
Bibir Paris tersenyum. Lalu menunggu Biema berangkat.
"Dadaaa ... Cepat pulang ya sayang," ujar Paris seraya melambaikan tangannya. Biema ikut melambaikan tangan merespon istrinya.
"Padahal baru saja berangkat sudah di suruh pulang. Kangen terus nih?" ledek Asha. Paris mencebik.
"Sini tasku,” pinta Paris yang meminta tas yang di tenteng Asha.
"Katanya kamu lemas, jadi aku bawakan tasnya."
"Enggak. Aku enggak apa-apa."
"Jadi tadi hanya akting nih?" selidik Asha yang membuat Paris tertawa. Bocah ini ngeprank suaminya ternyata. Setelah Biema menghilang di gerbang depan, barulah mereka masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.
"Kamu tidur di kamar tamu saja, ya kalau lelah ... Jadi enggak perlu naik turun," kata Asha. Paris mengangguk.
"Gimana kehamilannya, Non?" tanya Bik Sumi. "Enggak rewel?" beliau mengelus perut nona mudanya yang kini bakal jadi ibu.
"Rewel, Bi. Tiap pagi muntah, tapi enggak apa-apa. Biema siap siaga." Paris pamer suami siaganya. Bik Sumi terkekeh. Asha langsung mesem seraya menowel pipi adik iparnya.
"Biema pasti panik dong tiap pagi." Asha tahu benar soal itu.
__ADS_1
"Dia cukup tenang meski mungkin sebenarnya sangat panik. Biema yang terbaik pokoknya." Paris terlihat sangat bahagia.
"Syukurlah kalau begitu. Aku sempat cemas kamu enggak nyaman dengan kehamilan yang sangat awal ini." Asha mengerti soal ini karena Paris masih berumur belasan saat perutnya berisi janin.
"Awalnya iya, tapi karena Biema suami yang baik, aku jadi merasa tenang. Aku menikmati kehamilan ini meskipun ya ... seperti kataku tadi. Mual dan muntah terus."
"Itu enggak akan lama kok Non Paris. Palingan sampai umur enam bulan. Kalau di jalani dengan sabar, nanti akan terbiasa sendiri sama mual dan muntahnya." Bik Sumi memberi semangat.
"Yap. Aku semangat kok!"
Asha dan Bik Sumi tersenyum ikut bahagia.
"Enggak ada keluhan soal hamil Paris?" tanya bunda yang sudah datang sore ini. Paris yang sedang menggoda bayi Arash yang kian membesar menggeleng. "Jadi normal-normal saja? Enggak ada mual dan muntah?" Bunda heran saat kepala putrinya menggeleng.
"Ada, tapi aku enggak apa-apa kok."
"Paris bisa melewatinya kok Bunda." Asha menenangkan mertuanya. Menurutnya, Paris lebih cepat tumbuh dewasanya darinya karena peran Biema juga. Pria itu mampu membentuk karakter Paris menjadi mandiri.
"Meski begitu, Paris itu sebenarnya sangat manja. Berbeda dengan kamu yang mandiri." Bunda malah membanggakan menantunya.
"Aku enggak manja kok," protes Paris. Di tidak sakit hati karena di bandingkan dengan kakak iparnya. Menurutnya itu sudah jadi kebiasaan bundanya.
__ADS_1
"Sekarang Paris sudah dewasa, Bunda. Dia bisa mengatasinya," bisik Asha.
"Benarkah?" bisik Bunda tidak percaya. Asha mengangguk pasti. Nyonya Wardah manggut-manggut percaya. "Ya bagus kalau begitu. Walaupun sedang hamil harus tetap aktif. Jangan manja."
"Ya kalau emang dari sananya pas hamil sakit, gimana dong?" Paris mengajak debat.
"Sakit sama manja itu enggak sama, Pariss ... Sudah. Jangan mengajak bunda debat. Di kasih tahu malah ngajak bunda debat." Nyonya Wardah menipiskan bibir. Paris cekikikan.
"Kak, gimana bikin bayi gede begini?" tanya Paris mengejutkan. Asha melirik ke arah bunda. Beliau menoleh pada putrinya.
"Yang kamu tanyakan itu apa? Mentang-mentang sudah punya suami, jadi tanyanya soal begitu," ledek bunda.
"Eh? Memangnya Paris tanya apa?" Dia ternyata bingung juga sudah tanya apa barusan. "Supaya bayinya gede gini, aku kudu makan apa?" Paris bertanya lebih rinci.
Asha yang bungkam karena canggung membahasnya kini mulai bicara.
"Aku enggak makan makanan khusus sih, tapi mungkin bawaan dari keluarga ibu."
"Aduh, Bunda mau ke kamar mandi." Nyonya Wardah bergegas. Asha langsung mendekat ke adik iparnya.
"Hayo ... tadi tanya apaan? Emangnya masih giat nih buat olahraga malamnya?" tanya Asha dengan senyum meledek. Paris ketawa ngakak. Sekilas ia memang sedang kepikiran sama tehnik olahraga malam kakak iparnya, karena bisa menghasilkan bayi yang menggemaskan sekaligus sehat. Paris sempat mikir mesum tadi.
__ADS_1