Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Berbagi kamar tidur


__ADS_3


"Mau ngapain?" tanya Paris masih judes.


"Menyapa saja." Sandra menjawab pelan pertanyaan Paris.


"Kamu tahu, aku sudah menikah." Tanpa di duga Sandra, Paris curhat. Sandra mengangguk. Tanpa di beritahupun dia tahu bahwa Paris hari ini menikah. "Aku menikah saat aku masih butuh main bersama teman-teman," cerita Paris dengan mengiba.


Tanpa di pungkiri Sandra, Paris memang masih butuh main seperti dirinya. Dia tidak paham kenapa orangtua mereka menikahkan dua manusia itu. Setelah mengatakan itu Paris terdiam. Sandra juga ikut diam. Tanpa bicarapun, dia tahu sahabatnya tengah bersedih.


...----------------...



...----------------...


Karena tidak ingin berlama-lama, sebelum acara selesai, Paris segera masuk ke dalam kamar. Dia yakin tidak ada tamu lagi karena acara begitu private. Bruk! Masih dengan gaun putih dan make-up di wajah, gadis ini merebah di atas ranjangnya.


Kamar ini tidak di hias layaknya kamar pengantin. Paris tidak mau. Kemudian gadis ini menangis tersedu-sedu. Dia sangat sedih sekali. Tidak lama kemudian, tiba-tiba Biema muncul. Paris yang tadinya berbaring langsung terbangun. Di usapnya airmata yang menetes tadi.


Tubuhnya bangkit dari ranjang dan bergerak menuju pintu. Meninggalkan Biema yang masuk dan hendak duduk di sofa sudut. Bola mata Biema mengikuti arah gadis itu beranjak pergi. Handle pintu di gerakkan dan gadis itu pergi keluar. Biema membiarkan.


Di luar, berpapasan dengan Arga yang terlihat  menggendong Arash yang begitu imut memakai setelan jas. Kalau biasanya Paris akan mencubit dan menciumi bayi gembul itu hingga marah, tapi kali ini dia tidak berminat.


Bayi itu kini tengah terlelap dalam gendongan ayahnya. Sementara Asha berdiri di belakangnya. Melihat Paris keluar kamar setelah mereka tahu bahwa Biema tadi sudah masuk ke dalam kamar, mereka tertegun.


"Mau kemana?" tanya Arga. Masih dengan gaun pernikahan berwarna putih, gadis itu menekuk wajahnya.


"Di dalam kamar panas. Aku ingin mencari udara di luar." Tangan Paris mengibas-ngibaskan di depan wajahnya. Menunjukkan bahwa dirinya memang sedang kepanasan.


"Bukannya di kamar ada Ac?" tanya Arga polos. Membuat Paris mendesah lelah. Soal itu, tidak perlu di kasih tahu, Paris paham. Namun tujuan dari keluarnya dia dari kamar tidur adalah ... karena di sana ada pria itu.


"Ya."


"Apa rusak? Bukannya semua sudah di siapkan bunda sebelum hari pernikahanmu ini?" Lagi-lagi Arga tidak peka.

__ADS_1


"Aku tidak tahu," jawab Paris ketus. Dia mulai kesal dengan kakaknya. "Sudahlah, aku mau turun." Paris menyudahi percakapan tidak berarti ini.


"Di bawah ada bunda," ujar Asha. Seakan tahu maksud Paris keluar dari kamar. Paris terkejut. Lalu dia melongok ke lantai bawah. Bunda memang masih ada di ruang tengah. Wajah beliau tampak berseri-seri.


Paris menghela napas lagi. Kali ini bukan marah. Hanya rasa bersalah. Akhirnya Paris kembali masuk ke dalam kamar tidur dengan langkah gontai. Kedua kakaknya masih mengawasi dengan perlahan membuka pintu. Karena Arash yang berada dalam gendongan Arga terusik dengan perbincangan mereka.


Tangan Paris membuka pintu perlahan. Biema sudah melepaskan setelan jas saat acara tadi. Kini pria itu hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Ada bulu-bulu halus yang tumbuh di kakinya. Paris yang belum pernah melihat ini secara langsung langsung melihat ke arah lain.


Melihat pintu terbuka, Biema menoleh. Paris diam tidak berkata apa-apa. Dia hanya berjalan pelan sembari menuju ranjangnya.


"Kamu mau ngapain?" tanya Paris waspada saat pria itu berjalan mendekat ke arahnya. Tubuh Paris bergeser menjauh.


"Menurut kamu aku mau ngapain? Ya, tidur," ujarnya tenang.


"Kenapa harus tidur di sini?" tanya Paris tidak setuju. Tubuhnya langsung bangkit dari ranjang dan menjauh.


"Memangnya aku harus tidur dimana?" Biema justru balik bertanya. Paris berdecak sebal.


"Ya enggak tahu." Paris menjawab se enaknya.


"Aku tidak peduli itu."


"Jadi ... " Biema beranjak duduk. "... kamu akan peduli jika bundamu sendiri naik kesini dengan kakinya yang sakit, untuk bilang ke kamu bahwa kita berdua seharusnya tidur dalam satu kamar?" Lagi-lagi Paris berdecih mendengar pria ini mengatakan hal yang menyebalkan.


"Seharusnya kamu menolak jika di suruh pergi ke kamar tidurku," dengus Paris.


"Aku tidak mungkin melakukannya karena aku tidak mau menjadi menantu buruk di depan keluargamu."


"Isshhh," gerutu Paris. Biema kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Paris melihatnya dengan sebal. Apalagi pria ini bersikap seperti tidak ada yang janggal dengan pernikahan mereka. Apalagi memaksa dirinya yang masih usia belia untuk di jadikan seorang istri.


Jika Biema tidur disini, itu berarti ... dirinya harus berbagi ranjang dengan pria ini. Tidaaaakkkk!!


...----------------...


__ADS_1


...----------------...


"Paris, Paris ...," tegur seseorang menggoncangkan tubuh gadis ini dengan keras. Dia bermaksud membangunkan Paris. "Ayo, bangun. Cepaaattt ... " Suara itu masih di sana. Suara seorang perempuan. Terdengar dari nada suaranya, pasti orang ini terburu-buru.


Paris menguap dan menggeliat di balik selimutnya. Sinar matahari masih redup.  Namun dia yakin ini sudah pagi. Karena hawa dingin masih menyelimuti, Paris enggan untuk bangun.


Mata Paris terbuka perlahan. Lalu tergambar jelas wajah kakak iparnya, Asha. Mata Paris memicing.


"Kenapa kakak bisa masuk kamarku?"


"Hei ... kamu masih mengigau yah? Aku seharusnya yang tanya, kenapa kamu bisa tidur di sini?" tanya Asha gemas. Paris menolehkan kepala. Mengajak bola matanya menyusuri tempat dia tertidur. Ternyata dia bukan tidur di dalam kamar. Dia terlelap di atas sofa di ruang santai lantai atas.


Paris baru ingat bahwa dia berinisiatif keluar kamar karena tidak mau berbagi ranjang dengan Biema.


"Cepat kembali ke kamarmu untuk mandi. Bisa gawat kalau bunda tahu kamu tidur terpisah dengan suamimu."


"Akkhhh!! Jangan sebut kata itu. Aku tidak mau. Aku tidak mau mendengar itu. Tidak!" tegas Paris seperti trauma. Tangannya menutup kedua telinga.


"Jangan berteriak. Cepat kembali ke kamarmu," usir Asha. Paris segera bangkit dengan malas menuju ke kamarnya dengan selimut dan bantal di tangannya.


Paris masuk ke dalam kamar saat pria di dalam, baru keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk melilit di pinggangnya.


"Ahh! Emmpph..." Setelah berteriak, Paris kemudian membungkam mulutnya sendiri. Bantal dan selimut yang di pegangnya otomatis terjatuh ke lantai. Secepat kilat gadis ini membalikkan tubuh menghindari matanya untuk tidak ternodai.


Biema tampak tidak terganggu dengan kehebohan Paris. Dia menunduk dan melihat dirinya sendiri.


"Tidak ada yang perlu membuatmu terkejut. Kenapa bersikap seperti itu?" tanya Biema sambil berjalan menuju ke lemari.


"Bagaimana bisa kamu berkata dengan tenang seperti itu, Biema?" Biema tidak bereaksi. Dia membuka pintu lemari pakaian dan memilah pakaian. "Kenapa kamu membuka lemariku?!" Paris tidak bisa melihat karena masih memunggungi pria ini, tapi dia bisa menghapal suara pintu lemarinya sendiri.


"Bunda bilang, lemari ini sudah bisa di isi oleh bajuku. Jadi aku meletakkan bajuku di dalam sini."


"B-bajumu? K-kapan?" tanya Paris gagap.


"Setelah sampai di rumah ini."

__ADS_1



__ADS_2