Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Firasat bunda


__ADS_3

Sore ini Asha sedang duduk bersama bunda di luar kamar perawatan. Setelah ayah Hendarto selesai minum obat beberapa menit yang lalu, sekarang beliau terlelap. Jadi bunda punya kesempatan berbincang berdua di luar kamar perawatan dengan menantunya.


"Paris tidak datang hari ini?" tanya beliau menyapa Arash yang berada di dalam gendongan Asha. Bayi kecil itu menggenggam jari telunjuk nyonya Wardah saat beliau menekan pipi gembulnya dengan lembut.


"Belum."


"Sekarang dia sedang ujian, ya?"


"Sepertinya begitu, Bun," jawab Asha.


"Bukannya waktu ujian lebih pendek dari jam sekolah biasanya?" Bunda menegakkan punggung. Kemudian bersandar sedikit pada badan kursi. Membiarkan Arash tetap menggenggam jari sambil memandangi beliau.


"Mungkin Paris lelah setelah ujian, Bun. Jadi dia memilih untuk istirahat." Asha memberikan alasan yang tepat. Sepertinya beliau sangat ingin bertemu putrinya. Dari arah lorong luar, Arga muncul. "Ayah Arash datang, Bun." Asha memberitahu kedatangan suaminya. Bunda menengok.


Arga datang sambil tersenyum. Rendra juga muncul di belakangnya. Asha melepaskan jari Arash yang memegang jari uti-nya. Arga mendekat lalu memeluk bunda. Setelah itu beralih memeluk Asha dan putranya. Melihat ayahnya datang, bayi itu menganjurkan tangan ke atas. Jika begini, Arga harus menggendongnya. Bayi itu memang butuh pelukan ayahnya.


"Semua baik-baik saja?" tanya Bunda tiba-tiba dengan raut wajah khawatir.


"Tentu. Ada apa Bun?" tanya Arga menoleh ke belakang dengan heran.


"Tidak ada. Hanya saja bunda tidak tenang belakangan ini. Bunda pikir itu karena ayahmu, tapi itu aneh. Bukannya ayahmu makin baik. Kenapa juga bunda khawatir ... Jadi Bunda pikir mungkin ada hal yang sedang menyusahkan hari-harimu," ujar beliau dengan wajah cemas yang kentara. Arga saling pandang dengan istrinya. Seperti mengerti apa yang sebenarnya sedang di pikirkan oleh bunda.


"Mungkin Bunda hanya capek. Makanya hati Bunda terasa tidak tenang." Asha memberi satu alasan yang masuk akal sambil menyentuh pundak beliau. Bunda tampak mencoba berpikir dengan kemungkinan yang Asha katakan.


"Mungkin saja begitu ya ..." Bunda menurut.


"Lebih baik Bunda istirahat dulu. Biar pegawai ayah dan Arga yang jaga." Arga memberi usulan.


"Kamu baru saja pulang kerja. Bagaimana bisa bunda menyuruh kamu menunggui ayahmu." Nyonya Wardah tidak setuju.


"Aku akan bergantian dengan pegawai ayah dan Rendra. Bunda tidak perlu cemas," ujar Arga membujuk.


"Tapi Ga ...."

__ADS_1


"Sudahlah Bunda. Arash juga sepertinya lelah. Dia ingin pulang. Angga ada di depan. Bunda bisa langsung pulang bareng Asha." Arga memaksa.


"Baiklah. Baik. Bunda akan pulang." Bunda akhirnya mau di bujuk. "Tapi nanti Bunda akan kembali ke sini setelah selesai istirahat." Bunda membuat kesepakatan.


"Iyaaa ... Bunda bisa kembali lagi kesini." Arga menyetujui kesepakatan itu.


"Bunda masuk ke dalam dulu lihat ayahmu, lalu pulang," ujar bunda.


"Ya." Setelah ijin di dapat, nyonya Wardah masuk ke dalam ruang perawatan.


"Sepertinya perasaan Bunda kuat. Aku rasa, cemas itu karena sedang merasakan apa yang sedang di alami Paris," ujar Asha.


"Ya. Aku juga berpikir begitu." Arga mengangguk pelan.


"Nggh ...." Baby Arash menggeliat tidak tenang. Itu membuat Arga kewalahan. Hingga Asha berdiri membantu suaminya memegangi tubuh Arash.


"Bagaimana kabarnya Paris?" tanya Asha sambil mengambil alih tubuh baby Arash. Kini baby Arash sudah dalam pelukan bundanya.


"Aku belum tahu. Setelah ponselku ketinggalan, aku tidak menghubunginya."


"Itu sudah pasti. Karena ada Biema di sana. Telepon saja jika ingin tahu." Arga menyentuh kepala istrinya dan mengusap lembut.



Mungkin karena lapar, Paris terbangun. Saat melihat ke arah jam dinding, sekarang sudah pukul 7 malam. Rupanya mereka berdua tertidur sangat lelap. Dia memilih keluar dari kamar Biema setelah melepas pelukan pria itu. Biema terlihat sangat lelah. Jadi Paris membetulkan letak selimut dan menuju dapur.


Ponsel di saku piyama Paris berdering. tangan gadis ini bergerak merogoh ke dalam saku. Lalu melihat ke arah layar ponsel. Kakak ipar sedang meneleponnya.


"Ya, Kak Asha," ujar Paris bersemangat. Kegiatan di dapur yang sengaja di lakukan Paris tertahan oleh adanya telepon ini.


"Gimana masalah kamu di sekolah? Sudah beres?" tanya Asha di seberang dengan rasa khawatir yang sangat kentara.


"Ya. Biema sudah datang dan menyelesaikan masalah itu."

__ADS_1


"Jadi kamu bisa ikut ujian dan lulus sekolah?"


"Ya. Mungkin bukan ujian negara seperti biasanya."


"Mm ... ujian susulan ya."


"Iya."


"Syukurlah. Apapun itu yang terpenting kamu bisa ikut ujian. Jadi bisa lulus sekolah dengan membawa ijazah. Aku khawatir juga saat Arga bilang enggak ke sekolah kamu karena ada Biema. Meski aku yakin dia pasti datang, aku takut Biema yang masih belum menyelesaikan masalah dia sendiri."


"Jadi kakak tahu juga kalau Biema yang akan datang?"


"Iya. Maaf ya, enggak kasih tahu kamu saat kamu telepon itu. Soalnya kamu pasti enggak setuju kalau Biema di kasih tahu karena dia sedang punya masalah juga. Jadinya aku ikutan Arga untuk enggak kasih tahu, agar kamu juga enggak khawatir sama Biema."


"Ya. Enggak apa-apa. Mungkin kalau aku tahu kak Arga mau kasih tahu Biema, pasti aku akan bilang jangan. Walaupun aku butuh dia, tapi saat dia juga punya masalah ... rasanya enggak tega buat nambahin masalah lagi."


"Benar. Aku tahu bagaimana rasanya itu. Walaupun kita kesulitan, jika orang yang kita cintai juga sedang kesulitan, kita memilih menyimpan kesulitan itu agar dia bisa tenang menyelesaikan masalahnya. Kita memilih mengalah untuk tidak cerita."


"Ya, seperti Kak Asha yang sebenarnya sedih saat kak Arga di jodohkan sama Hanny. Kak Asha memilih tidak menunjukkan rasa sedih itu dan memilih tenang." Paris masih ingat itu. Dia yang akhirnya mengajak kakak iparnya ini keluar dari rumah. Menjauh dari pertemuan dua keluarga yang bertujuan menjodohkan kakaknya Arga dengan putri teman orangtuanya.


"Benar. Padahal di dalam hati hancur lebur," ujar Asha mengaku. Kemudian terkekeh mengingat kejadian itu. Paris ikut tergelak. Dia juga sangat ingat kejadian itu. "Ya sudah. Aku lega jika masalah sudah selesai. Eh, tunggu. Kata Arga pihak sekolah tahu karena ada seseorang yang sedang nyari informasi soal kamu ya ..."


"Kak Arga bilang begitu?" Paris terkejut.


"Iya ... Memangnya kamu enggak tahu? Bukannya kamu bilang ada seseorang yang sedang usil."


"Bukan enggak tahu. Hanya saja heran kak Arga sampai tahu soal itu. Karena enggak banyak orang yang tahu soal kelakuan itu anak." Paris ingat soal Priski. Bibirnya tanpa sadar mencebik sendiri. Men


"Arga menyelediki banyak hal. Sampai cewek itu juga termasuk dalam informasinya."


"Aku memang tahu bahwa kemungkinan memang ada campur tangan cewek usil itu dalam upaya aku di keluarkan dari sekolah, tapi aku tidak punya bukti yang mengarah ke dia."


"Coba saja tanya kakak kamu. Kamu bisa tahu soal cewek itu lebih rinci. Arga pasti punya bukti untuk membuatnya jera usil ke kamu. Kamu juga bisa menggunakan informasi itu untuk membalasnya."

__ADS_1


"Jadi Kak Asha menyuruhku membalas?"



__ADS_2