Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Pantai


__ADS_3

Saat mobil mulai bisa bergerak, tak ayal lagi Biema berambisi ingin mengejar adiknya. Paris membiarkan Biema melakukan itu. Dia tahu bahwa Biema tidak suka adiknya mengikuti kegiatan seperti itu. Mirip kejadian waktu di klub malam tempo dulu.


Namun tidak semudah itu mendekati Sandra. Karena banyaknya murid yang konvoi hingga membuat Sandra timbul tenggelam dalam keramaian. Namun Biema sungguh gigih mengejarnya hingga tanpa sadar mobil mereka sampai di area pantai. Mobil Biema benar-benar mengejar Sandra hingga para anggota konvoi berhenti di pantai selatan.


"Kita di pantai," celetuk Paris yang sejak tadi berdiam diri di sampingnya. Biema baru tersadar akan itu. Ia melihat tepi laut dari jalanan aspal ini. "Kamu mengejarnya hingga sampai di pantai, Biema ..." kata Paris lega akhirnya kejar-kejaran itu tamat. Meskipun mereka kehilangan Sandra.


"Aku tidak menyangka sampai di sini." Biema juga terkejut jika dirinya tiba di pantai.


"Karena kita sudah tiba di sini, sebaiknya kita juga menikmati indahnya pantai. Ayo keluar Biema," ajak Paris yang ternyata lebih bersemangat daripada tadi. Itu semua di karenakan tanpa sengaja, ia ikut juga konvoi kelulusan ini meski tidak naik motor seperti mereka. Karena Biema terlalu cemas pada adiknya yang ikut konvoi, tanpa sadar Biema terus mengikuti mereka hingga tempat perhentian. Yaitu pantai ini.


Paris memejamkan mata menikmati aroma laut yang menyegarkan.


"Aku tidak menyangka mengejar Sandra justru membuat kita menjadi anggota konvoi juga." Paris terkekeh mendengar kata-kata Biema.


"Baru nyadar? Sejak tadi sih begitu kan?" Paris menyenggol lengan suaminya. Namun secepatnya ia memeluk lengan kokoh itu. "Enggak apa-apa. Akhirnya aku bisa ikutan konvoi meski tidak benar-benar bersama yang lainnya." Paris menyandarkan kepalanya pada lengan Biema.


"Kamu bahagia sepertinya," cibir Biema.


"Ya. Aku senang." Paris tertawa. Biema yakin Paris sangat ingin ikut konvoi sebenarnya. Namun keadaan tubuhnya yang sedang hamil tidak memungkinkan. Namun, berkat mengejar Sandra yang akan di larang Biema untuk ikut konvoi, membawa mereka ke tempat ini juga. "Hei, itu Sandra," tunjuk Paris yang segera menegakkan kepala. "Sandra!!" panggil Paris. Gadis yang sedang jalan di tepi pantai bersama beberapa temannya menoleh.


Namun mendadak bola mata gadis itu melebar. Dia terperangah kaget melihat kakaknya dan Paris ada di pantai ini.

__ADS_1


"Kakak?" tanya Sandra terkejut bukan main.


"Hei itu kan Paris. Dia ikut juga ternyata ..." Beberapa dari mereka melambai dengan senang. Paris membalas lambaian tangan mereka. Sementara itu Sandra terdiam menggerutu. Biema memandangnya lurus dari tempatnya berdiri.


"Sebentar ya ... Aku mau ke sana sebentar, " kata Sandra yang langsung tahu diri karena tatapan kakaknya yang tajam. Mereka mengangguk. Sandra mendekat dengan tangan menenteng sepatu dan kepala menunduk. Paris tersenyum pelan melihat tingkah Sandra yang pasrah di marahi kakaknya.


"Kamu ikut konvoi ini Sandra?" tanya Biema datar setelah adiknya sampai di depannya. Gadis itu diam saja sambil menundukkan kepala. "Kamu pasti tahu soal ini, Sayang ..." Bola mata Biema ganti melihat ke arah istrinya.


Paris hanya menaikkan alisnya sedikit.


"Sudahlah. Maafkan dia. Toh, akhirnya aku bisa menikmati pesta perayaan lulus sekolah denganmu. Dengan pria yang aku cintai. Jadi anggap saja kamu sedang membahagiakan istrimu. Dia juga wajib bahagia seperti aku karena kita berdua sedang melakukan perayaan kelulusan. Gimana?" tawar Paris berusaha membuat Biema tidak jadi menghukum adiknya.


"Dia sudah melanggar ..."


"Ya," sahut Sandra.


"Tuh. Dia sudah setuju untuk pulang bareng kita."


"Kamu selalu saja bikin aku cemas," kata Biema geram.


"Dia sudah besar enggak perlu di cemaskan lagi. Bukannya dia seumuran denganku? Aku saja sudah mau jadi ibu. Masa dia masih terus di cemaskan olehmu?" tanya Paris berlagak membela Sandra.

__ADS_1


"Sama saja. Kamu pun masih aku cemaskan. Karena aku itu sayang kalian berdua." Paris langsung memeluk tubuh suaminya dari samping saat kalimat itu meluncur dengan indah. Sandra melihat dengan takut-takut. "Jangan terus membuatku cemas Sandra. Sebelum kamu bersuami, kamu wajib mendengarkan apa yang aku katakan. Kegiatan ini bisa saja membuatku masuk dalam bahaya."


"Iya Kak," sahut Sandra. Paris tersenyum.


"Terima kasih sayang ... Sekarang biarkan Sandra bermain bersama temannya dulu. Kita juga perlu menikmati pantai hanya berdua saja, kan?" Paris mengerlingkan sebelah matanya. Biema tergelak pelan. Hatinya luluh tidak jadi marah pada adiknya.


"Baik, nyonya Biema," canda Biema.


"Nyonya ketuaan. Aku tidak setua itu," cibir Paris. Biema tergelak lagi.


"Oke, oke."


"Aku boleh pergi dulu, Kak?" tanya Sandra yang di lupakan mereka.


"Ya, ya ... Jangan matikan ponselmu. Jika aku bilang pulang, langsung pulang. Jangan ikut kegiatan berbahaya. Jangan main sembarangan di tepi laut ..."


"Ssst ... Sandra tahu," potong Paris pada wejangan Biema. Pria itu pun diam. "Sudah. Main dulu sana. Nanti kita pulang bareng." Paris mengingatkan.


"Oke kakak ipar sayang," kata Sandra memberi hormat.


.......

__ADS_1


.......


...B E R S A M B U N G...


__ADS_2