
Pekerjaan selesai dengan cepat karena di tungguin Paris. Fikar sempat terkejut saat menemukan Paris berada di ruangan Biema. Mereka berdua langsung berangkat ke dokter Ciara.
"Anda berdua sehat?" tanya dokter yang sudah tua itu ramah.
"Ya, kami sehat," sahut Paris. Setelah melewati bincang-bincang, dokter Ciara melakukan pemeriksaan pada kehamilan Paris. Serangakaian pemeriksaan di lewati hingga akhirnya tiba waktu berkonsultasi. Namun sebelumnya dokter menjelaskan dulu keadaan tubuh ibu hamil.
"Keadaan bayi dan ibunya sehat. Apa ibu makan dengan baik?" tanya dokter Ciara.
"Ya," sahut Paris tersenyum.
"Tapi istri saya juga mual dan muntah, dok." Biema tidak lupa akan satu hal ini. Dia sempat ketakutan dan panik mendengar istrinya masih muntah dan mual.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya itu adalah respon dari bayi. Bisa di bilang bayi sedang menyortir makanan yang ibunya makan," jelas dokter. "Selama ibu masih bisa mengkonsumsi makanan dengan baik meski sempat mual dan muntah, itu tidak ada masalah." Penjelasan dokter membuat Biema sangat lega. Lalu pertanyaan mulai ke arah masalah ranjang.
"Melakukan hubungan ranjang?" ulang dokter Ciara.
"Ya. Apa masih bisa di lakukan saat istri saya sedang hamil?" tanya Biema. Paris berusaha mendengarkan dengan seksama. Ia masih sangat awam soal menikah apalagi hamil. Jadi ia perlu mendengarkan penjelasan dokter dengan telinga terbuka.
"Tentu saja bisa," sahut dokter Ciara mendapat sambutan bahagia dari wajah Biema. Namun berbeda dengan raut wajah Paris yang heran saat mendengarnya.
"Benarkah?" tanya Paris.
__ADS_1
"Benar. Sangat mungkin sekali Anda berdua melakukannya. Namun tentu saja tetap harus hati-hati. Tidak boleh sering karena kehamilan masih muda. Nanti lakukan dengan tenang dan lembut ya ...," pesan dokter Ciara jenaka.
"Tentu. Tentu saja," sahut Biema tegas. Paling bahagia di sini adalah Biema tentunya. Bukannya ia yang sedang ingin tadi? Bayangan indah karena Paris sudah mendapat penjelasan kalau mereka masih bisa melakukan penyatuan, tertunda. Paris minta jalan-jalan di alun-alun. Biema tentu tidak menolak.
Mobil berbelok ke arah pelataran parkir alun-alun. Mereka turun dan berjalan kaki. Melewati jogging track sepanjang alun-alun.
"Kita akan makan?" tanya Biema. Paris mengangguk. Saat itu mereka melewati lapangan basket. Tempat ini selalu membuat bibir Paris tersenyum. "Kenapa? Ingat kak Asha lagi?" tanya Biema.
"Iya." Paris maju selangkah untuk melihat lebih dekat ke pinggir lapangan. Biema tersenyum. Pada saat itu muncullah trio geblek.
"Hei! Paris ya?!" tegur mereka. Paris membulatkan mata terkejut. Biema mengerutkan dahi melihat banyak pria menyapa istrinya.
"Hai!" sambut Paris. Rahang Biema makin ketat melihat istrinya menanggapi sapaan itu. "Kalian ..." Kalimat Paris tertahan saat akan menyapa mereka. Lalu menoleh ke samping karena sesuatu. Tangannya sedang di tangkap oleh Biema.
"Teman kak Asha. Teman kak Arga juga," ralat Paris secepatnya.
"Jangan menghampiri mereka," cegah Biema. Paris mengangguk. Dia langsung setuju karena melihat raut wajah tidak bersahabat pria ini.
Biema marah.
Bukannya menjauh, trio geblek itu justru menghampiri Paris. Mereka masih belum paham keberadaan Biema karena terhalang rerimbunan tanaman. Baru ketika mereka berada sangat dekat dengan Paris, saat itulah mereka tersadar bahwa gadis ini sedang tidak sendiri.
__ADS_1
Kepala Cakra mengangguk sopan kepada Biema. Andre dan Deni mengikuti.
"Lagi jalan-jalan?" tanya Andre.
"Ya," sahut Paris senang bertemu dengan mereka lagi. Namun pria di sampingnya terus saja menguarkan hawa dingin yang mencekam. Biema mengamati mereka.
"Kalian siapa?" tanya Biema tidak menutupi rasa tidak sukanya. Pria ini bertanya dengan kegelisahan akan istrinya yang tersenyum pada mereka. Paris melirik. Dia sadar Biema sedang mode cemburu. Lagi. Setelah Lei, sekarang mereka.
Mendapat pertanyaan yang terasa bagai hujaman pisau tajam itu membuat mereka pasang perisai juga. Bola mata mereka melirik ke arah masing-masing. Merasa sedang di interogasi. Maka dari itu mereka tidak langsung bicara. Menunjuk Cakra, karena yang paling dekat dengan Paris sebagai juru bicara mereka.
"Aku Cakra, teman sekolah Arga. Juga ... dulu tetangga mereka. Arga dan Paris." Cakra dengan santai bisa mengatakan hal itu karena memang begitu adanya. Penjelasan itu tampak natural hingga membuat Biema menghapus sorot matanya yang ingin melenyapkan mereka.
"Jadi kamu memang kenal Paris sejak dulu?" tanya Biema.
"Tentu. Sejak Paris masih kecil dan lucu." Cakra bermaksud jujur, tapi mendengar kata pujian untuk Paris barusan, membuat mimik wajah Biema kembali mendung.
"Lucu?" desis Biema. Cakra terkejut. Bukannya mempermudah keadaan, tapi malah mempersulitnya. Cakra menambah keadaan menjadi runyam. Paris tergelak pelan. Mereka bertiga sampai harus saling pandang lagi, demi membahas tingkah seorang pria yang begitu posesif.
"Tentu saja aku lucu. Bukannya Kak Cakra ini sering melihatku masih kecil dan suka ngikutin kak Arga," kata Paris membantu mereka dalam kesusahan bicara dengan pria yang cemburu tanpa pandang bulu. Tangan Paris melingkar ke lengan Biema. Semua melihat ke arah tubuh yang bergerak dengan manja ke arah Biema. "Kenalin, dia Biema. Dia suamiku," tutur Paris mengungkap jati diri pria di sebelahnya.
.......
__ADS_1
.......
...B E R S A M B U N G...