Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
[ Extra part ] Pose ajaib dengan pasangan


__ADS_3

"Biema ...." Paris terpaksa mendorong kepala suaminya dengan paksa. Kali ini Biema tidak lagi memaksakan kehendaknya. Dia mendongak. "Kenapa seperti itu? Kita masih di kantor." Paris mendelik.


 


"Aku sedang ingin melakukannya, sayang."


 


"Kamu tidak bisa sembarangan ingin melakukannya, Biema." Paris kesal. "Bagaimana kalau ada orang yang ... " Baru saja Paris membicarakannya, tiba-tiba ada orang yang masuk.


 


"Biema, kita ..." Fikar muncul dari balik pintu secepat kilat. Dan duo manusia di kursi kerja itu masih tetap pada posisi tadi. Saling berhadapan dengan pose provokatif. "Hah?!" Fikar mendelik. Dia sudah berteriak, tapi telapak tangannya segera menutup mulutnya.


 


Tubuh Fikar pun berbalik secepat kilat.


 


"Apa-apaan kalian ini?!" teriak Fikar marah. Paris berontak ingin turun, tapi Biema menahan tubuh Paris untuk menjauh darinya. Paris melotot. Bagaimana mungkin Biema masih ingin melanjutkan yang tadi padahal ada Fikar di sini.


 


"Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu? Bukannya aku sudah memberi tahu kamu, kalau istriku menemaniku bekerja?" Dengan tanpa rasa bersalah, Biema justru menyalahkan Fikar yang tidak bisa berkutik.


 


Fikar masih tidak membalikkan badan. Karena Ia yakin, Paris belum menyingkir dari pangkuan Biema. Bukan tidak mau, tapi dia yakin Biemalah yang tidak peduli. Bahkan meskipun itu pose berbahaya seperti yang tadi di lihatnya.

__ADS_1


 


"Walaupun kamu sudah memberi tahu, aku tidak akan pernah menduga kalau kamu akan berpose seperti sekarang dengan Paris." Fikar mengatakan ini dengan marah. Ia merasa matanya sudah ternodai.


 


Paris mendorong tubuh Biema darinya. Namun bukan menjauh Biema justru mendekatkan wajahnya pada leher Paris.


 


Tangan Paris menutup bibirnya erat-erat, takut bibirnya mendesah padahal sekarang ada Fikar di sini.


 


"Pose apa?" tanya Biema justru sengaja menggoda temannya yang lajang. Paris membuka tangannya dan memukul Biema karena nakal telah menggoda Fikar yang masih jomlo.


 


 


Paris memukul lengan Biema meminta untuk segera melepaskannya. Biema tersenyum dan patuh.  Paris pun berjalan menuju ke sofa. Dari langkah kaki itu, Fikar tahu bahwa Paris dan Biema tidak lagi berpose mesra dan sensual. Dengan begitu, ia berani membalikkan tubuhnya. Namun tetap pelan-pelan.


 


Ternyata Biema dan Paris memang sudah tidak bermesraan.


 


"Bicaralah. Ada apa?" tanya Biema.

__ADS_1


 


Sebelum mulai bicara, Fikar menghela napas panjang dulu. Setelah itu, ia melempar tatapan tajam ke Paris dan Biema bergantian. Fikar seakan menyebar hawa negatif untuk kedua orang ini karena sudah mempermainkan hati pria Lajang.


 


"Sepertinya kamu dendam denganku karena tadi," kata Biema melihat sikap Fikar barusan.


 


"Tentu saja. Kamu tidak tahu pose apa tadi? Itu bisa kamu lakukan jika kalian hanya berdua saja," protes Fikar.


 


"Bukannya tadi kita memang hanya berdua saja?" celetuk Paris membuat Fikar melotot. Paris menyentuh bibirnya yang ternyata salah bicara. Biema tergelak mendengarnya Paris bicara dengan wajah polos.


 


"Itu pose ajaib, Fikar." Biema mulai bicara.


 


"Ajaib? Ajaib bagaimana? Itu pose mesum," tuding Fikar.


 


"Mungkin bagi lajang sepertimu, itu adalah pose mesum yang tidak pantas. Padahal saat kamu melakukannya dengan pasangan menikahmu, itu bisa membuat cinta kalian makin awet," ujar Biema memberi petuah. Paris memandangi dengan wajah takjub. Sepertinya Paris beranggapan bahwa apa yang mereka lakukan tadi bisa berdampak positif bagi Biema. Ia jadi tergoda untuk melakukannya lagi. Atau bahkan bisa jadi 'positif' baginya.


____

__ADS_1




__ADS_2