Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Kemeja


__ADS_3

"Aku tidak ikut. Aku mau pulang."


"Tidak. Sebaiknya kamu ikut," ujar Biema langsung membuat titah. "Fikar bersiap. Katakan pada orang-orang di sana untuk ikut serta."


"Baik." Fikar melesat keluar segera menyampaikan kabar gembira.


"Kalau akhirnya kamu memaksa aku ikut, kenapa tadi sok-sokan menawari pulang segala?" tanya Paris sebal. Karena di tawari pulang, dia sudah membayangkan kasurnya yang empuk.


"Aku berubah pikiran," sahut Biema seenaknya. Lalu dia berdiri dan mengambil kemeja di lemari yang berisi kemeja gantinya di sudut ruangan. Sedikit tersamarkan kalau itu lemari pakaian karena desainnya yang bagus. "Pakai ini." Biema menyerahkan kemeja berwarna mint segar ke tangan Paris dengan sedikit memaksa.


"Apa ini?" tanya Paris mengerutkan kening. Meneliti kemeja di tangannya.


"Aku tidak mau kamu berkeliaran memakai seragam sekolah saat hari sudah menjelang malam. Kamu akan terlihat seperti bocah pemberontak yang enggan pulang kerumah dan berniat kabur." Bola mata Biema memindai gadis di depannya. Mata yang meremehkan.


"Selalu saja mengolok-olokku dengan sebutan bocah. Bukannya kamu sekarang jadi suami bocah ini?" ejek Paris sambil menunjuk dirinya dengan geram. Dia suka geregetan di katai bocah oleh Biema.


"Ya. Aku memang suami bocah manis di depanku ini." Ledekan Paris di manfaatkan Biema menjadi sebuah pujian. Ini membuat Paris merona sesaat. Sial.


"Balik lagi ke topik awal." Paris ingin lolos dari rayuan. Karena itu bisa membuat Biema menemukan rona merah sesaat di wajahnya. "Bagaimana bisa aku pakai kemejamu, Biema? Orang-orang akan tahu ini milik kamu." Paris menunjukkan kemeja yang sudah di bentangkan tangannya pada Biema.


"Kenapa?" lirik Biema enggan saat dirinya mengambil jas kerja di bahu kursi kerjanya.


"Kenapa bagaimana? Ini akan membuat orang berpikir, kita biasa saling berbagi apapun. Bahkan kemeja ini." Paris kesal harus menjelaskan itu.


"Biar saja. Kita sah melakukan itu. Kita suami istri bukan?".


"Biema! Aku enggak mau orang tahu aku yang masih sekolah ini sudah menikah."


"Walaupun itu artinya kamu adalah istri Biema pemilik perusahaan ini?"


"Jangan berbelit. Cukup. Kamu mengerti maksudku."

__ADS_1


"Pakai saja. Kamu pasti berkeringat. Itu akan membuatmu tidak nyaman saat berkumpul dengan yang lain," ujar Biema lembut. Tidak lagi dengan nada jahilnya.


"Maka dari itu pulangkan aku. Aku ingin bersantai di sofa sambil nonton tv."


"Tidak. Aku ingin di temani kamu melewatkan malam minggu ini. Bukannya setiap pasangan suka ada acara kencan saat malam minggu?"


"Itu pasangan normal. Kita bukan."


"Normal atau tidak, jika itu kamu ... aku tidak masalah." Pandangan mata Biema memang membuatnya hilang akal sejenak. Barusan saja Paris merasa berdebar di tatap Biema.


"Oke, oke. Aku akan pakai," tandas Paris mengalah. Ponsel Biema berdering. Biema melangkah menuju meja.


"Ada apa? Baiklah aku akan ke sana." Biema menutup ponselnya. "Paris, tunggu disini. Aku harus menuju tim persiapan. Mereka perlu aku disana. Aku akan kembali dengan cepat."


"Yaaa ...," jawab Paris dengan malas.



Bola matanya menancap langsung kesana.


"Kenapa tatapan kamu begitu tajam?" tanya Fikar berniat bercanda. Namun Biema sedang tidak ingin bercanda. Pria itu tetap menancapkan matanya ke arah yang sama. Fikar jadi ikut melihat.


"Dia. Karyawan magang yang aku maksud," ujar Biema. Dugaannya benar. Lei inilah yang sedang di cari oleh Biema.


"Ya. Dialah yang pernah mengobrol dengan Paris. Namanya Lei." Fikar mengulang lagi siapa nama karyawan magang yang di maksud Biema.


Tubuh dan tinggi Lei memang hampir sama dengan Biema. Maka dari itu Fikar mengatakan tiga pujian untuknya.


"Jadi dia adalah anggota tim pesta?" tanya Biema seperti tidak terima.


"Ya. Kamu sendiri memberi ijin untuknya masuk menjadi anggota meskipun bukan karyawan asli. Aku memilihnya sendiri. Dia hebat soal desain." Fikar menunjukkan jempolnya pada Biema. Memberi pujian atas hebatnya Lei. Respon Biema tidak sama dengannya. Raut wajah Biema mengerut tidak senang.

__ADS_1


"Ini akan jadi menyebalkan kalau aku mengajak Paris ikut acara makan-makan kita." Biema teringat soal ajakannya. "Aku harus segera memberitahu Paris untuk pulang saja."


"**-tunggu!" Biema sudah tidak menggubris pangillan Fikar. Biema terlihat panik tadi.


Brak! Biema membuka pintu ruang kerjanya dengan keras. Ini tidak hanya mengagetkan Paris yang berada di dalam ruangan. Namun Biema yang berdiri di ambang pintu juga terkejut.


"Aahh!" teriak Paris karena sangat terkejut dan malu. Bola mata Biema melebar sekejap. "Tutup pintunya segera, Biem!" teriak Paris panik. Tangannya sibuk menutupi tubuh bagian atasnya yang terbuka. Rupanya Paris sedang mengganti kemeja sekolahnya dengan kemeja yang di berikan Biema. Dia hanya mengenakan bra.


Karena panik dan terkejut oleh teriakan Paris, Biema menutup pintu dengan dirinya masih berdiri di dalam ruangan.


"Kenapa kamu berada di sini? Bukankah kamu seharusnya keluar saat menutup pintu tadi?" teriak Paris uring-uringan. Tangannya semakin erat menutupi tubuhnya dengan kemeja berwarna mint green itu.


Biema ikut panik jadi dia melakukan kesalahan.


"Hhh ... sudahlah ganti baju saja, sana," ujar Biema sambil mengibaskan tangannya.


"Ganti baju bagaimana? Kamu kan ada di sini. Lebih baik kamu keluar, lalu aku akan segera memakai kemejamu ini. Cepat!" Paris panik karena Biema tidak melangkah keluar. Setelah mengunci pintu, dia justru mendekat. "Kamu mau apa, Biem?" tanya Paris was-was. Saat ini dia dan Biema sedang di dalam ruangan yang terkunci. Pun dengan tubuh atasnya yanh hanya memakai bra.


"Tidak ada. Aku hanya ingin duduk," sahut Biema enteng. Paris mendengkus. Lalu menata emosinya yang sempat ingin marah besar.


"Hadap belakang. Aku akan ganti baju," pinta Paris tidak seheboh tadi. Kali ini dengan suara biasa yang menahan rasa malu.


"Aku tahu." Biema sudah melakukan itu tadi. Hanya saja Paris takut tiba-tiba laki-laki ini menoleh padanya. Paris pun memakai kemejanya dengan sesegera mungkin. "Kenapa tadi tidak mengunci pintu?" tanya Biema dengan atmosfir di sekitar mereka yang kembali tenang.


"Tentu saja karena lupa. Khilaf," terang Paris kesal. Kalimat Biema seakan mengatakan bahwa itu seperti di sengaja. "Memangnya apalagi? Tidak mungkin aku sengaja tidak mengunci pintu," gerutu Paris yang sudah mengancingkan kancing terakhir.


"Itu kan jadi memancingku," desah Biema. Paris diam mendengar itu. Biema seperti terluka. Walaupun kalimat Biema samar, tapi Paris tahu maksud pria ini. Dia mengerti tapi tidak mau membahas. Itu ranah dewasa. Paris membungkam.


Biema jadi kehilangan tujuan sebenarnya ke ruangan ini. Setelah kejadian menghebohkan barusan, dia lupa untuk melarang Paris ikut acara makan-makan karena ada Lei di sana. Mereka hanya berdiam diri meskipun Paria sudah selesai memakai kemeja Biema dengan benar.


__ADS_1


__ADS_2