Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Telepon Arga


__ADS_3

"Juna? Dia kan masih sekolah." Asha heran suaminya bicara soal pekerjaan. Padahal adiknya itu masih belum lulus sekolah.


"Oh benarkah?" Arga mengerjap. Merasa dia keliru bicara soal Juna. Apa Juna sembunyi-sembunyi soal pekerjaannya? "Baiklah kalau begitu."


"Tunggu. Kenapa mendadak bicara soal Juna? Ada apa?" tanya Asha merasa aneh. Dia tidak bisa merasa biasa saja karena sangat jarang Arga membahas Juna adiknya. Pasti ada suatu hal yang membuat pria ini tiba-tiba membahas Juna.


"Hmm ... tidak ada. Hanya saja tiba-tiba saja teringat Juna. Gimana kabar bocah tengil itu?" Arga berkelit. Dia memang sempat gemas dengan adik iparnya itu.


"Sepertinya baik. Terakhir aku menelepon ibu, dia sedang ujian. Juna kan satu angkatan sama Paris. Pasti sekarang juga sedang menunggu nilainya keluar," jawab Asha. Arga mengangguk-anggukkan kepala.


"Oh, jadi Juna sedang free sekarang ya?"


"Ya. Sekarang jam bebas. Karena dia hanya nunggu nilainya keluar saja. Semoga saja dia lulus dengan nilai baik. Aku ingin dia lulus dan melanjutkan kuliah." Asha selalu berharap adiknya punya jenjang pendidikan lebih tinggi darinya. Makanya dia bertekad bekerja dengan keras agar keinginannya terwujud.


"Ya. Aku harap dia mau kuliah." Arga tahu bahwa masih abu-abu bicara soal kuliah adik iparnya. Karena adik tengil itu tidak pernah membahas sekalipun soal kuliah. Arga merasa jika Juna mirip dengan Asha, kemungkinan besar anak itu akan memilih mencari uang daripada kuliah yang menghabiskan uang.


"Jadi kangen Juna. Meskipun tengil, dia adikku satu-satunya." Mendengar itu Arga langsung ingat soal kunjungannya ke rumah ibu di kampung.


"Oke. Aku akan membuat jadwal untuk kita bertiga berlibur ke rumah ibu. Sudah lama sejak Arash ada kita jarang ke sana." Arga punya rencana.


"Benarkah?" tanya Asha senang.


"Ya ..." Arga tersenyum. Dia bisa membayangkan ekspresi ceria istrinya saat akan pulang kampung.


"Terima kasih, sayang ... Mmuach." Kecupan sayang terlepas dari bibir Asha lewat ponsel. Itu membaut rengekan Arash di gendongan Asha terdengar. "Ups, adik gembul bangun," bisik Asha yang mulai menimang lebih keras daripada tadi. Arga diam sejenak karena mendengar rengekan Arash.


"Aduh bocah itu. Kalian berdua baik-baik kan?" tanya Arga. "Kamu dan Arash?" tanya Arga lagi lebih rinci.


"Baik. Aku dan putramu baik Tuan Arga Hendarto," jawab Asha jenaka.


"Bagus. Nanti aku pulang ke rumah sakit dulu. Ayah akan pulang hari ini."


"Benarkah? Syukurlah. Aku akan bilang pada semua orang rumah untuk bersiap-siap."


"Ya. Aku kerja dulu ya kalian berdua. Kalian itu cintanya ayah. Bunda dan Arash."

__ADS_1


"Iya ayah ...," sahut Asha berbisik. Karena baby Arash mulai tertidur.



Melihat Biema justru turun dan ikut dengannya masuk ke apartemen, Paris bertanya, "Kamu enggak balik ke kantor?" tanya Paris. Biema yang sudah ganti baju duduk di sofa sambil bermain dengan ponselnya mendongak melihat Paris. Gadis itu baru mendekat sambil membawa minuman di tangannya.


"Enggak," jawab Biema.


"Jangan sering pulang awal kalau enggak ada hal penting. Kasihan Fikar " Paris mendudukkan pantatnya di dekat Biema. Lalu dengan lembut Biema melingkarkan lengannya ke pinggang istrinya. Dia memilih meletakkan ponselnya di atas sofa dengan sembarangan.


"Awas minumanku tumpah." Paris mengingatkan. Biema mengambil gelas di tangan Paris dan meletakkan di meja. Kemudian menarik tubuh itu makin dekat dengan tubuhnya.


"Ada. Ada banyak hal penting yang ingin aku lakukan disini sekarang," bisik Biema. Gadis ini tersenyum. Mulai paham apa yang di maksud pria ini. "Menyenangkan sekali memelukmu setiap hari seperti ini," ujar Biema sembari menyusupkan ciuman pada bahu Paris.


"Apa Fikar enggak protes kamu pulang lebih awal lagi?" tanya Paris sambil menggeliat karena Biema tidak berhenti mengecupi lehernya. Kepala Biema menggeleng. Berhenti sesaat, lalu menatap Paris.


"Aku atasannya. Dia tidak harus protes," ucapnya penuh dengan kemutlakan pertautan seorang atasan.


"Kamu atasan yang curang," tuding Paris sambil menoleh ke samping dengan mimik jenaka. Biema makin mendekatkan wajahnya pada wajah Paris. Suasana romantis dan hangat begitu terasa.


"Ponselmu berdering," ujar Paris memilih melepas pagutan Biema. Karena ponsel itu juga memilih terus berdering daripada berhenti DNA diam karena di abaikan. Kepala Biema menunduk mencari asal suara. Ponselnya memang berdering. Layar menyala.


"Arga menelepon," ujar Biema membuat Paris panik.


"Cepat angkat," seru Paris. Biema segera mengambil ponselnya dan mendekatkan benda pipih itu dekat dengan telinganya.Tangan satunya masih memeluk istrinya.


"Ya. Halo."


"Halo, Biem. Kamu sudah menjemput Paris?" tanya Arga.


"Ya. Aku sudah menjemputnya."


"Aku menelepon ponsel Paris, tapi dia tidak menerima panggilanku." Ponsel gadis ini memang tidak berada di tangannya. Saat ganti baju ia letakkan di nakas kamar dan tidak membawanya lagi. "Apa dia bersamamu?"


"Y ..."

__ADS_1


"Aku mau tanya soal Juna," lanjut Arga sebelum mendapat jawaban dengan jelas. Biema hendak memberitahu kakak iparnya kalau saat ini ia sedang bersama Paris, tapi karena Arga bertanya soal Juna, dia urung memberitahu.


Paris penasaran apa yang di bicarakan kakaknya pada Biema. Biema tahu raut wajah penasaran itu. Pria ini segera menyalakan mode loud speaker agar istrinya tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Aku sedang ada di kantor. Paris sepertinya ada di apartemen," kata Biema membuat Paris yang ada di sampingnya heran. Karena jelas sekali Biema tidak sedang berada di kantor. Bahkan Paris ada di sampingnya, tapi pria ini enggan memberi tahu. Paris mendelik. Biema meletakkan telunjuknya di atas bibir menyuruh gadis ini diam. Paris menurut.


"Oh, ya? Mungkin dia tidur ya. Karena dia tidak mengangkat ponselnya saat aku telepon."


"Ya. Mungkin saja. Di kelelahan saat ujian."


"Mm ... padahal aku mau tanya soal Juna. Kenapa itu anak tiba-tiba memutus telepon?" tanya Arga gusar.


"Ada apa dengan Juna?" tanya Biema ingin tahu.


"Tidak. Sepertinya keluarganya tidak tahu soal dia kerja itu. Asha sendiri heran saat aku bilang dia bekerja. Karena ujian baru saja selesai. Dia pasti belum mendapatkan ijazah. Statusnya masih pelajar." Jelas sekali bahwa Juna bekerja tanpa bilang pada orangtuanya.


"Aku rasa tidak masalah. Itu menunjukkan dia adalah anak mandiri. Aku rasa Juna anak yang pandai. Sejak muda sudah ingin bekerja. Itu semangat yang bagus," ujar Biema berkomentar.


"Benar. Dia jadi mirip istriku. Food truck? Kamu memberi hadiah sekolah Paris dengan makanan gratis?" tanya Arga menyinggung soal hadiah yang di kirim Biema.


"Itu sekedar ucapan terima kasih karena Paris bisa ikut ujian."


"Ho ... begitu ya. Aku juga ingin memberitahu soal kesembuhan ayah." Arga tidak lupa juga soal keinginannya memberitahu adiknya soal ayah Hendarto. "Beliau boleh pulang nanti. Jadi jangan menjenguk ke rumah sakit lagi." Wajah Paris sumringah saat mendengar berita baik itu.


"Ayah mertua sudah bisa pulang?" tanya Biema memastikan.


"Ya."


"Oke. Aku akan memberitahu istriku. Kita akan datang ke rumah bunda untuk menjenguk."


"Jika masih banyak pekerjaan kalian bisa datang besok-besok. Tidak perlu terburu-buru. Doakan saja ayah sehat selalu."


"Oke."


__ADS_1


__ADS_2