
Sebenarnya Paris sedang belajar membuat masakan dengan mertua dan bibik. Namun karena muncul kedatangan Biema dengan sikap manjanya, dia harus merelakan jam belajarnya untuk menemani sang suami.
"Kamu enggak sakit, kan?" tanya Biema menyentuh kening Paris. Mata Paris menyipit karena pria ini menyentuhnya tiba-tiba.
"Enggak."
"Kenapa wajahmu pucat? Kamu belum makan?" tanya Biema panik.
"Sudah," sahut Paris.
"Benarkah?" Biema tidak percaya.
"Benar kok." Paris meyakinkan.
"Istrimu itu sudah makan, Biem ... Bahkan sudah tambah juga," kata mama Biema tersenyum tanpa bermaksud mencela. Justru beliau sendiri yang menemani gadis ini makan. Melihat orang makan masakannya dengan lahap, beliau senang.
"Tambah? Kamu makan dengan porsi banyak seperti kemarin?" tebak Biema.
"Iya," ujar Paris seraya memamerkan deretan giginya.
"Mengejutkan. Akan sebesar apa kamu nanti, ya?" tanya Biema sambil memberi kode pada Paris untuk menyuapkan nasi ke mulutnya. Bola mata Paris melebar. Dia memang menemani pria ini makan, tapi tidak ada niat untuk menyuapi karena mereka sedang di depan mertua dan bibik.
Untuk Paris sendiri sih, tidak peduli. Dia bisa saja langsung menyuapkan makanan pada suaminya. Namun ia mesti lihat kondisi. Dia takut Biema merasa tidak nyaman terlihat begitu manja. Sepertinya pemikirannya salah. Pria ini justru meminta sendiri, dirinya menyuapi meskipun banyak orang.
"Ya, enggak apa-apa kan badannya Paris besar. Memangnya kamu enggak suka kalau tubuhnya istri kamu berisi dan sintal?" Mama yang berada di dapur ikut bicara. Beliau mendengar percakapan putranya.
__ADS_1
Karena Paris tidak kunjung menyuapinya, Biema menangkap tangan istrinya dan memaksa tangan itu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sendiri. Ini membuat Paris mendelik.
"Tentu saja suka." Biema menjawab pertanyaan mamanya saat nasi sudah di kunyah dengan baik. Dimana raut wajahnya berubah kemudian. Biema terang-terangan menatap gadis itu dengan tatapan mesum. Paris segera menggunakan jarinya untuk membuyarkan tatapan mesum itu di raut wajah Biema. Ia tidak ingin wajah Biema seperti itu terlihat orang lain. Karena itu cukup untuknya.
"Benar. Tubuh sintal itu bagus," ujar mama menambahi sambil tersenyum pada bibik yang ikut tersenyum di samping beliau."
"Namun Paris itu terbiasa dengan tubuhnya yang tidak pernah membesar, Ma." Biema melanjutkan. Walaupun dia sedang terkejut dengan sikap Biema barusan, Indra pendengarannya masih bisa menangkap dengan baik pembicaraan Biema dan mamanya. Kepalanya mengangguk pelan. Ia setuju dengan kalimat Biema.
"Benarkah, Paris?" tanya mama. Paris menggerakkan kepalanya, menengok ke arah mama yang berada di belakang punggung.
"Iya. Paris enggak pernah gendut, Ma," sahut Paris. Mama mengangguk.
"Tapi ya enggak apa-apa. Yang penting sehat," ujar mama ingin melegakan hati menantunya. Bibik mengangguk ikut setuju apa yang di katakan majikannya. Mungkin Paris memang akan kesulitan jika tubuhnya membesar, tapi ia sudah sadar itu. Jika nafsu makannya sangat besar setiap harinya, tubuhnya akan senantiasa melebar.
Sandra muncul dengan pakaian rapi. Bola mata Paris memperhatikan gadis itu yang menerima telepon. Hari ini mereka berdua memang tidak berangkat sekolah. Kegiatan belajar mengajar yang sudah usai membuat mereka malas berangkat ke sekolah. Karena hanya menunggu hasil nilai ujian saja.
"Ma, aku mau keluar ya ...," pamit Sandra pada mamanya. Paris menengok ke belakang. Bola matanya ingin tahu kemana gadis itu akan pergi, tapi dia tidak mengeluarkan suaranya. Jika biasanya dia adalah teman pergi kemana saja untuk Sandra, kali ini tidak. Sepertinya Sandra mulai punya teman baru.
"Kan sudah ada bibik dan juga Kak Paris. Kalau harus nambah aku ya nanti pada nganggur dong karena banyak yang bantu," kata Sandra yang membuat Paris melirik seraya menipiskan bibir.
"Kamu itu. Kalau bisa kamu juga segera menikah saja. Jadi kamu punya tanggung jawab, yaitu melayani suamimu," ujar mama menasehati. Kali ini Sandra yang menipiskan bibir. Ia merasa terjebak seperti Paris. Yaitu sebuah perjodohan.
Tuk, tuk.
Jari Biema mengetuk punggung tangan istrinya. Paris yang masih menengok melihat pada saudara iparnya terkejut. Bahunya berjingkat sekejap barusan. Biema memberi kode pada Paris untuk menyuapinya. Pria ini masih dalam mode manja. Meskipun Paris mendelik karena ia meminta di suapi saat tengah berada di depan semua orang, Biema tetap pada pendiriannya untuk meminta suapan.
Akhirnya Paris memaksakan dirinya untuk terus saja menyuapi bayi besarnya.
__ADS_1
Setelah Sandra menekuk bibirnya karena dapat wejangan dari mama, akhirnya gadis itu bisa tersenyum saat beliau mengijinkan.
"Terima kasih, Ma," ujar Sandra bahagia seraya memeluk mamanya. Lalu melambai bahagia ke arah Paris seraya melewatinya. Sesaat, aroma parfum manis milik Sandra melintas di hidungnya.
"Hmmp ..." Paris menggunakan satu tangannya untuk menutupi hidungnya. Rasa tidak nyaman tiba-tiba menerpanya. Ada rasa mengganggu di perutnya yang membuatnya ingin muntah. Ia seperti mabuk perjalanan.
"Kenapa sayang?" tanya Biema yang menemukan keanehan pada Paris. Biema menangkap tangan Paris dan mencoba meneliti wajah pucat milik istrinya. "Wajahmu pucat. Ada apa?" Kepala Paris menggeleng. "Kamu tidak baik-baik saja. Kamu sakit?" Paris menggeleng lagi tanpa mengeluarkan kata-kata.
Karena Biema terus saja menyuarakan kepanikan, mama dan Bibik ikut menoleh. Sandra pun tidak jadi langsung pergi karena melihat kakak iparnya mengalami sesuatu.
Bahkan mama meninggalkan dapur dan mendekati menantunya.
"Kenapa?" tanya mama khawatir. Biema menggeleng tidak paham. Dari jarak dekat, wajah Paris yang pucat terlihat.
"Paris ..." lirih Biema pada Paris yang masih mencoba menenangkan sendiri rasa tidak nyaman.
"Kak Paris kenapa?" tanya Sandra ikut cemas.
"Mungkin dia butuh istirahat. Karena semalaman terjaga merawatmu, dia pasti kelelahan. Biema sudah selesai makannya?" tanya mama pada putranya. Biema mengangguk. "Kalau sudah selesai segera kembali ke kamar. Kalian berdua harus istirahat. Sandra, ambilkan air minum," pinta mama.
"Ya. Ma." Bibik di dapur sudah siap dengan gelas air. Menyerahkan pada Sandra yang berjalan mendekat, kemudian kembali ke meja dapur. Mama memegang bahu Paris. Sedikit memijat di sana. Ada rasa nyaman yang di rasakan Paris, tapi saat Sandra kembali muncul dengan gelas di tangannya, rasa tidak nyaman kembali menyerangnya.
"Mmpp ..." Paris mau muntah lagi. Inj membuat mama melepas pijatannya.
"Paris ..." tegur Biema pelan dengan penuh perhatian. Dia yang sudah berdiri segera memeluk istrinya dari samping. Kali ini tangan Paris bergerak memberi kode pada Sandra untuk tidak mendekat padanya. Biema dan mama langsung menoleh pada Sandra dengan tatapan bertanya. Ada apa gerangan dengan gadis ini, hingga Paris meminta dirinya tidak mendekat.
Sandra kebingungan. Dia sendiri keheranan dengan kedua orang yang melihat ke arah dirinya dengan tatapan aneh. Dia tidak paham.
__ADS_1
"Sini. Berikan gelas pada mama," pinta mama pada putrinya.