
Setelah pertemuan dengan rekan bisnis dari keluarga Candika, Paris ingin ikut Biema ke kantor. Biema tidak masalah. Dia justru senang. Keberadaan istrinya makin membuatnya bersemangat. Begitu yang ia pikirkan. Namun kenyataan bukan seperti itu.
Sekarang, Biema sedang mengerjakan sesuatu di komputer. Dia duduk berjauhan dengan Paris yang duduk di sofa. Paris sedang makan yogurt. Istri kecilnya itu membawa semua makanan yang di beli saat berangkat ke sini. Makanan yang baik untuk ibu hamil tentunya.
Bibir tipis itu bergerak-gerak. Kemudian lidah itu menjilati yogurt yang menempel di atas sendoknya. Lalu ia mencomot mangga muda dan mengunyahnya perlahan.
Bibir itu ... seperti sedang menggodaku. Sial. Apa yang aku pikirkan barusan? Biema menggelengkan kepala dengan otaknya yang berpikir aneh-aneh barusan.
Biema kembali mengerjakan pekerjaannya di komputer. Namun lagi-lagi ia terusik oleh desah Paris. Sebenarnya bukan *******, Paris Hanya sedang menahan rasa asam dari buah mangga yang sudah di potong dan di packing menggunakan plastik wrapping khusus makanan.
Bola mata Biema terpejam menahan gejolak di tubuhnya.
Bayangan semangat akan muncul saat Paris menemaninya di kantor, buyar. Bukan semangat yang muncul, justru pemikiran aneh-aneh yang menjurus seringkali muncul.
"Sayang ...," panggil Biema akhirnya tidak tahan untuk tidak mengajak ngobrol istrinya.
"Ya?" sahut Paris menoleh ke arah suaminya. Perempuan ini sedang menjilat sendok yogurt. Biema menelan ludah.
"Enak sekali ya makan yogurt?" tanya Biema aneh.
__ADS_1
Paris mengerjapkan mata. "He-eh," sahut Paris seraya tersenyum senang. Biema terdiam sejenak. "Eh, kamu juga mau? Aku suapin?" tawar Paris yang sadar suaminya ingin makan yogurt juga. "Atau mau makan yang lain?" Paris menawarkan semua makanan yang ia beli tadi.
"Boleh." Biema mengangguk.
"Jangan. Biar aku yang kesana." Paris mengulurkan tangannya di depan untuk mencegah Biema berdiri. Dia yang akan ke sana.
Paris mendekat dengan membawa beberapa makanan ke meja suaminya. Dengan tetap memegang yogurt di tangan, ia memutar dan sampai pada sisi Biema yang duduk.
"Ayo, buka mulut." Paris menyendokkan yogurt untuk disuapkan pada mulut suaminya. Biema membuka mulutnya dan mencecap rasa yogurt yang sudah masuk ke dalam mulutnya. "Gimana? Enak kan?" tanya Paris sambil ikut menyuapkan sesendok yogurt ke mulutnya juga.
Paris tersenyum melihat suaminya. Tangan Paris berhenti menyendok, ia melongok ke dalam cup yogurt, ternyata isinya sudah habis. Paris meletakkannya di atas meja. Mengganti dengan makanan yang lain.
Saat itu, Biema menarik tubuh istrinya pelan. Hingga Paris terjatuh pada pangkuannya.
"Hei," seru Paris seraya mendelik. Biema tersenyum. Kemudian ia mencium punggung dan mengendus aroma tubuh Paris. Tubuh Paris menggeliat sebentar. "Apa ini, sayang?" tanya Paris terkejut.
"Aku ingin memelukmu."
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Paris seraya ingin bangkit.
"Tetaplah seperti ini," bisik Biema dengan menahan tubuh Paris tetap pada pangkuannya.
"Seperti ini?" tanya Paris menunjuk pose provokatif mereka.
"Ya."
Biema mulai mencumbui bibir Paris. Bibir itu mulai bergerak dari dagu turun ke bawah. Walaupun sempat menolak, Paris sebenarnya menikmati semua ciuman itu. Namun ia kemudian sadar akan sesuatu.
"Mmm ... sayang," panggil Paris. Karena bibirnya sedang melanglang buana di tubuh istrinya, Biema hanya menjawab dengan menggeram lembut.
"Mm?"
"Kamu tahu sekarang kita sedang ada di kantor? Aahhh ... " Paris tersentak saat Biema menggigit kecil dan membuat jejak di atas tubuh depannya. "Mungkin kamu lupa kalau kamu masih di jam kerja. Oh, Biem ..." Paris tidak bisa mundur lagi menahan kepala Biema. Karena pria ini makin menjadi saja.
_____
...Promo ...
__ADS_1