
"Baiklah. Ini buatmu saja," kata biema mengalah. Paris bangun dari tidurnya. Kedua tangan gadis ini meraih-raih ke arah Biema yang belum sampai di tepi ranjang. Meminta suaminya cepat menyerahkan padanya. Karena ia ingin segera memakannya. Biema tergelak dan cepat menyodorkan kotak itu. "Iya, iya. Ini."
Dengan raut wajah bahagia, Paris menerima sodoran kotak agar-agar. Tangannya dengan cekatan membuka tutup wadah itu. Lalu segera menyendok agar-agar yang kenyal, untuk di suapkan ke dalam mulutnya.
"Aku akan menghabiskannya," tutur Paris.
"Oh, bagus itu. Aku suapin?" tawar Biema.
"Tidak. Aku makan sendiri saja."
"Oke. Sepertinya kamu takut aku ikut memakannya. Padahal bukannya tadi aku yang membawanya? Kenapa kamu yang mau menghabiskannya," ledek Biema. Paris tidak peduli. Ia hanya mencebikkan bibir karena berhasil merampas makanan suaminya. Biema mengelus lembut kepala istrinya.
"Kenapa?" tanya Paris. Ia sedang di pandangi oleh pria ini dengan tatapan aneh.
"Kamu cantik."
"Bukannya sejak awal aku memang cantik?" kata Paris membanggakan dirinya. Biema tersenyum. "Aku senang, tapi aku tidak akan membagi agar-agar ini untuk kamu. Terlalu kecil porsinya jika harus di bagi dengan kamu. Jadi jangan mencoba memujiku untuk mendapatkan agar-agar, ya ..."
"Iya. Aku tahu. Aku benar-benar berkata dengan jujur. Bukan untuk mendapatkan agar-agar," ralat Biema. "Mau keluar jalan-jalan?" tawar Biema.
"Enggak apa-apa? Mama bilang aku perlu istirahat."
"Hanya sebentar saja," kata Biema. "Kamu pakai jaket tebalmu, agar tubuhmu hangat terus."
"Benarkah? Kalau begitu aku mau. Aku memang ingin keluar tadi," kata Paris tersenyum tipis.
"Baiklah. Kita akan keluar setelah kamu menyelesaikan makan agar-agarnya," tutur Biema sambil menowel pipi Paris.
Volkswagen Golf GTI berwarna hitam mengkilat melaju garang nan lembut di jalanan. Biema dan Paris keluar rumah karena sudah merasa baikan.
"Besok kita ke dokter, ya ...," ujar Biema.
"Dokter?" Setelah bertanya begitu, tiba-tiba gadis ini menyentuh kening Biema. Membuat pria ini sedikit terkejut. Setelah melakukan itu, Paris menarik kembali tubuhnya untuk duduk di kursinya lagi. "Tubuhmu sudah normal. Enggak panas. Apa ada bagian tubuh lain yang sakit?" Dengan raut wajah khawatir, Paris memeriksa tubuh suaminya.
__ADS_1
"Bukan aku," kata Biema sambil masih mengemudi dengan tenang.
"Aku sudah duga itu. Bukannya kamu sudah mendingan. Kenapa harus berangkat ke dokter lagi?" Biema tidak langsung menjawab. Bibirnya tersenyum. Dari sini Paris merasa dirinya keliru. "Aku keliru, ya? Kamu mau ngapain sebenarnya ke dokter?" sebelum Biema meralat kalimatnya, Paris sudah memplokamasikan dirinya menjadi manusia yang punya salah.
"Bukan keliru. Memang bukan aku yang punya keperluan ke dokter," ujar Biema.
"Lalu? Aku? Bukannya tadi aku bilang aku enggak apa-apa?" Paris menoleh ke samping.
"Mungkin benar. Kamu bukan sakit. Mama bilang, mungkin saja kamu hamil. Jadi beliau minta kamu periksa ke dokter kandungan" jelas Biema.
"Oh begitu." Kepala Paris mengangguk mengerti. "Eh? H-hamil?!" tanya Paris terkejut sendiri. Dia sampai harus menoleh ke Biema dengan cepat. Rupanya dia tidak benar-benar memahami apa yang di katakan suaminya. Paris seperti sedang melamun. Manik matanya juga melebar mendengar apa yang di katakan Biema.
Pria ini sudah menduga Paris akan merespon seperti ini. Makanya dia sengaja mengulur waktu.
"Mama bilang, sepertinya mual kamu karena kemungkinan kamu hamil." Biema mengatakannya dengan lembut. Paris tidak mengatakan apa-apa. Dia sepertinya terkejut. Manik matanya berulang kali mengerjap kebingungan. Biema menepikan mobilnya. "Kita bisa beli test pack dulu, jika kamu tidak ingin ke dokter kandungan." Biema memberi usulan.
"Test pack?" tanya Paris mengerutkan keningnya seraya menengok ke samping. Biema mengangguk pelan. Paris belum pernah melihat bentukan dari alat pendeteksi kehamilan itu secara langsung, tapi dia punya gambaran karena sudah melihat di film-film.
"Itu juga bisa mendeteksi kehamilan. Kita memakai itu saja dulu," jelas Biema. Paris hanya terdiam. Ia sedang gamang.
"Oh ..." sahut Paris datar. Biema melirik.
"Ya?" Paris yang menunduk terkejut. Lalu menjawab sambil tersenyum kaku. "Tidak ada. Tidak apa-apa," sahut Paris cepat.
"Ini ... mengejutkanmu?" Biema masih belum ingin menyalakan mesin. Ia masih ingin bertanya. Paris tersenyum lagi. Masih sama. Senyuman canggung.
"Tidak. Ayo. Kita ke ... apotek ya, untuk beli test pack itu?" Paris seperti memaksakan untuk semangat. Biema menatap istrinya dalam.
"Paris ..."
"Apa?" tanya Paris.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Biema khawatir.
"Enggak. Aku kan enggak sakit. Kenapa tiba-tiba kamu lesu? Ayo. Katanya mau beli itu buat nyari tahu." Paris tersenyum lagi sambil menepuk lengan suaminya pelan. Bermaksud memberi dorongan semangat.
__ADS_1
"Ya. Kita berangkat." Biema akhirnya mau menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya. Namun sepanjang perjalanan mencari apotek, Paris justru diam. Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya. Dia hanya memandangi jalanan di luar jendela.
"Biem ... "
"Hmm?"
"Sepertinya tadi ada apotek, di jalan sebelah kiri. Kamu melewatkannya."
"Oh, ya? Aku tidak melihatnya." Bagai baru bangun dari tidur, Biema terkejut.
"Kamu kenapa? Melamun barusan?" tanya Paris.
"Enggak. Aku enggak fokus karena sedang memandangi wajah istriku." Biema mengelak dengan mata menatap menggoda. "Soalnya istriku semakin cantik." Paris mencebik mendengar gombalan Biema. "Kita jalan saja. Mencari apotek yang lain."
"Aku lapar," keluh Paris tiba-tiba.
"Lapar? Bukannya baru saja habis makan?" tanya Biema heran.
"Iya. Entahlah ... Aku merasa sangat lapar Biema," rengek Paris.
"Oke. Oke. Kita berhenti di depan dulu. Ada apotek di sana," tunjuk Biema. Paris ikut melongok ke depan. Kemudian mengangguk. Namun di dalam hati Paris was-was. Keduanya turun hampir bersamaan. Karena Biema berdiri lebih dekat dengan pintu apotek, pria itu menunggu Paris hingga dekat dengannya.
Mengulurkan tangan dan meraih kepala istri kecilnya. Membuatnya dekat dengan dirinya sendiri. Lalu melihat ke arah Paris merasa ada yang salah.
"Sebentar," kata Biema mencegah Paris melangkah.
"Apa?" tanya Paris yang kini diam karena Biema menahan kedua lengannya.
"Kenapa ini jadi berantakan?" Dengan lembut Biema merapikan rambut Paris yang berantakan. Mungkin karena tadi bersandar pada kursi mobil, jadi anak rambut gadis ini mencuat dan tidak rapi. Paris diam dan pasrah, lelakinya merapikan rambutnya. "Sudah."
"Ayo, cepat masuk. Aku sangat lapar," ujar Paris.
"Ya. Ayo." Biema mendorong punggung Paris. Sesampainya di dalam apotek, Biema langsung ingin menuju ke meja kasir. Sementara Paris berbelok ke arah lain. Apotek ini konsepnya mirip dengan mini market. Hanya saja semua barang berada di dalam etalase.
Berbeda dengan semangat Paris yang meluap saat dia mengajak masuk karena ingin segera makan. Saat sudah masuk ke dalam apotek, semangatnya luntur.
__ADS_1
"Hei," cegah Biema. Menarik lengan Paris untuk berhenti. Dengan setengah menggerutu, Paris berhenti. "Mau kemana?" tanya Biema.