Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Tawaran


__ADS_3

"Ada rencana bekerja dengan perusahaan lain setelah selesai magang?" tanya Biema tiba-tiba pada Lei. Atmosfir yang begitu berbeda dari biasanya. Lebih ramah, sejuk, dan damai. Tidak ada perseteruan yang di munculkan oleh Biema.


Paris dan Fikar merasakan aura perdamaian di antara mereka. Sedikit terheran-heran. Namun mereka hanya mampu diam. Hanya cukup memperhatikan saja.


"Maaf. Belum ada perusahaan yang ingin merekrut saya menjadi karyawan. Saya perlu berpikir lagi mau kemana saya nantinya setelah selesai kuliah," jawab Lei. Meskipun dia masih muda jika di bandingkan Fikar dan Biema, tapi cara bicara dan sikap dia terlihat dewasa.


"Bergabunglah bersama perusahaanku," ujar Biema yang membuat Paris dan Fikar sangat terkejut. Setelah mereka terheran-heran dengan sikap damai yang di tunjukkan Biema tadi, sekarang mereka kembali merasakan hal yang sama saat pria ini tiba-tiba memberikan tawaran kerja untuk Lei.


"Emm ... Lei akan bekerja dengan kita?" tanya Fikar sekedar mengingatkan bahwa jika Biema menawarkan pekerjaan dan Lei menerimanya, ia akan terus bertemu pria ini. Dimana tidak menutup kemungkinan akan ada perbincangan antara Lei dan Paris lagi. Bukankah itu yang tidak di sukai Biema?


"Ya. Jika dia setuju," kata Biema tegas. Paris melirik raut wajah suaminya. Tidak ada keraguan dalam bola mata itu saat mengatakannya.


Apa yang membuat dia berubah seperti ini? Bukannya dia tidak menyukai Kak Lei karena dia mantanku, pikir Paris di dalam hati. Dia sangat ingin tahu, tapi menutup mulut adalah yang terbaik saat ini.


"Sungguh suatu kehormatan bagi saya, Anda mengundang saya dalam kontrak kerja, Direktur. Karena saya tidak terlalu bagus untuk diberi tawaran seperti ini," ujar Lei sambil mengiris rasa terkejut yang begitu besar atas tawaran ini.


"Jangan merendah. Aku tahu kualitasmu sebagai pegawai magang di perusahaanku. Kamu menerima?" tawar Biema lagi.


"Saya sangat berterimakasih atas tawaran ini, Tuan. Saya bersedia." Lei mengangguk pelan. Sedikit membungkuk mengucap terima kasih pada Biema. Ini adalah kesempatan emas baginya untuk mencapai jenjang karir yang mumpuni. Perasaan bahagia memenuhi seluruh tubuhnya.


"Baiklah kalau begitu. Selesaikan kuliahmu, lalu segera masuk perusahaanku. Fikar akan membuat kontrak eksklusif untuk kamu tanda tangani." Biema menggerakkan dagunya menunjuk asistennya itu.


"Terima kasih," ujar Lei lagi merasa bersyukur.


"Ya," sahut Biema. "Ayo kita kembali ke kantor Fikar."


"Ya," sahut Fikar.


"Kamu bawa kendaraan sendiri?" tanya Biema menyempatkan bertanya pada Lei sebelum pergi.


"Ya, Tuan."


"Baiklah. Sepertinya jam istirahat sudah habis." Biema melihat ke arloji di tangannya. "Kali ini saja aku memberi dispensasi padamu untuk terlambat kembali ke kantor, Lei. Karena keterlambatan ini karena aku. Untuk lain hari, tidak ada kata dispensasi soal terlambat."

__ADS_1


"Terima kasih Tuan. Terima atas ssmuanya. Termasuk undangan makan siang Anda." Biema hanya mengangguk. Lalu mereka berpencar. Lei masih tetap berada di tempatnya saat Biema, Paris dan Fikar berjalan menjauh sambil memunggunginya.


"Antarkan istriku dulu baru kembali ke kantor, Fikar," ujar Biema.


"Oke."


Saat berjalan di selasar mall menuju tempat parkir, tiba-tiba Paris menyelipkan lengannya pada pinggang Biema. Paris memeluknya dari samping. Biema terkejut. Ini adalah hal yang jarang di lakukan Paris. Apalagi di tempat umum. Fikar berjalan mendahului mereka. Dia tidak ingin melihat mereka berdua bermesraan.


"Ada apa? Kenapa memelukku?" tanya Biema sambil mengelus rambut Paris.


"Tiba-tiba saja ingin memelukmu," sahut Paris sambil tersenyum manis.


"Oh, ya? Ini sangat jarang sekali."


"Aku senang, Biem."


"Syukurlah kalau begitu. Istriku memanglah harus selalu bahagia. Dia tidak boleh sedih."


"Hei, kenapa tiba-tiba? Soal apa?" tanya Biema lembut.


"Aku tidak tahu ada apa di antara kalian berdua."


"Maksudmu aku dan Lei?" Biema mulai paham apa maksud istri kecilnya. Paris mengangguk. "Memangnya kenapa?" Biema tetap bertanya dengan lembut meskipun Paris mengungkit soal Lei lagi. Tidak ada lagi wajah di tekuk dan emosi meningkat saat membicarakan mantan kekasih Paris itu.


"Kamu bisa bersikap tenang tanpa permusuhan dengan Kak, emm ... Lei."


"Soal itu bukanlah suatu hal penting." Biema mengatakannya dengan wajah tidak peduli. Seakan itu bukan hal baru lagi.


"Itu penting. Kamu menunjukkan sisi terbaikmu. Bahwa kamu masih bisa mengontrol diri saat amarahmu naik. Pria baik seperti itu, Biem ..." Paris memberikan jempol untuk Biema.


"Aku memang pria yang baik," sahut Biema membuat Paris tertawa kecil. Merasa Biema begitu lucu saat mengatakannya. Mereka tiba di area parkir mobil bawah tanah. Fikar yang sudah sampai lebih dulu, menyalakan mesin mobil. Bersiap untuk menuju apartemen Biema mengantarkan Paris.


"Aku tahu itu. Kamu bukanlah pria sembarangan. Kak, emm ... Lei juga pasti tahu kamu adalah pria baik." Lagi-lagi Paris hampir salah bicara menyebut Lei dengan panggilan 'Kak'. Paris berusaha menghindari itu karena tahu Biema tidak suka.

__ADS_1


"Jika kesulitan panggil saja dia seperti biasa. Aku rasa panggilan itu tidak istimewa. Kamu memanggil seperti itu karena dia adalah kakak kelasmu bukan karena hal lain." Biema menyadari Paris berusaha membuatnya nyaman dengan hanya menyebut nama Lei tanpa embel-embel 'kakak' di dalamnya. Namun lidah gadis ini sudah terbiasa dengan sebutan itu.


Wajah Paris terlihat takjub dengan kata-kata Biema. Pelukannya semakin erat. Biema menaikkan alis sekilas. Pria ini kegirangan.


"Eh, Biem ... bisa merunduk sebentar," pinta Paris.


"Ada apa?" tanya Biema.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," lirih Paris. Mendadak dia menjadi tegang. Apalagi Paris terlihat hati-hati saat mengatakannya. Bola matanya juga menoleh ke kiri dan ke kanan seakan tidak ingin ketahuan orang lain.


Tubuh Biema merunduk mengikuti apa yang di pinta istrinya. Tiba-tiba Paris mencium pipinya.


"Paris ...," desis Biema terpana. Tidak menduga bahwa Paris akan menciumnya di sini.


"Aku mencintaimu," ujar Paris lembut. Biema tidak sempat berpikir lagi, gadis ini sudah menarik tangan Biema. Mengajaknya menuju mobil. Biema tersenyum di belakang tubuh istri kecilnya.


Fikar yang tidak sengaja melihat mereka dari spion mobil untuk melihat, apa mereka sudah muncul atau belum di area parkir terkejut. Bola matanya sempat menonton adegan barusan.


"Gadis itu mulai berani," ujar Fikar mendengus sambil mengalihkan padangan ke arah lain. Merasa terlambat mengamati perkembangan hubungan mereka berdua.


Paris membuka pintu karena dia tiba lebih dulu dari Biema yang ada di belakangnya. Kemudian di susul Biema masuk dalam mobil kemudian. Setelah yakin mereka berdua sudah berada di dalam mobil, Fikar mulai menjalankan mobil menuju apartemen.


"Sore ini masih ada pekerjaan penting, Fikar?" tanya Biema dari bangku belakang.


"Sepertinya ada."


"Sebuah pertemuan lagi?"


"Ya. Dengan beberapa orang ..." Termasuk Mela, lanjut Fikar dalam hati. Dia tidak mau mengatakannya.


"Apa ada Mela juga di dalam daftar itu?" tanya Biema mengejutkan. Padahal Fikar sudah menyembunyikan soal kedatangan Mela, tapi Biema justru mengungkapnya. Bola mata Fikar menoleh ke arah Paris dari kaca kecil di atasnya. Gadis itu sedang memperhatikan dirinya.


__ADS_1


__ADS_2