Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Merasa tersisih


__ADS_3

Bu De Biema yang muncul dari pintu melihat Mela yang berjalan bersama Biema. "Mela!" pekik Bu de terkejut.


"Lho, Bu De." Mela juga terkejut melihat kakak mama Biema ini ada di sini. Mereka pun saling mendekat dan berpelukan. Paris melihat itu.


Mereka akrab, ya ... Entah itu sama mama Biema atau keluarga yang lain, batin Paris. Ada rasa tersisih.


"Aduh, kamu tambah berubah saja." Bu De memperhatikan Mela dari atas ke bawah sambil memegang lengan wanita ini. "Sekarang jadi sukses nih ..." Mela tersenyum. "Juga tambah cantik. Iya kan, Biem?" imbuh Bu de membuat Paris langsung menoleh cepat ke arah Biema. Gadis ini ingin tahu bagaimana respon Biema saat menanggapi pertanyaan itu.


Mendadak Paris ikut tegang menunggu jawaban pria itu. Jantungnya berdebar. Mama Biema juga ikut melihat saat menantunya langsung menoleh pada putranya. Beliau berinisiatif akan menjawab. Mewakili Biema yang kemungkinan akan canggung jika harus menjawab pertanyaan itu.


"Itu ..."


"Semua wanita cantik. Karena tidak mungkin dia tampan." Jawaban diplomatis keluar dari bibir Biema. Menyerobot suara mamanya yang hendak membantu menjawab. Mama Biema menghela napas lega. Jawaban itu tidak memihak kubu mana-mana. Itu sangat wajar. Tidak relevan dengan perasaan pribadi. Hanya pendapat umum saja.


Setelah mengatakan itu, Biema menoleh pada Paris. Gadis ini jadi menunduk ke arah buah yang di pegangnya. Biema tahu bahwa dirinya sedang di perhatikan istrinya.


"Ah, Biema. Kamu pandai melucu." Bu De memukul pelan lengan keponakannya. Mela melihat pria ini. Dia menemukan rasa enggan saat menjawab pertanyaan itu. Walaupun itu hanya sebuah candaan yang bisa di jawab dengan santai, tapi Biema tidak ingin melakukannya. Pria ini seperti enggan berurusan dengannya.


Ada rasa tidak suka pada Mela melihat sikap Biema. Namun kemudian dia menggeleng pelan. Meyakinkan diri sendiri bahwa dia tidak berhak merasakan itu.



Biema mengajak Mela ke ruang baca. Mela mengikutinya dari belakang.


"Silakan duduk." Biema mempersilakan wanita ini duduk. Mela duduk di sofa. "Apa yang akan kamu bicarakan?" tanya Biema sambil menyilakan kaki.


"Jadi ... kamu benar-benar menikah?" Suatu pertanyaan yang di rasa Biema salah.


"Aku bertanya tentang pekerjaan, Mel." Biema mengingatkan.


"Ya. Aku memang datang karena pekerjaan, tapi aku masih boleh bertanya tentang hal lain, kan?" tanya Mela. Biema diam. "Sebelum kamu mengatakan cinta dan mengajakku menikah, kita adalah teman. Kita tetangga. Jadi aku bertanya dengan kapasitasku sebagai teman."


"Ya. Sudah aku katakan sejak kamu bertanya soal siapa Paris. Dia memang istriku." Biema menuruti keinginan Mela.

__ADS_1


"Kamu ... benar-benar menikah dengannya karena mencintainya?" tanya Mela berusaha mengorek lebih dalam soal perasaan Biema. Manik mata Biema menatap Mela lurus.


"Apa yang sedang ingin kamu ketahui Mela? Kamu tidak berhak bertanya soal perasaanku. Kita bukan siapa-siapa lagi. Meskipun kamu memakai kartumu sebagai tetangga dan teman masa kecil, kamu tidak berhak." Biema sadar wanita ini ingin mengulik lebih dalam.


"Bagaimana jika aku bertanya sebagai orang yang pernah kamu cintai?" Mela menaikkan alisnya.


"Mela," desis Biema menghardik pertanyaan wanita ini.


"Kamu mengajakku menikah bukanlah cerita di masa lalu. Kamu mengajakku menikah beberapa hari sebelum kamu menikahi Paris," ucap Mela mengingatkan tentang lamaran itu.


Trek!


Suara pintu terbuka. Biema mendongak dan membulatkan mata. Paris! Gadis itu berada di balik pintu.



Di dapur.


Paris dan mama Biema masih bergelut dengan es buah yang sudah siap di buat. Karena buah-buahan sudah di potong.


"Hanya tahu, Ma. Pernah ketemu. Dua kali sepertinya." Paris memasukkan sirup ke dalam mangkuk besar.


"Mela itu tetangga kita dulu. Rumahnya di sebelah itu." Dagu beliau bergerak menunjuk ke samping rumah. "Biema sudah cerita belum soal Mela?"


"Sudah. Paris tahu kalau dia tetangga Biema dulu."


"Emmm ... begitu. Ya. Mela memang hanya tetangga kita. Jadi tenanglah." Mama mengelus lengan menantunya. Paris merasa pada posisi sangat mengiba.


Setelah es buah jadi, mama menyediakan mangkok mengisi dengan es.


"Mama akan menyuruh bibik bawa ke ruang baca. Sekalian bawa camilan untuk Biema." Mama berpamitan pada Paris.


"Bisa Paris saja yang membawakannya, Ma?" tanya Paris menawarkan diri.

__ADS_1


"Kamu? tapi ..." Entah kenapa mama Biema ragu.


"Paris kan juga lagi senggang, Ma." Paris mencoba memaksa. Dia penasaran, sedang apa Biema dan Mela di ruang baca. Ruangan yang tertutup daripada hanya sebuah ruang tengah. Jika membawa es buah, dia akan punya alasan untuk masuk ke dalam ruangan itu tanpa canggung.


"Baiklah. Bawakan juga buat Mela. Sebagai tuan rumah, kita harus menjamu tamu dengan baik, kan?" tanya mama Biema seakan bertanya Paris keberatan atau tidak.


"Iya, Ma."


Sambil membawa nampan berisi es buah dan camilan, Paris menuju ruang baca. Ada rasa berdebar saat tiba di depan pintu. Paris mengambil napas panjang dulu. Kemudian menghembuskan lagi perlahan. Meskipun pintu ruang baca tidak sepenuhnya tertutup, Paris harus tetap mengetuk pintu.


Tok! Tok!


Paris mulai mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Paris mencoba mengetuk lagi. Samar-samar dia mendengar ada suara. Dia berpikir bahwa itu pertanda bahwa Biema di dalam sedang mempersilakan masuk. Perlahan, dia membuka pintu. Namun, saat sudah memperlebar jalan baginya untuk masuk, Paris mendengar percakapan mereka soal ajakan menikah. Lagi. Kedua kali. Kali ini bahkan sangat jelas.


"Kamu mengajakku menikah bukanlah sebuah cerita di masa lalu. Kamu mengajakku menikah beberapa hari sebelum kamu menikahi Paris," ucap Mela mengingatkan tentang lamaran itu.


"Mela. Aku tidak mau membahas itu."


"Apa menikahi Paris adalah keinginanmu sesungguhnya? Apakah dia bukan hanya pelarianmu saja?" Mela terus mendesak Biema dengan pertanyaan yang sama. "Jangan sakiti gadis itu jika kamu hanya ingin terlihat baik-baik saja sudah di tolak olehku Biem."


Trek!


Suara pintu terbuka. Biema mendongak dan membulatkan mata. Paris! Gadis itu berada di balik pintu.


"Ma-af. Aku membawakan camilan dan ... es buah untuk kalian." Paris mengatakannya dengan canggung dan tersendat-sendat. Nampannya tampak bergetar sesaat. Mendengar suara Paris, Mela juga ikut menoleh ke arah pintu.


Tubuh Paris sendiri membeku di sana. Dia tidak bisa kemana-mana. Ada rentang antara dia dan orang-orang di dalam ruang baca, yang membuatnya diam dan tidak segera masuk.


Sekarang Mela menoleh pada Biema yang beanjak berdiri.


"Lebih baik jujur sekarang daripada menyakitkan nantinya," lirih Mela. Biema yang melintasi Mela menoleh.


"Jangan mengatakan apapun tentang aku dan Paris. Kamu sudah melewati batas seorang teman, tetangga, bahkan orang yang pernah aku cintai," desis Biema lalu menghampiri Paris. Wajah Biema khawatir. "Kamu membawakan sesuatu untukku, Paris?" tanya Biema berusaha menetralkan suasana. Dia ingin kebekuan Paris, mencair. Sesaat Paris hanya terdiam. Dia mendengar saat Biema bertanya padanya, tapi bibirnya bungkam tidak menjawab. "Paris?" tegur Biema sekali lagi. Lebih lembut daripada tadi.

__ADS_1



__ADS_2