
Cekrek!
Klik!
Foto yang baru saja di buat, di kirim langsung ke seseorang oleh si pemotret. Bukan hanya satu, tapi beberapa foto yang sudah berhasil di ambil diam-diam oleh orang ini.
Di suatu kolam renang indoor, beberapa gadis sedang berenang. Lalu salah satu dari mereka mendekat ke pinggir kolam renang. Naik ke permukaan lalu duduk di kursi lounger. Melihat ada notifikasi pada bilah layar ponsel, gadis ini segera meraihnya.
Ada gambar yang di kirim mata-matanya.
"Jadi mereka mainnya ke hotel juga ... Wah, wah. Kalau ini sih enggak perlu di rekayasa juga, mereka memang beneran sedang 'main-main," ujar Priski senang. Ya. Gadis ini senang mendapatkan bahan untuk gosipnya. Dia bagaikan pencari berita yang haus akan berita heboh dari idolanya.
"Sebenarnya gosip dia adalah cewek panggilan itu dahsyat enggak sih?" tanya salah satu dari gadis yang masih berada di dalam air, ragu.
"Kenapa tanya itu? Bukannya gosip itu sudah cukup parah ..." Gadis yang satu ini menggambarkan kata parah dengan gaya hiperbola.
"Menurutku juga gitu. Namun tidak ada gerakan heboh yang membuat dia frustasi. Padahal satu sekolah sudah menggosipkan dia seperti itu, tapi dia biasa saja," imbuh kawannya. "Makanya aku jadi ragu. Ini beneran gosip yang sudah top enggak, sih?" Gadis ini mengajak diskusi.
Priski mengerutkan kening mendengar kawan mereka berbicara. "Aku rasa dia hanya berpura-pura. Tidak mungkin ada cewek yang merasa biasa saja saat dirinya di katakan cewek panggilan. Apalagi itu satu sekolah. Ada foto yang mendukung berita itu juga. Dia pasti menderita. Pasti." Priski begitu yakin saat mengatakannya.
"Iya juga. Paris pasti hanya berusaha baik-baik saja."
"Jadi kalau kamu di katakan cewek panggilan, pasti marah juga ya, Pris?" Pertanyaan polos dari temannya membuat Paris berang.
"Tentu saja! Kamu mau mengatai aku cewek panggilan, hah?!" Priski marah. Cewek-cewek itu saling menyikut. Priski mendengkus kesal. "Berarti dia merasa gosip ini kurang kuat buat dia. Karena dia tidak terpengaruh. Apa yang sebenarnya membuat dia panik, ya ... Aku harus mencari tahu."
Mobil Biema telah sampai di area parkir hotel ini. Baru saja keluar dari mobil, Paris langsung bertanya, "Ngapain kita ke hotel?" Setelah bertahan, akhirnya gagal juga untuk tidak bertanya.
"Menurutmu?" tanya Biema semakin membuat teka-teki di otak Paris.
"Tidak perlu basa-basi. Cepat katakan saja." Paris tidak sabar. Karena dengan Biema yang bermain teka-teki seperti itu, pikiran liar dirinya semakin merajalela. Itu sungguh membuat gerak Paris jadi terhambat. Mendadak gugup dan gelisah sendiri.
"Aku hanya mengajakmu makan siang," ungkap Biema.
__ADS_1
"Oh hanya makan ...," kata Paris seperti kecewa.
"Jadi ... kamu menginginkan hal lain?" selidik Biema.
"Hah? Tidak," bantah Paris.
"Kamu terdengar kecewa tadi."
"Tidak mungkin." Paris membantah dengan tegas. "Sudah. Kita harus cepat makan. Aku sudah lapar."
Ini waktunya makan siang, tentu saja Paris kelaparan. Meski dalam situasi sedikit ngambek, waktunya makan tetap harus makan.
"Terlalu berlebihan makan siang di resto hotel begini," ujar Paris sambil melirik ke kanan dan ke kiri.
"Aku sedang ingin menyenangkan istriku yang lagi ngambek gara-gara sebuah jejak cinta dari suaminya."
"Jejak cinta apa? Itu hasil gigitan kamu, Biem ..." Bola mata Paris melebar geregetan.
"Iya. Aku memang menggigitmu. Sedikit." Biema menunjukkan ujung jarinya dengan jempol. Paris menggeram melihat itu.
"Oh, begitu ... Usahamu lumayan."
"Tidak akan. Selama kamu tidak membuat ulah," desis Paris.
"Oke. Jadi kapan tepatnya kamu ujian?" tanya Biema sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Besok. Jadi malam ini aku harus tidur lebih awal. Aku tidak mau kamu menggangguku nanti malam." Peringatan keras dari Paris untuk Biema. Dia tahu 'mengganggu' yang di katakan Paris.
"Iya. Aku akan coba tahan sebaik-baiknya. Seperti sebelum-sebelumnya." Bukan hanya kali ini saja Biema harus menahan diri tidak menyentuh Paris. Itu sudah di lakukannya semenjak gadis ini bersikap acuh tak acuh kepadanya. Jadi dia yakin bahwa kali ini pun bisa.
"Biem. Kamu sadar enggak, kalau sejak tadi ada seseorang yang sepertinya mengikuti kita?" tanya Paris mulai curiga. Pria dengan tampilan sales itu begitu mencurigakan.
"Enggak."
"Masa enggak? Jelas-jelas pria itu terlihat selalu memperhatikan kita."
__ADS_1
Biema akhirnya menoleh ke arah orang yang di maksud Paris. "Mungkin saja itu orang suruhan dari saingan bisnisku."
"Oh, betul juga. Tampang sales gitu pasti berhubungan dengan sebuah perusahaan. Enggak mungkin denganku yang masih sekolah." Paris tidak terpikirkan yang lain lagi. Dia meneruskan makannya.
Padahal tinggal selangkah lagi dia berhasil membekuk penguntit yang mengambil foto mereka sejak tadi. Selangkah lagi dia bisa menghapus gosip soal cewek panggilan. Namun Pari tetaplah Paris. Kadang dia terlalu cuek dengan sekitar.
"Tentu saja," ujar Biema mendukung gerakan tidak peduli istrinya. Bola mata Biema melirik lagi ke arah pria dengan kemeja rapi dan sangat licin itu. Mencoba mengamati.
"Hei kalian. Aku tidak menyangka bisa bertemu kalian berdua di sini." Muncul Mela di sana. "Halo Paris," sapa Mela terdengar lebih ramah di banding sebelum-sebelumnya.
"Halo juga," sahut Paris sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Mau makan siang?" tanya Biema.
"Ya." Mela menjawabnya dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
"Ehem!" Paris berdehem keras. Membuat kode untuk Mela segera menghapus senyum manisnya ke Biema. Mela melirik. Pria ini sadar bahwa gadisnya sedang cemburu. Itu juga kode keras untuk dirinya agar menjaga cara bicara dan jarak dari Mela.
"Aku lupa bilang, seharusnya kalian berterima kasih padaku waktu itu." Paris yang sejak tadi sudah memperhatikan wanita ini, kini semakin memusatkan pandangan dan telinga ke arahnya.
Biema melirik. "Apa maksudmu?"
"Kalian bisa menjadi semakin akrab seperti ini, itu karena keberadaanku." Bola mata Biema menyipit. "Karena aku, kalian jadi tahu perasaan masing-masing." Biema mendengkus mendengar itu. Merasa Mela terlalu percaya diri.
"Benar. Itu benar," seru Paris tiba-tiba. Biema menoleh. "Aku rasa itu benar. Aku bisa tahu kalau aku mungkin punya perasaan spesial padamu karena Mela muncul. Aku sakit hati saat itu." Paris mengungkap lagi soal waktu itu. Mela tersenyum bangga. "Terima kasih, Mela. Sudah. Silakan pergi jika hanya ingin membuat senyum manis untuk Biema," usir Paris. Biema tersenyum geli mendengar Paris berusaha mengusir Mela.
"Gadis ini ..." geram Mela.
"Mela," sapa sebuah suara di belakang. Semua menoleh. "Aku tahu itu kamu." Seorang pria berpakaian rapi tersenyum pada Mela.
"Hai. Aku sudah menunggumu. Kenalkan, temanku dan istrinya." Mela mengenalkan pria itu pada Biema dan Paris. Biema dan Paris berdiri untuk menyambut uluran tangan pria itu. Mereka berjabat tangan. "Aku kesini bukan untuk mengganggu kalian. Maaf. Aku sudah cukup sibuk dengan menemani kekasihku." Mela memeluk lengan pria itu dengan manja.
"Wahh ... bagus, bagus. Sip." Paris masih saja dalam mode 'mengusir' Mela. Kepala wanita itu menggeleng. Lalu memutar bola matanya dengan enggan.
"Baiklah Biema. Aku pergi." Kekasih Mela juga ikut berpamitan.
__ADS_1
"Ya." Biema menyahuti Mela yang langsung di sambut dengan tatapan ganas Paris.