Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pendamping untuk Paris


__ADS_3

"Bukan. Itu bukan ide Paris. Itu idenya Biema." Paris tidak mau mengambil pujian yang seharusnya untuk Biema. Gadis ini sedang memainkan pipi keponakannya.


"Ha? Biema?" Bunda sedikit terkejut. Biema tersenyum tipis saat Bunda menoleh ke arahnya.


"Ya. Dia cari info kesukaan Bunda. Makanya dia bawakan itu," jelas Paris. Nyonya sedikit tersipu menantunya bersusah payah mencari info tentang favoritnya. Asha ikut melihat ke arah Biema dengan senyum.


"Aduh maaf. Bunda pikir Paris yang bawa karena dulu pernah juga bawain ini Sam temannya dulu." Nyonya Wardah menepuk lengan menantunya pelan khas ibu-ibu. Paris terkesiap. Mendadak gadis ini pasang wajah horor. Takut bicara soal pria itu. Itu saat sama Lei dulu. "Makasih ya, Biem ... Bunda memang suka banget brownies," ujar Bunda senang. Biema bangga pilihannya mencari informasi tepat. Tentu saja Informasi itu ia dapat dari mamanya. Walaupun begitu, jika ia tidak bertanya-tanya, tentu tidak akan pernah tahu bahwa mertuanya suka sekali dengan brownies.


Namun, Biema juga membaca soal raut wajah panik istrinya. Dia tahu pasti ada seseorang yang membawakan brownies kesukaan mertuanya. Karena tidak ingin larut dalam kecurigaan yang berakibat seperti kisah Juna, Biema mengubur pikiran jeleknya.


Paris menahan lega saat bunda tidak bicara panjang lebar soal brownies pada Biema. Lalu celingukan mencari ayah. "Ayah di mana, Bun? Aku mau lihat ayah saja," kata Paris mau kabur dari sorot mata Biema yang tadi sempat ingin memindainya.


"Ayah ada di rumah baca. Kalian mau menyapanya?" tanya Bunda ke arah Biema yang ternyata ikut Paris berdiri.


"Iya, Bun," sahut Biema memotong langkah Paris untuk menjawab.


"Baiklah. Arga juga ada di sana dengan ayahmu. Bilang pada mereka diminta keluar untuk makan."


"Ya Bun," sahut Paris. Mereka berdua berjalan dengan beriringan. Paris diam tidak mengatakan apa-apa. Ini membuat Biema bertanya.


"Ada apa? Kenapa diam saja?"


"Enggak," sahut Paris.


"Kamu takut bunda bicara banyak soal teman kamu yang bawa brownies buat bunda tadi?" tegur Biema. Aduh. Nih orang peka banget sih. Bikin suasana keki. Paris tergelak pelan. "Jangan takut. Aku sudah coba untuk enggak jadi bocah saat cemburu." Biema mengaku. Dia mengatakan semuanya


"Kenapa cemburu? Memangnya kamu tahu itu siapa?"


"Enggak, tapi jadi paham karena kamu terlihat takut bunda bicara banyak. Pasti itu seorang cowok," tebak Biema tepat. Bahkan saat Biema melihat ke samping, mulut Paris ternganga karena kaget. Pria ini menatapnya lembut. "Aku enggak bisa selalu cemburu enggak jelas karena itu membuatmu kerepotan. Namun jika bicara jujur, aku mengaku bahwa aku ini memang mudah cemburu jika itu berhubungan dengan cowok yang pernah dekat dengan kamu." Paris diam dengan pengakuan Biema yang lembut. Suasana hening sejenak.


Suara pintu terbuka membuyarkan keheningan di antara mereka. Mereka berdua menoleh serempak.

__ADS_1


"Kalian datang ...," kata Arga muncul dari balik pintu. Paris melambaikan tangan. Lalu mereka berdua mendekat ke Arga.


"Ayah di dalam?" tanya Paris.


"Ya. Aku keluar karena mendengar ada suara seseorang di luar. Ayo masuk," ajak Arga. Di dalam, Tuan Hendarto duduk di sofa dengan bersandar di pada badan sofa yang empuk.


"Oh, Paris sama Biema ...," sambut tuan Hendarto senang. Paris langsung mendekat dan duduk di samping ayahnya dengan manja. Biema mendekat untuk mencium tangan mertuanya lalu duduk di sebelah Arga. "Bagaimana ujian kamu?" tanya tuan Hendarto.


"Baru ketemu langsung tanya ujian." Paris menggerutu. "Semua aman kok, Yah."


"Bagus. Biema juga lancar bisnisnya?" tanya Hendarto.


"Iya Ayah. Semua berjalan lancar," jawab Biema.


"Syukurlah. Jaga kesehatan. Jangan jatuh sakit seperti ayah." Beliau memberi nasehat. "Oh, ya ... Kalian sudah makan malam?"


"Sudah sih ...." ujar Paris bohong karena malas mau makan.


"Walaupun sudah makan, tetap ayah ajak makan," paksa Hendarto pada putrinya.


"Lebih baik memaksa daripada melihat putri ayah dan menantu sakit. Ayo, kita keluar untuk makan." Ayah memaksa putrinya untuk berdiri.



Mereka akhirnya makan bersama.


"Paris sudah bisa ikut ujian lagi?" Bunda baru mendengar soal ini.


"Iya, Bun. Ujian nasional kan sudah selesai. Jadi Paris bisa ikut ujian susulan." Biema menjelaskan.


"Syukurlah. Bunda sempat khawatir. Memang sih, bunda pernah bilang nggak apa-apa kalau sekolah mengeluarkan Paris karena status menikah, tapi kasihan juga dia jadi enggak punya ijazah. Meskipun mungkin nilainya jelek, tapi kan lulus dan ada ijazahnya," kata Bunda membuat Paris berwajah masam.

__ADS_1


"Ih, Bunda kok doain nilaiku jelek sih?" protes Paris.


"Kamu itu kan enggak belajar. Mana bisa dapat nilai bagus," kata bunda tepat sasaran. Biema tergelak pelan. Ternyata beliau tahu kalau putrinya sering tidak belajar. "Coba belajar yang benar. Biema nanti malu istrinya dapat nilai jelek."


"Iihh," cibir Paris. Lalu menatap Biema dengan tajam. Dia ingin bilang pada semua orang bahwa Biemalah yang membuat dirinya jadi belajar yang lain.


"Enggak apa-apa nilai Paris jelek, Bun. Dia tidak perlu unggul dalam pelajaran, yang penting dia bisa menjadi istri yang baik," ujar Biema langsung berinisiatif memuji gadis itu. Dia tidak ingin gadis itu cemberut. Ayah tergelak.


"Jadi ... anak ayah ini sudah jadi istri yang baik?" tanya ayah. Bunda mulai melirik ke arah Paris tidak percaya. Paris menipiskan bibir sambil memutar bola matanya kesal.


"Ya," jawab Biema sambil mengangguk pasti.


"Wahh ... Bagus itu," ujar ayah.


Asha merespon pengakuan Biema sambil tersenyum senang ke arah Paris.


"Ayah Benar kan, sayang?" tanya Asha pada Arga seraya menyenggol lengan suaminya manja. Arga hanya tergelak pelan. Seperti tidak merasa itu hal yang patut di hebohkan. "Ih," tegur Asha memukul lengan suaminya kesal karena mendapat respon seperti itu. Arga tergelak.


"Jika benar Paris sekarang berubah menjadi istri yang baik, itu berarti Biema sudah berjuang keras mengubah gadis ini seperti itu. Yang berjuang itu pasti Biema. Benar kan, Bun?" Arga melempar pertanyaan pada bundanya.


"Ya. Bunda yakin seperti itu. Makanya bunda ingin jodohnya Paris itu harus lebih dewasa dari dia karena itu untuk membimbing putri bunda satu-satunya. Dan bunda rasa memang Biemalah yang pantas jadi pendamping untuk Paris." Nyonya Wardah justru setuju dengan perkataan Arga. Ini membuat Biema merasa dadanya membusung bangga. Paris ternyata di anggap tidak berpotensi menjadi istri baik jika bukan karena pria ini.


"Puas bisa kalahin aku dari keluargaku sendiri Biem?" ketus Paris tidak serius. Biema menipiskan bibir dan menggeleng.


"Itu tidak mungkin," sahut Biema lembut.


"Hei, tunggu. Dari tadi bunda dengar Biema ... Biema terus ... dari bibir kamu. Memangnya kamu pantas panggil suamimu begitu saja?" tegur nyonya Wardah tiba-tiba. Paris mengerjapkan mata terkejut. Asha melihat ke arah adik iparnya. "Biema ini kan umurnya juga sama dengan kakak kamu Arga. Masa kamu panggil hanya nama saja. Enggak pantas di dengar," tegur nyonya Wardah yang sepertinya merasa putrinya kelewatan.


"Enggak apa-apa, Bun. Biar Biema tetap terlihat muda," canda Biema melindungi Paris. Gadis itu meliriknya. Bunda tergelak.


"Kamu tetap muda, kok. Ingat Paris. Belajar sopan sama suami," pesan bunda yang lebih mengarah ke ancaman.

__ADS_1


"Ya ...," sahut Paris malas. Bukan malas untuk sopan, tapi malas di omelin Bunda.



__ADS_2