Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Jika aku serius


__ADS_3


"Tidak ada yang terjadi pada kita Paris." Biema menjelaskan dengan tegas.


"Aku tidak tahu lagi harus bertanya bagaimana padamu. Kita tidur satu ranjang, Biema. Kamu dan aku! Kita!" Paris mengatakan itu dengan emosional. Diluar dugaan kata 'kita' yang di dengar Biema terasa menyenangkan. Bibir Biema tanpa sadar tersenyum mendengarnya. Padahal saat ini Paris sedang marah. "Kamu tersenyum. Kamu sedang meledekku?" tanya Paris kecewa.


"Tidak mungkin."


"Tidak. Kamu sudah melakukan itu. Berhenti bercanda denganku, Biema," ujar Paris dengan mata tajam dan tidak bersahabat. Biema menghela napas. Dia meletakkan ponselnya dan mulai serius menanggapi prasangka buruk Paris.


"Kamu tidak suka bercanda?" tanya Biema.


"Untuk hal lain mungkin aku suka di ajak bercanda, tapi sekarang ... untuk hal yang aku tanyakan padamu tadi. Itu bukan sesuatu yang pantas di bicarakan dengan bercanda Biema." Paris mengatakannya dengan mimik wajah ingin di mengerti. "Aku sudah berkata padamu bahwa kita harus tidur terpisah. Namun apa? Apa yang kulihat tadi pagi?" Paris seakan tidak percaya tentang posisi yang di temukannya tadi pagi.


"Lalu apa yang kamu lihat tadi pagi?"


"Jangan tanya aku. Kamu tahu sendiri kita berdua dalam posisi apa." Paris menghempaskan napas dengan kesal.


"Aku bukan orang yang suka bercanda untuk hal ini Paris. Aku bukan orang yang suka bermain-main." Biema mulai berdiri.


"Maka jawab dengan jujur Biema. Apa yang sudah terjadi pada kita semalam?" tanya Paris pasrah. "Aku tidak suka jika kamu menanggapi pertanyaanku dengan main-main."


"Sudah aku katakan tidak ada apa-apa di antara kita tadi malam." Kaki Biema mendekati Paris. "Kamu pikir aku suka bermain-main?" Paris diam sambil melihat ke arah lain. "Seharusnya kamu lebih takut saat aku berubah menjadi serius, Paris."


"Maksud kamu?" Dua alis Paris bertaut menyatakan bahwa dirinya tidak paham apa yang di katakan Biema.


Tiba-tiba Biema yang sudah berdiri sangat dekat, meraih tubuh Paris. Karena begitu mendadak dan tidak terduga, Paris tidak lagi bisa menghindar. Apalagi saat lengan kuat itu merengkuh tubuhnya hingga merapat dan tidak ada jarak lagi di antara mereka berdua. Gadis itu tidak bisa berkutik. Bola mata Paris melebar karena terkejut.


"B-biem." Suara Paris bergetar. Begitu juga dengan tubuhnya. Handuk di tangannya terjatuh.


"Jika aku serius, aku akan merengkuh tubuhmu tanpa perlu jarak di antara kita seperti ini." Bola mata Biema menatap bibir Paris dengan sendu. Kemudian jari pria itu mulai menyapu bibir Paris yang gemetar dengan perlahan. Paris hanya bisa menggigit bibir dan melihat Biema menatap bibirnya dengan intens.


"Aku akan ******* bibir merahmu dengan rakus. Membenamkan bibirku, lalu mengetukkan lidahku untuk memaksamu membuka mulut. Membelitkan lidah dengan puas." Tangan Biema di punggung Paris juga semakin erat memeluk. Ini membuat tubuh Paris semakin bergetar.

__ADS_1


"Aku tidak akan membiarkan tubuh suci yang belum terjamah ini hanya tertidur lelap begitu saja. Aku akan mencumbuinya. Inci per inci setiap tubuhmu dengan bibirku." Bola mata Biema mulai berkabut. Pria ini sekuat tenaga menahan hasratnya.


"Aku akan memuaskan hasratku padamu, Paris. Aku yakin akan melakukan itu jika serius. Kamu itu perempuanku. Istriku. Aku berhak untuk itu." Bola mata Paris nanar. Biema seperti menjadi sosok lain. Liar dan buas. Tubuh Paris gemetaran dan juga lemas karena mendengar satu persatu kata yang di ucapkan Biema.


"B-biem ..." lirih Paris lagi.


Namun tiba-tiba Biema memeluk tubuh Paris erat. Pria ini melakukan itu dengan lembut. "Namun aku tidak boleh melakukan itu padamu. Kamu belum siap Paris. Hatimu masih bukan untukku. Aku harus menahan diri tidak melakukan apapun padamu. Kamu belum menyerahkan dirimu sepenuhnya padaku," ujar Biema di telinganya.


Paris tertegun.


Saat ini Biema pasti mendengar degup jantung Paris yang berdetak cepat dan keras. Kesunyian ini pasti memperjelas semua itu. Biema melepaskan pelukan. Namun tangannya tidak melepaskan pegangan pada kedua lengan Paris.


"Kamu harus tahu. Aku berusaha menanggapimu dengan main-main bukan ingin mempermainkanmu. Aku menahan diri Paris. Bukan dari siapa-siapa, tapi dari sifat liar yang ku miliki." Paris hanya terdiam memandang pria di depannya.


Biema merunduk dan mengambil handuk yang jatuh ke lantai.


"Sebaiknya kita turun. Di bawah pasti semua orang bertanya dimana kita berdua." Biema meletakkan handuk di tempatnya. Sementara Paris masih tertegun. "Melihatmu tidur di lantai aku tidak tega. Jadi aku sengaja menggendongmu untuk dipindah ke ranjang. Namun aku tidak menyangka bahwa kamu akan menarik tubuhku untuk tidak pergi."


"Ya. Kamu memelukku seperti guling. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." Biema menunjukkan wajah jahilnya lagi.


"Kamu pasti ..." Paris urung melanjutkan kata-katanya. Dia pasti tidak serius. Pasti saat ini dia sedang meledekku. Abaikan.


"Bukan Paris. Aku bukan sedang meledekkmu. Itu kejadian sebenarnya tadi malam. Makanya posisi kita saling merapat tadi pagi." Biema tersenyum seakan tahu apa yang ada di pikiran gadis ini. Bola mata Paris membeliak. "Kamu rupanya liar juga." Sejurus kemudian, rona merah menjalar ke seluruh permukaan wajahnya hingga ke telinga dan lehernya.


...----------------...



...----------------...


Mereka berdua keluar dari kamar dan di sambut keluarga besar Biema yang mengumpul di ruang tengah.


"Waduh, pengantin baru. Sudah siang baru bangun."

__ADS_1


"Ya enggak apa-apa dong."


"Hei ... Biema masih belum boleh ngapa-ngapain Paris. Dia masih harus menyelesaikan sekolahnya."


"Eh, benar. Kasihan dong Biema. Hahahaha ..." Biema hanya tersenyum menanggapi ledekan keluarganya. Dia tidak terlalu menggubris saudara-saudaranya. Namun Paris yang berjalan di sampingnya menunduk malu.


"Mereka orang iseng. Jangan terlalu di dengarkan," hibur Biema pada Paris. Bibir Paris tersenyum canggung.


"Paris ke belakang saja. Mama menanti kamu," ujar Bu De.


"Memangnya ada apa, Bu De?" tanya Biema.


"Ada apa gimana? Ini kan pagi. Mamamu mau mengajak menantunya memasaklah ...." Bu De tersenyum.


Memasak? Kepala Paris langsung menoleh cepat ke arah Biema. Pria ini juga tahu bahwa Paris tidak bisa memasak. Gadis itu pernah mengaku soal itu.


"Baik Bu De. Aku akan ke dapur sama Paris." Biema memberi kode pada Paris untuk mengikutinya.


Setelah menjauh dari keluarga Biema, Paris bertanya dengan cemas, "Bagaimana ini, Biem?"


"Tenang saja. Aku akan menemanimu." Biema menenangkan gadis ini.


"Tapi kan ... tidak mungkin kamu terus saja menemaniku saat aku di suruh memasak."


"Kenapa?"


"Kak Asha saja waktu di suruh temani Bunda masak, enggak pernah di temani sama kak Arga. Padahal dia tahu bahwa kak Asha enggak bisa masak."


"Itu Arga, bukan aku." Paris yang menunduk karena cemas kini mendongak. Menoleh pada Biema yang tengah memandang ke arahnya. "Aku tidak harus jadi Arga, kan?" Bola mata Paris mengerjap. "Tenang saja. Aku akan menemanimu, Paris. Kamu bisa percaya padaku." Biema meyakinkan bahwa Paris perlu mempercayainya.


"Aku percaya," sahut Paris pelan. Biema mendengar itu. Bibirnya tersenyum. Lalu mereka berdua menuju dapur.


__ADS_1


__ADS_2