama sekali ke truk makanan yang keren itu. Dia sedang berdiri bersedekap di pinggir lapangan basket sambil memperhatikan semuanya yang heboh di truk makanan.
"Hai Paris!" seru mereka saat melihat gadis ini muncul. Kaki mereka segera mendekat. Paris mundur selangkah karena terkejut mereka mendekatinya tiba-tiba.
__ADS_1