
Paris melangkah lebih cepat daripada biasanya. Dia ingin segera keluar dari gedung ini. Mencari suasana baru yang bisa membuatnya melupakan kejadian tadi. Kejadian singkat yang membuatnya tidak berpikir panjang untuk pergi tanpa pamit.
Setelah melangkah dengan cepat, dia lupa satu hal. Dia tidak hapal dengan benar seluruh jalan gedung ini. Hingga akhirnya dia tersesat dan kebingungan.
Sial! Aku berada di mana ini? gumam Paris setelah sadar bahwa dia lupa kalau tidak paham seluk beluk gedung.
"Gara-gara ingin menghajar seseorang aku harus melesat pergi. Padahal aku sendiri tidak tahu arah jalan mana yang membawaku keluar." Paris berbicara sendiri dengan penuh rasa sebal. "Seandainya tadi aku masih waras, aku tahu bahwa aku harus menaiki lift hingga bisa menuju lantai dasar."
"Siapa yang tidak waras, Paris?" tegur seseorang. Paris menoleh ke belakang.
"Kak Lei."
"Jangan bilang kali ini kamu benar-benar sedang tersesat?" tanya Lei melihat raut wajah kebingungan gadis ini.
"Hahahaa ... Kenapa bisa tahu aku ada di sini?" tanya Paris yang takjub pria ini kembali menemukannya. Selain karena kaget, dia juga perlu menenangkan rasa senangnya melihat Lei yang kini menjadi seorang pria.
"Aku melihatmu melintas dengan cepat. Aku mencoba mengikuti. Ada apa?"
"Hah? Ada apa?" tanya Paris heran. Dia tidak paham maksud mantannya ini.
"Aku melihatmu sedang ... kacau." Manik mata Paris mengerjap. Dia tahu? Dia menyadarinya?
"T-tidak. Aku tidak sedang kacau. Aku baik-baik saja."
"Benarkah?" selidik Lei.
"Benar. Aku tidak mungkin kacau saat sedang di tempat aneh ini. Kak Lei juga kenapa berpikir begitu?" Paris tertawa hanya untuk menyembunyikan rasa malu dan gugupnya. Juga menyembunyikan fakata bahwa dia sedang marah karena Biema dan Mela.
"Karena aku tahu, Paris. Bukankah aku pernah jadi orang yang memahamimu?"
Oke. Paris malu jika ketahuan tersesat. Jadi dia berusaha mengalihkan raut wajah malu lewat ketawa. Lalu dia juga harus menyembunyikan soal dirinya yang marah karena Biema dan Mela. Paris bisa melakukan itu. Namun, mendengar Lei berkata demikian, Paris tidak bisa lagi menyembunyikan rona merahnya. Tiba-tiba saja dia tersipu.
Busyet! Ini di luar perkiraan. Paris langsung menunduk.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa, Paris?" tanya Lei mendekat karena khawatir. Paris mendongak.
"Tidak. Aku hanya tidak menyangka akan tersesat." Paris memilih mengaku tersesat daripada rona merah di wajahnya terlihat dengan jelas.
"Dimana senior Fikar tadi?" Lei menoleh ke kanan ke kiri. Mencari sosok Fikar yang terakhir tadi bersama Paris.
"Dia sedang ..."
"Paris! Aku sedang mencarimu!" teriak Fikar menghampiri mereka berdua.
"Ya ... dia sedang mencariku." Paris membuka kartu pada akhirnya. Tersenyum ketahuan.
"Ketemu kamu lagi, Lei." Fikar melihat ke arah Lei. Pria ini mengangguk. "Paris, kemana saja kamu? Biema ..." Paris langsung menutup mulut Fikri dengan cepat. Lei terkejut. Apalagi Fikar yang langsung di bungkam oleh Paris dengan tangannya.
"Ada apa, Paris? Kenapa kamu bersikap tidak sopan pada senior?" tanya Lei menasehati. Sebenarnya Paris ingin mendorong pria ini agar menjauh tapi mendengar nasehat Lei, Paris luluh.
"Ah, maafkan saya, senior Fikar Saya minta maaf," ujar Paris usai melepas bekapan tangannya pada mulut bawahan Biema itu. Kali ini dia meminta maaf seraya membungkuk berulang-ulang. Fikar mengusap mulutnya sambil melihat Paris dengan kesal.
"Kamu ini ...." ujar Fikar geram.
"Ya. Kemungkinan besar dia memang tersesat." Fikar berkomentar. "Ayo Paris kita kembali," ajak Fikar. Paris terpaksa mengikuti. Karena dia tidak mau Lei tahu tentangnya.
"Ya."
"Semangat, Paris!" teriak Lei menyemangati. Sungguh, Paris senang mendengar Lei bicara barusan. Apalagi kata-katanya yang tadi. Itu sempat membuat dirinya melayang.
"Kenapa mencariku?" tanya Paris mengubah mode malu-malu di depan Lei tadi dengan wajah serius.
"Sudah pasti karena Biema. Tidak mungkin mencarimu tanpa sebab."
"Maksudku kenapa dia perlu menyuruhmu mencariku? Dia tidak perlu melakukannya. Dia masih harus mengurusi wanita itu. Mela."
"Aku tidak tahu. Namun yang pasti, dia memang harus mencarimu. Karena kamu istrinya."
"Heh, istri ...," dengkus Paris sebal. "Pantas saja terasa aneh. Dia. Pria yang bukan dari golongan pria jelek, kurang mapan atau impoten kenapa tiba-tiba terpaksa menikahiku yang seperti ini?"
__ADS_1
"Hei, kenapa gadis sepertimu tahu artinya impoten?" Fikar menatap Paris dengan terkejut, heran dan takjub. "Kamu maniak, yah? Atau kamu dan Biema sudah .... " Pikiran Fikar melayang kemana-mana.
"Hentikan! Apa yang kau pikirkan, hah?!" jerit Paris kesal. Fikar melirik. Seperti meremehkan pernyataan mereka berdua yang di katakan menikah karena tidak cinta. "Ya. Aku maniak berkelahi! Aku bisa menghajarmu sekarang hingga kamu bisa mendapatkan asuransi kerja karena kecelakaan kerja," ujar Paris mencengkeram kemeja Fikar.
"Hei, lepaskan. Aku tahu kamu juga jagoan seperti Biema." Fikar berusaha menepis tangan Paris dari kemejanya. "Yang pasti, jelas dia harus mencarimu Paris. Kenapa jadi ciut? Karena Mela?" tebak Fikar sambil mulai berjalan di samping Paris.
"Aku bukan merasa ciut? Tidak perlu merasa ciut. Aku ini sedang marah," desis Paris tidak setuju.
"Marah? Kenapa marah? Mela ngomong apa bikin kamu marah?" tanya Fikar penasaran. Mendadak tubuh Paris diam. Kakinya berhenti tidak mau melangkah. Fikar yang berjalan menoleh heran. Lalu dia ikut berhenti. "Kenapa berhenti? Biema menelepon terus nih!"
Sialan!! Kenapa aku marah? Benar kata Fikar. Kenapa aku marah? Memangnya kenapa kalau Biema mau ngajak nikah Mela? Bukannya dia pasti punya banyak masa lalu. Aku tidak boleh marah. Ya. Aku tidak berhak marah. Paris berhasil menenangkan hatinya.
"Aku merasa kamu marah. Apa karena aku masih belum bisa menerima ajakan menikahmu itu?"
Kalimat Mela di ruangan Biema terus saja terngiang di kepala Paris. Ini membuat gadis ini kembali naik darah.
"Aarrggghh!" erang Paris geram. Fikar terkejut sampai tubuhnya berjingkat. Entah kenapa teringat itu malah membuatnya semakin marah. Bagaimanapun tidak masuk akal, dia tetap ingin marah karena kalimat itu.
Di depan terlihat pintu lift.
"Fik, maaf bikin kamu susah. Katakan pada Biema kamu enggak bisa menemukanku karena aku sudah keluar dari gedung ini."
"Hei!" Setelah mengatakan itu Paris segera melesat menghampiri pintu lift. Lalu dia menghilang dengan lift yang sudah mulai turun. "Gadis itu ..." desah Fikar.
Sementara itu di ruangan Biema setelah kepergian Paris.
Biema kembali masuk ke dalam ruangan dengan wajah marah. Lalu mendapati Mela yang termenung di sofa. Melihat Biema muncul dia menoleh dengan tetap duduk.
"Aku pikir kamu tidak kembali. Aku oikir kamu pergi meninggalkanku di sini sendirian yang sedikit bingung ada apa sebenarnya dengn semua ini?" Manik mata Mela melebar merasakan ketidakpahamannya.
"Kenapa kamu perlu membahas lagi soal permintaanku waktu itu? Permintaan mengajakmu menikah," tanya Biema dengan marah yang berkilat di matanya.
__ADS_1