Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Godaan Biema


__ADS_3

"Pulang," jawab Biema seraya menyalakan mesin mobil.


"Pulang? Katanya mau ngajak aku melakukan kegiatan lagi, kok pulang?" tanya Paris heran. Biema hanya tersenyum. Membiarkan istrinya mencari sendiri apa yang di maksudnya. "Tunggu. Jika pulang ... Apa kamu mau melakukan itu?" tebak Paris curiga. Biema masih diam. "Pasti iya! Jangan menghajarku Biem ... Aku lelah," tolak Paris tanpa peduli apa tebakannya benar atau salah. Namun ia tahu tidak ada lagi kegiatan malam yang akan dilakukan Biema di rumah dengannya selain itu.


"Apa? Aku akan melakukan apa?" tanya Biema.


"Itu ... Emm ... dikit aja boleh deh." Tiba-tiba Paris setuju.


"Boleh?" tanya Biema terkejut.


"Iya. Kita akan melakukannya sebentar saja, " imbuh Paris membuat Biema berwajah cerah.


"Jadi kamu mau aku melakukannya?" tanya Biema membuat Paris mengerjapkan mata heran.


"Bukannya kamu yang minta?"


"Minta apa?" tanya Biema. Sepetinya dugaan Paris keliru.


"Kamu bukan minta jatah tidur malam ini ya?" tanya Paris blak-blakan.


"Enggak, tapi karena di perbolehkan .. ya sudah. Aku mau," ujar Biema mengangkat alisnya. Paris menipiskan bibirnya. Lalu bersandar pada kursi mobil dan pasrah. Sementara Biema begitu bahagia karena akan menikmati malam syahdu.


...****************...


Hari pengumuman kelulusan tiba. Sejak pagi tadi Paris sudah bangun. Setelah menikmati puncak kenikmatan tadi malam tanpa memikirkan apapun, kali ini dia gelisah. Apa ia akan lulus atau tidak. Paris menggosok gigi sambil bercermin di kamar mandi. Tangannya bergerak menggosokkan sikat gigi.


"Aku lulus enggak ya ..." gumam Paris dengan mulut berbusa. Lalu berkumur dan memuntahkan busa pasta gigi ke wastafel. Kemudian bercermin lagi. "Masa aku enggak lulus sih? Pasti lulus kan?" tanya Paris pada pantulan dirinya di cermin.


Pintu kamar mandi yang tidak di tutup dengan rapat, membuat Biema yang lewat, mendengar monolog dari bibir istrinya.

__ADS_1


"Meskipun kamu enggak lulus, aku tetap cinta kok," celetuk Biema membuat Paris menoleh cepat ke arah pintu. Setelah itu kembali melihat ke cermin. Hanya sebentar, karena setelah itu ia membereskan pasta dan sikat giginya.


"Aku tahu itu. Karena kamu sudah bikin perutku buncit," kata Paris sambil menunjuk ke perutnya. Walaupun tatapan matanya sadis, tapi dia mengatakan itu dengan jenaka. Biema tergelak dan mengecup pipi istrinya.


"Benar." Setelah memeluknya. "Jangan cemaskan soal itu. Anggap saja kamu hanya perlu menuntaskan semua urutan pelepasan masa SMA."


"Itu yang berat," lirih Paris tidak terduga.


"Kamu masih mau terus sekolah?"


"Bukan begitu, tapi masa mudaku direnggut oleh pria tua yang iseng menikahi gadis sekolah," cela Paris yang justru membuat Biema makin gemas.


"Ya, aku memang pria tua itu." Biema menggesek pipinya pada rambut Paris. "Harum," ujar pria ini mengendus rambut istrinya yang terurai.


"Aku belum keramas, kok sudah harum?" tanya Paris heran.


"Apapun itu kamu tetap harum buatku," kata Biema tidak mau kalah. Akhirnya Paris membiarkan Biema mengendusi tubuhnya yang masih bercampur dengan aroma milik Biema sendiri karena kegiatan tadi malam. Paris memberontak sebentar.


"Mandi bareng aku ya?" ajak Biema.


"Enggak. Kalau mandi sama kamu, enggak bakal selesai-selesai. Nanti bakal banyak kegiatan yang harus di lakukan," tolak Paris.


"Hanya sebentar," pinta Biema.


"Biema ... Tadi malam kamu sudah melakukannya berkali-kali," seru Paris dengan bola mata melebar.


"Belum beratus-ratus kali," bantah Biema nakal.


"Kamu ini ..." geram Paris.

__ADS_1


"Mau?" Meskipun Paris menolak secara terang-terangan, Biema tetap tidak patah semangat untuk meminta. Bahkan memberi tawaran.


"Aku akan terlambat," tukas Paris.


"Tidak jika kita melakukannya hanya sebentar," ujar Biema seraya tetap memeluk tubuh istrinya.


"Memangnya puas jika hanya sebentar?" Maksud hati Paris sekedar mencibir suaminya, tapi respon Biema justru di luar dugaan.


"Kamu tidak puas? Ingin melakukannya lebih lama?"


"Bukan itu maksudku ..." Suara Paris tenggelam dengan ciuman mesra di bibir istrinya. Biema tidak memberi kesempatan bagi Paris untuk membantah lagi. Pria ini memang tangguh.


......................


Akhirnya Paris tiba di sekolah sekitar hampir setengah delapan.


"Lihatlah. Aku terlambat," gerutu Paris saat melihat halaman sekolah sepi. Dia berdiri di samping mobil dengan muka ditekuk.


"Aku akan mengantarmu masuk ke dalam," kata Biema yang sudah turun dari mobil dan berdiri di sampingnya.


"Ke dalam?" tanya Paris membelalakkan matanya. "Enggak." Kepalanya menggeleng kuat. "Aku enggak mau jadi tontonan semua orang. Sudahlah. Aku masuk sendiri saja. Sepertinya enggak apa-apa aku terlambat karena aku sudah selesai belajarnya. Kan tinggal nunggu pengumuman kelulusan saja," kata Paris merasa baik-baik saja. Padahal sejak tadi ia mengomel karena Biema membuatnya harus mandi lebih lama.


"Ya sudah ... Aku pulang saja. Masuklah ... Aku akan masuk mobil setelah melihatmu masuk." Biema mengusap rambut istrinya yang sudah di sisir rapi.


"Rambutku berantakan," omel Paris.


"Enggak. Rambut kamu masih rapi," bantah Biema. Paris menaikkan sudut bibirnya sebentar untuk merespon kalimat Biema.


"Aku masuk," kata Paris.

__ADS_1


"Ya."


......................


__ADS_2