
Ini pertama kalinya Paris mendatangi tempat kerja Biema. Dia yang baru saja mengenal pria ini memang tidak terlalu mengerti tentang dirinya.
"Aku sudah memberitahu Biema bahwa kamu datang ke kantor," ujar Fikar sambil mengetik pesan pada Biema.
"Sebenarnya enggak perlu. Aku bukan tamu penting." Fikar mendongak dan menoleh pada Paris yang berjalan di sampingnya. Bagaimana bisa perempuan ini bukan tamu penting. Bukannya di istri dari putra pemilik perusahaan ini?
"Itu tugasku. Aku antar kamu ke kantornya." Fikar membimbing Paris menuju lantai atas. Dimana kantor Biema berada. Di dalam lift, Paris berdiri sambil memeluk bekal yang di bawakan bundanya. Satu persatu orang ikut naik dalam lift. Hingga Fikar dan Paris yang awalnya berdua kini beramai-ramai.
Sesungguhnya dia tidak mau datang ke sini, tapi karena bunda yang meminta, dia mengabaikan rasa enggannya.
Pintu lift terbuka pada lantai sebelum sampai lantai paling atas. Beberapa perempuan berdiri di depan lift. Lalu mereka masuk sambil berbincang.
"Lihat perempuan yang tadi?"
"Iya tahu. Yang sama Pak Biema itu?
"He-eh. Mungkin itu calonnya Pak Biema. Calon istri."
"Sepertinya," sahut perempuan yang lain. "Dulu kan juga sering kesini." Paris dan Fikar yang berdiri di bagian belakang sendiri langsung bereaksi saat mendengar nama itu. Mungkin perempuan-perempuan itu tidak tahu ada orang kepercayaan Biema di belakang. Jadi mereka membicarakan atasan mereka dengan bebas.
Calon istri? Bukannya istrinya Biema sedang berdiri disini ... Fikar menoleh ke samping. Melihat bagaimana respon Paris yang mendengar itu. Gadis itu sedang melihat ke depan. Ke arah dua perempuan yang tadi membicarakan Biema. Dia pasti juga sedang mendengar percakapan mereka.
Satu persatu dari mereka keluar dari lift. Hingga hanya menyisakan Paris dan Biema.
"Mereka tidak tahu kalau ada aku dan kamu," ucap Fikar tiba-tiba. Fikar bermaksud membuat keadaan santai.
"Apa?"
"Mereka yang membicarakan calon Biema."
"Aku tidak peduli."
"Bagus. Aku harap begitu." Fikar menjentikkan jarinya. Dia merasa kasihan dengan Paris. Namun dengan gaya Paris yang santai, Fikar menepis rasa iba itu.
Kata siapa Paris santai dan tidak mendengarkan? Dia mendengar itu. Sakit hati mungkin tidak, hanya saja dia penasaran. Wanita mana yang di sebut sebagai calon istri Biema? Pikiran Paris tidak bisa berpikir kemana lagi selain Mela.
"Ruangan Biema ada di ujung?" tanya Paris setelah pintu lift terbuka.
"Ya."
"Apa aku tidak mengganggunya? Mungkin saja dia sedang menerima tamu penting atau semacamnya." Mendadak Paris ciut.
"Aku coba telepon dia sekali lagi." Fikar menekan tombol panggil.
__ADS_1
"Ada apa?" Kali ini Biema mengangkat telepon itu.
"Paris ada di sini," bisik Fikar. Bola mata Biema melirik. Dia memang sedang bersama Mela. Bukan sedang bercengkrama. Dia sedang berkerja. "Biem ..." tegur Fikar karena tidak ada jawaban di sana.
"Tetap di sana. Sebentar lagi aku selesai."
"Baiklah."
"Apa dia masih sibuk?" tanya Paris.
"Ya. Dia memintamu menunggu sebentar."
"Baiklah. Aku boleh berkeliling sebentar? Beritahu aku jika Biema sudah tidak sibuk." Paris segera melangkah menjauh.
"Apa kamu tahu perusahaan ini? Aku takut kamu tersesat. Biema bisa marah padaku." Fikar melebarkan mata membayangkan Biema marah padanya.
"Jika tersesat aku bisa meneleponmu. Berikan nomor ponselmu." Fikar setuju. Dia menyebutkan sejumlah nomor. Kemudian Paris mencoba menelepon nomor yang di berikan Fikar. "Itu nomorku. Aku pergi." Kali ini Paris benar-benar pergi dari sana. Tempat bekal yang di berikan bunda masih di tenteng oleh tangannya.
Semua orang sedikit heran melihat ada gadis berseragam sekolah sedang berkeliling dalam perusahaan mereka.
"Itu, anak tersesat? Kok sendirian di sini? Masih pakai seragam sekolah juga."
"Panggil satpam, gih. Kali aja dia memang sedang tersesat."
"Masa anak udah gede gitu salah alamat ya. Mau main jadi nyasar ke sini ..." Mendengar ini mereka tertawa.
"Hei! Bisa tanyakan pada gadis itu sebenarnya dia sedang mencari siapa? Kasihan jika dia memang sedang tersesat." Seorang pria yang sedang duduk di depan komputernya mengangguk.
Saat itu seorang pria yang sedang bekerja di depan mesin fotokopi ikut menoleh karena suara keras barusan. Matanya menyipit melihat Paris yang dengan tenangnya melihat-lihat ke sekitar.
"Paris ...," desis pria ini tertegun. "Kenapa dia berada di sini?" Karyawan tadi hendak beranjak dan keluar menemui Paris, tapi pria ini mencegah.
"Biar aku yang bertanya padanya. Sepertinya aku kenal." Karyawan ini mengangguk dan duduk lagi mengerjakan sesuatu di depan komputer. Setelah meletakkan kertas hasil fotokopi di meja, dia keluar.
"Paris," sapanya lembut. Tubuh Paris memutar dan menghadap padanya.
"Kak Lei," ujar Paris terpana. Senyum Lei mengembang. Ini membuat tangan Paris merapikan rambutnya tanpa sadar. Dadanya juga berdegup kencang. Padahal sejak tadi tidak berantakan. Paris mendadak menjadi gugup.
"Aku yakin ini kamu." Lei mengatakan itu masih dengan senyum di bibirnya. Paris tersenyum. "Kenapa bisa berada di sini? Sedang bersama siapa?" Lei menoleh ke kanan dan kiri. Melihat ke sekeliling. Mencari tahu gadis ini sedang bersama siapa.
"Oh itu ... Ini kan perusahaannya keluarga si Sandra."
__ADS_1
"Sandra sahabat kamu itu?" tanya Lei terkejut. Paris mengangguk.
"Aku baru tahu."
"Kak Lei sedang bekerja?" tanya Paris yang melihat Lei sedang berpakaian rapi.
"Magang. Aku masih kuliah."
"Oh ..."
"Kamu tetap sehat, kan?"
"Iya."
"Syukurlah. Senang melihatmu lagi, Paris," ujar Lei dengan mata berbinarnya. Paris jadi salah tingkah. Dadanya berdebar lagi. "Apalagi kamu mau menjawab sapaaanku." Terlihat sekali bahwa Lei sangat senang bisa berbincang dengan mantan kekasihnya ini. Setelah mereka berpisah, Paris memang berusaha menghindari pria ini.
"Paris!" Kali ini panggilan dari Fikar. Keduanya menoleh pada orang itu. Kepala Lei mengangguk. Menyapa dengan sopan. Fikar juga mengangguk menerima sapaan Lei. "Kenapa tidak mengangkat ponselmu?" tanya Fikar cemas. Paris merogoh sakunya. Benar. Ada nama Fikar disana. Dia berulang kali meneleponnya.
"Sorri. Aku tidak bisa mendengarnya." Selain karena suara dering yang begitu pelan, Paris juga tengah terlena berbincang dengan Lei. Hingga mengabaikan telepon yang masuk.
"Ayo, kita ke ruangan Biema."
"Ya. Kak Lei, aku permisi ya ..." pamit Paris pada Lei. Kepala Lei mengangguk mengerti.
"Kalian kenal?" tanya Fikar kaget melihat Paris menyapa Lei dengan akrab.
"Dia adik kelasku di SMA, senior." Lei menjelaskan. Fikar hanya mengangguk menerima penjelasan dari Lei.
"Sudah. Ayo, kita pergi." Paris segera mengajak Fikar pergi dari sana. Lei masih melihat punggung gadis itu. Bibirnya tersenyum senang.
"Aku bisa melihatmu lagi, Paris ..." gumam Lei lalu segera kembali ke ruangannya.
Paris di kawal oleh Fikar untuk kembali ke ruangan Biema.
"Jadi dia sudah free? Enggak ada tamu lagi?" tanya Paris.
"Ya. Lagipula ini sudah jam makan siang. Seharusnya para tamu juga tahu diri."
Ruangan Biema tidak jauh dari tempat Paris bertemu mantannya tadi, jadi mereka bisa segera sampai. Fikar membukakan pintu ruangan Biema.
"Masuklah ... Biema ada di dalam," ujar Fikri mempersilakan. Paris melenggang masuk. Dia menemukan pria itu tengah duduk di kursi kerjanya. Sibuk mengerjakan sesuatu. Paris melihat ke seluruh ruangan.
__ADS_1