
Setelah menahan diri untuk tidak menyentuh gadis ini beberapa waktu demi ujian yang belum selesai, ciuman Biema terasa sedikit menggebu sekarang. Ya. Ia dahaga akan kebutuhan nafkah batin. Tubuhnya mendamba belaian. Kejantanannya berontak ingin di puaskan.
Paris menyadari itu. Meskipun awalnya ia ragu dan seperti akan menolak, akhirnya dia pun bisa ikut menikmatinya. Belitan lidah pria ini terasa menggoda untuk lidahnya bergerak juga. Mencari sasaran yang tepat untuk saling melilit.
Karena sentuhan yang hangat dan lembut, Paris tergoda. Ia juga menginginkannya. Cerita syahdu tidak terelakkan lagi. Di atas meja pantry, Biema mulai menjelajahi tubuh istrinya dengan lembut. Balutan pakaian yang tadinya melekat di tubuh masing-masing, kini mulai melayang entah kemana.
Tidak seperti kisah syahdu yang sebelumnya. Dimana berisi penuh dengan kehati-hatian yang besar karena takut Paris kerepotan dengan janin diperutnya karena masih ujian. Biema merasakan gairah yang lebih besar. Apalagi di tunjang dengan kebersediaan Paris untuk di buahi. Biema membuat Paris mabuk kepayang oleh kejantanannya. Gadis ini berulang kali mendesah lirih. Menahan untuk tidak lepas kontrol.
"Jangan menahan suaramu, Paris. Aku ingin dengar," bisik Biema tepat di telinga. Biema mencium bibir Paris penuh gairah. "Aku menginginkanmu ...," bisik Biema di sela-sela ciumannya. Tangan pria ini menyingkirkan anak rambut gadis pujaannya yang acak-acakan. Walaupun begitu, baginya, Paris makin membuat libidonya naik. Dia mendamba, memuja. "Paris ...," erang Biema seakan tidak tertahankan lagi.
"Oh, Biema!" pekik Paris tertahan. Gadis ini merasa tubuhnya tidak bisa menahan lagi. Ada kenikmatan yang belum ia pernah rasakan sebelumnya. Rasa berbeda yang Biema berikan daripada penyatuan sebelumnya, membuat sekujur tubuhnya meremang. Paris menggelinjang menerima gerakan di bawahnya yang lembut dan penuh kenikmatan. Ada yang bergolak dahsyat di sana.
"Paris ..." Erangan Biema kali ini lebih keras dari yang tadi. Akhirnya erangan itu pun terhenti bersamaan dengan sebuah kehangatan yang mengalir pelan. Gerakan tubuh keduanya berhenti. Terdengar napas tersengal-sengal dari kedua manusia ini.
Biema mengecup bibir ranum menggemaskan itu, kemudian merapatkan tubuh Paris pada pelukannya. Hujan deras di luar tidak membuat mereka kedinginan. Tubuh mereka justru penuh peluh karena kegiatan mengasyikkan barusan.
"Sepertinya kamu mulai pandai melakukannya, sayang ..." bisik Biema sensual di telinga. Bibir Paris tersenyum tipis. Tersipu. Tidak menduga ada pujian untuk apa yang dia lakukan tanpa rencana tadi. "Bisa kita melakukannya lagi?" tanya Biema mengejutkan.
"Lagi?" tanya Paris tidak percaya. Manik ya melebar sekejap. Biema mengangguk. Berwajah memohon. Merajuk, berharap untuk di kabulkan. Tubuh Paris bagai candu. "A ... Apa aku mampu?" tanya Paris malu-malu.
"Aku yakin iya. Tubuhmu cukup sehat untuk menerima gairahku." Biema menggigit cuping telinganya. Oh, tidak.
"Aku sepertinya sudah tidak bisa," kata Paris membuat raut wajah Biema yang tadi merajuk, kecewa.
"Benarkah?"
"Ya. A-aku sudah tidak bisa lagi menolak," sahut Paris membuat manik mata Biema melebar. Kemudian bibirnya tersenyum puas.
"Kamu menginginkannya juga?" tanya Biema senang. Paris mengangguk. Biema langsung mengecup bibir Paris. Tiba-tiba lengan Biema menyentuh belakang lutut Paris. Membawanya dalam gendongan.
__ADS_1
"Biema?" tanya Paris terkejut. "Kita tidak jadi melakukannya?" Entah kenapa terdengar nada kecewa di sana.
"Kita akan melakukannya lagi, tapi tidak di sini. Kita akan melanjutkannya di sana. Di dalam kamar tidur kita." Biema menggerakkan dagunya menunjukkan pintu kamar mereka berdua.
"Oh begitu ..."
"Kamu takut aku menggagalkannya? Kamu kecewa jika tidak melakukannya lagi?" goda Biema. Paris menipiskan bibir ketahuan. Mereka melakukannya lagi. Biema seperti balas dendam untuk waktu yang di lewatkan tanpa bercinta karena gadis ini masih proses ujian.
Paris tidak berangkat sekolah. Selain karena ada janji sama mertua, gadis ini juga merasa lelah. Biema melakukannya berulang kali hingga membuatnya kewalahan. Namun keadaan tubuhnya yang mulai terbiasa menerima cinta dari tubuh Biema tidak seperti dulu. Meskipun lelah, Paris masih bisa melakukan aktifitas tanpa lunglai.
Siang ini Biema menjemput Paris untuk menuju ke rumah mama.
"Bawa oleh-oleh dulu ya buat mama," kata Paris.
"Tidak perlu. Bukannya di rumah banyak makanan karena buat arisan nanti."
"Kamu sudah membawa diri kamu, sayang. Jadi enggak perlu bawa yang lain," ujar Biema membuat Paris tergelak.
"Apa-apaan itu ..."
"Bukannya mama hanya ingin kamu datang. Jadi memang tidak perlu bawa apa-apa." Biema menoleh ke samping sambil mengelus kepala gadis ini.
"Oke. Aku menurut."
"Bagus," seru Biema. Paris melihat ke depan. Ke arah jalanan. "Sisa tadi malam masih sakit?" tanya Biema mulai membahas momen syahdu tadi malam.
"Enggak," jawab Paris sambil menggelengkan kepala pelan.
__ADS_1
"Syukurlah. Melihatmu tertidur lelap tadi pagi, aku merasa sudah berlebihan." Paris meletakkan kepala di bahu Biema. Ini membuat pria ini sempat menoleh cepat ke arahnya.
"Aku tidak apa-apa. Tubuhku mulai terbiasa." Biema tersenyum mendengar pengakuan istrinya.
"Aku merasa beruntung jika tubuhmu terbiasa," kata Biema dengan senyum nakal. Paris mencebik. Perjalanan menuju rumah mama Biema terasa lebih cepat dari biasanya. Beliau sudah menunggu menantunya datang dengan tidak sabar. Saat Paris muncul di depan pintu, beliau langsung menggiring Paris menuju dapur. Di sana sudah ada Sandra juga yang ternyata ikut tidak masuk sekolah. Eksekusi membuat kue pun berlangsung.
Sebenarnya Paris tidak terlalu membantu karena tidak pernah membuat kue, tapi beliau dengan sabar menjelaskan. Setelah hampir satu jam, kue berhasil di buat.
"Apa Biema kembali ke kantor?" tanya mama.
"E ... Paris tidak tahu. Biema tidak mengatakan apa-apa tadi, Ma," jawab Paris. Kepalanya celingukan melihat keluar ke pintu dapur.
"Coba di lihat aja," usul Sandra.
"Ya. Kamu bisa melihatnya dulu." Mama mengijinkan Paris keluar dari grup membuat kue. Setelah mencuci tangan, Paris masuk ke are ruang tengah. Lalu naik ke lantai dua menuju kamar Biema. Saat pintu kamar di buka, ia melihat kaki pria itu di atas ranjang. Rupanya Biema sedang tertidur. Matanya terpejam. Kaki Paris mendekat. Mengecup pipi Biema dan tersentak kaget.
"Tubuhmu hangat," kata Paris sedikit panik. Mendengar seruan itu, Biema membuka mata.
"Paris ...," gumam Biema. Bibir Paris tersenyum.
"Mau kemana?" cegah pria ini saat Paris hendak keluar kamar.
"Aku akan mencari termometer. Tubuhmu hangat. Aku khawatir."
"Sebentar. Diam di sini sebentar," pinta Biema. Paris terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik untuk duduk di pinggir ranjang.
"Suaramu serak. Kamu sepertinya flu." Paris menyentuh kening Biema lagi. "Tubuhmu panas juga. Ini karena kamu membantah untuk makan dulu. Jadinya kan sakit. Padahal kita bisa melakukannya setelah makan." Gadis ini mengomel. Ia mengingatkan Biema soal tadi malam. Pria ini menolak makan dan justru 'menyerangnya'.
"Aku bandel ya," ucap Biema pelan sambil tersenyum lemah.
__ADS_1
"Ya. Kamu bandel."