Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Tujuan Paris


__ADS_3


"Emm ... Kesana. Lihat-lihat," sahut Paris menunjuk ke arah lain.


"Lihat-lihat apa? Ini apotek bukan butik. Obat bukan obyek bagus buat di lihat-lihat. Kita akan ke kasir langsung menanyakan test pack, lalu pergi cari makan," sergah Biema. Dia tahu


"Kamu bisa sendirian kesana. Aku kesini dulu, lihat yang lain," ujar Paris memaksa menjauh dari pria ini.


"Hei ..." Biema menarik lagi lengan istrinya. "Aku harus beli test pack denganmu. Bukan sendirian. Karena terlihat aneh jika aku membelinya sendirian," jelas Biema melihat lurus-lurus ke arah Paris yang sepertinya akan menjauh lagi.


"Itu ..." Paris menjadi ragu.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai apotek membuat Biema mengalihkan perhatian sejenak dari Paris.


"Kita mau beli tes pack," sahut Biema membuat Paris meringis di dalam hati. Biema menoleh pada Paris meminta padanya untuk tidak pergi. Kaki Paris akhirnya mendekat ke arah meja kasir. Tangan Biema menyentuh lengan Paris. Memegangi agar gadis ini tidak pergi.


Petugas itu melirik ke arah Paris sekilas lalu tersenyum. Sedikit terkejut mereka akan membeli tes pack. Karena jika melihat fisik mereka berdua, kemungkinan mereka suami istri tidak ada. Umur yang berjarak di antara mereka sedikit mengaburkan hubungan pernikahan itu.


"Yang berjenis apa?" tanya petugas itu ramah kemudian. Biema diam sejenak. Paris sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, merasa penasaran dengan jenis tes pack.


"Memangnya ada banyak jenisnya?" tanya Paris dengan wajah polos. Karyawan apotek itu tersenyum. Biema sebenarnya juga baru mendengar soal jenis ini, tapi dia hanya diam. Namun saat Paris mencondongkan tubuhnya ingin tahu, dia ikut ambil bagian untuk bertanya juga.

__ADS_1


Karyawan itu menunjukkan beberapa tes pack.


"Jenis yang mudah saja," sahut Biema.


"Semua mudah di gunakan. Anda berdua ... pengantin baru?" tanya karyawan itu merasa pembelinya sedikit polos. Sepertinya dia juga ingin tahu apa benar bahwa dua manusia yang sepertinya bukan seumuran ini adalah pasangan suami istri.


"Iya," sahut Biema. Paris tidak mendengarkan apa yang di bicarakan mereka berdua. Gadis ini hanya perlu fokus pada alat pendeteksi kehamilan di depannya yang berbentuk macam-macam.


"Saya akan menjelaskan jika memang kesulitan," ujar karyawan itu.


"Jadi ini bisa langsung bisa mendeteksi kehamilan?" tanya Paris pelan. Karyawan itu menganggukkan kepala. Ada rasa tidak tenang dalam hati Paris.


"Tidak. Cukup satu saja," seloroh Paris. Ia menggerakkan tangannya meminta karyawan itu untuk hanya mengambil satu alat pendeteksi kehamilan. "Tidak perlu banyak mencoba. Satu saja sudah cukup," lanjut Paris. Biema yang tadinya sudah mau membeli semuanya, tidak jadi.


"Benar juga. Cukup satu tes pack saja," ujar Biema tersenyum miring ke Paris. Gadis ini melirik sekilas, lalu berjalan menjauh dari sana. Biema membiarkan gadis itu berjalan melihat-lihat obat-obatan yang berjajar dengan rapi. Ia menyelesaikan pembayaran tes pack.


Dalam pantulan kaca bening di depannya, Paris melihat lurus-lurus dirinya. Meskipun samar, ia tahu Dia bukan sedang melihat obat-obatan di depannya. Saat ini dia sedang menatap dirinya sendiri. Ada yang sedikit mengganggu pikirannya.


"Apakah kamu sedang berkomunikasi dengan obat-obatan itu?" tegur Biema jenaka begitu dekat dengan telinga Paris. Gadis ini yang sudah melihat kemunculan Biema dari kaca di depannya mendongak. Dia tidak terlalu terkejut. "Aku sudah membelinya. Kita bisa mencari makan." Biema menunjukkan kresek kecil berwarna putih ditangannya.


"Ya."

__ADS_1


"Kita mau makan dimana?" tawar Biema saat mereka berjalan menuju pintu kaca. Tangan Biema mendorong pintu kaca tebal itu dan menahannya. Membiarkan istrinya keluar lebih dulu. Lalu ia keluar kemudian.


"Aku ingin ke alun-alun kota," kata Paris.


"Alun-alun kota?" tanya Biema heran.


**


Mobil Biema berjalan lebih cepat daripada tadi. Jika mereka tadi harus pelan-pelan demi menemukan apotek yang belum jelas di mana letaknya, kali ini tidak begitu. Karena tujuan sudah jelas ke alun-alun kota, Biema dengan yakin mempercepat laju mobil.


Mereka akhirnya tiba di alun-alun kota. Tempatnya padat pengunjung. Karena segala jenis aktifitas ada di sini. Ada lapangan basket dan voli. Taman. Yang sangat di gemari adalah para pedagang kecil yang menjajakan makanan. Tempat ini juga padat. Dan tujuan Paris adalah di sana. Di warung tenda di dalam pasar malam yang ada di dekat alun-alun kota ini.


"Kenapa ingin kesini?" tanya Biema saat ia mendekat ke Paris yang sudah turun lebih dulu.


"Makanan di sini murah. Jadi aku bisa makan banyak," jawab Paris sekenanya saja. Namun tujuan dia memang itu. Perutnya nagih makanan dengan porsi agak banyak. Berbeda dengan dia yang biasanya makan secukupnya saja.


Biema tergelak. Merasa lucu dengan jawaban cuek Paris. Biema belum pernah kesini. Dia hanya dapat cerita dari Paris kalau di sini menyenangkan.


"Biasa main ke sini?" tanya Biema.


__ADS_1


__ADS_2