Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Masih sama


__ADS_3

Aku tidak bersedih tadi. Aku bimbang. Aku ragu, teriak Paris di dalam hati.


"Sudah. Kita sarapan pagi saja. Turun saja dulu, aku akan menyusul," kata Biema yang mulai berdiri. "Mama pasti sudah menyiapkan semuanya."


"Enggak." Kepala Paris menggeleng. "Aku akan turun jika kamu juga turun."


"Baiklah, baik. Aku mau ke kamar mandi dulu." Paris mengangguk. Biema masuk ke dalam kamar mandi. Sementara itu Paris melirik ke arah tes pack yang tergeletak di atas nakas. Memandanginya lumayan lama. Lalu menghela napas kemudian.


...****************...


Langkah pria ini lumayan terasa berat pagi ini. Dampak soal tes pack yang menunjukkan negatif ternyata lumayan besar. Biema yang mengira bahwa istrinya hamil, rupanya harus menelan rasa kecewa. Tes pack yang sudah di coba oleh istrinya ternyata tidak mendatangkan kabar bagus. Paris di nyatakan tidak hamil karena indikator menyatakan negatif.


"Halo sayang ... selamat pagi ...," sapa mama yang datang dari ruang tamu melewati mereka.


"Pagi," sahut Biema dan Paris hampir bersamaan.


"Tunggu." Sebelum berhasil melewati pintu dapur, kaki biau berhenti. "Bagaimana kabar kalian berdua?" tanya mama aneh. Paris mengerjapkan mata tidak paham. Dia akan menjawab pertanyaan itu. Namun manik mata mama sepertinya melihat ke arah Biema. Bertanya pada pria itu.


"Yah ... Baik," sahut Biema tidak bersemangat. Melihat putranya tidak bersemangat, beliau berganti melihat ke arah menantunya. Paris jadi mendadak bernapas dengan berat. Merasa ketahuan kalau dirinyalah yang menandai penyebab suaminya lesu.


"Kalian beli tes pack seperti saran Mama, kan?" selidik mama.


"Iya, Ma."


"Lalu? Lalu bagaimana hasilnya?" tanya mama antusias. Semangat ini berbeda dengan aura yang ada pada Biema.


"Negatif," jawab Paris pelan. Ia berinisiatif menjawab karena Biema hanya mengangkat bahu. Seperti tidak sanggup menjawab pertanyaan mamanya.


"N-negatif?" tanya mama terkejut.


"Ya. Mungkin belum waktunya," sahut Biema sambil tersenyum tipis menatap Paris. Lalu mengusap lembut kepala istri kecilnya. Ada surat sedih di sana. Mama mengangguk-anggukkan kepala mengerti bahwa ini menjadi berita buruk bagi putranya.

__ADS_1


"Mama ikut sedih," kata mama sambil merentangkan kedua tangannya. Bermaksud memberi semangat pada menantunya dengan pelukan. Paris yang mengerti segera mendekat ke mertuanya untuk menyambut pelukan. "Tidak apa-apa sayang. Tidak perlu diratapi." Mama menepuk punggung Paris pelan. "Mungkin kalian di beri waktu untuk bersiap lagi," imbuh beliau memberi kekuatan.


Paris tersenyum.


Masih ada rasa bersalah di hatinya. Ternyata mertuanya juga sangat menginginkan kehadiran anggota baru. Mungkin satu-satunya yang belum siap adalah dirinya.


"Sudah, ayo kita belakang untuk sarapan," ajak mama menggandeng lengan putranya. Mereka pun berjalan ke ruang makan beriringan. Aroma masakan melewati Indra penciuman Biema dan Paris.


"Aroma masakan yang lezat," kata Paris senang. "Mama semua yang masak?" tanya Paris mencari topik pembicaraan yang bisa membuang rasa tidak nyaman di hatinya.


"Tidak. Namun hampir semuanya memang masakan ala mama," ujar beliau berbahagia. "Mama tentu enggak mau kalah sama bunda kamu Paris," kelakar mama membuat semua tertawa.


"Bunda sih, memang jagonya Ma," celetuk Biema. Mama mengangguk setuju. Kemudian muncul Sandra.


"Kenapa kalian berdiri di sini? Bukannya makanannya ada di meja makan? Bicara sambil duduk lebih enak," tanya gadis itu heran semuanya masih berdiri saat semua masakan sudah siap.


"Kita keasyikan ngobrol, San," kata mama yang langsung memberi kode Paris dan Biema untuk duduk. Mereka pun ambil tempat untuk sarapan.


...****************...


"Maaf," kata Paris yang baru menyadari semua sedang memperhatikan dirinya.


"Hei ... Kenapa jadi melihat ke arah Paris semua sih?," tegur mama yang menyadari ketidak nyamanan menantunya. "Jangan minta maaf Paris. Makan banyak bukan dosa. Karena tubuh kamu enggak akan jadi besar dan melar banget meskipun banyak makan," ujar mama sambil tersenyum. Paris jadi kikuk.


"Makan saja yang banyak. Banyak sayur kan bagus juga," ujar Sandra ikut berkomentar positif pada akhirnya. Ia jadi kasihan pada kakak iparnya yang seperti sedang ketahuan melakukan kesalahan saat semua orang memandangnya heran.


"Masih mau nambah lagi?" tawar Biema. Paris menggeleng.


"Jangan. Piringku masih banyak," tolak Paris sambil berbisik. Mama terdiam sambil terus saja memperhatikan menantunya.


"Biem ... mumpung kamu masih belum kerja, ajak Paris ke dokter," kata mama membuat Paris yang tadi asyik makan sayur mendongak kaget. Biema ikut menoleh ke arah mamanya.

__ADS_1


"Dia sudah sembuh. Aku juga mulai sehat kok," kata Biema.


"Jika pakai tes pak mungkin meragukan, sebaiknya kalian kunjungi dokter kandungan saja. Mungkin ada keajaiban," tutur beliau. Rupanya mama Biema berpikiran lain saat melihat nafsu makan menantunya masih sama. Juga saat gerakan Paris yang terlihat enggan dengan masakan yang berbau tajam. Mama merasa mereka perlu melakukan pemeriksaan ulang.


"Dokter kandungan, Ma?" tanya Biema terkejut. Mama mengangguk.


"Hah? Dokter kandungan apa, nih? Kok aku enggak tahu. Baru dengar." Sandra mulai ikut nimbrung. Ia yang baru aja mendengar kata kandungan agak kurang mengerti. Paris melirik sahabatnya ini. Dia tidak membuka mulutnya karena penuh dengan sayuran.


"Kemungkinan kakak ipar kamu itu hamil, Dan ..." ujar mama.


"Hah? Hamil? Paris?!" seru Sandra terkejut. Karena saking terkejutnya, ia lupa menyebut kakak di depan nama Paris.


"Kakak, Sandra ..." ralat mama. Gadis ini hanya manggut-manggut saja tanpa bicara. Ia menatap Paris dengan terpukau, terkejut dan heran. Mungkin karena mereka berumur sama. Jadi terasa aneh jika dirinya yang sekarang masih main kesana kemari, lalu mendengar bahwa gadis yang seumuran dengannya hamil.


Melihat reaksi yang heboh dari gadis satu angkatan dengannya, paris hanya tersenyum tipis.


"Makan saja yang banyak. Jangan dengerin Sandra," kata Biema yang sepertinya mendapat amunisi baru. Kalimat mama membuatnya seperti mendapat pencerahan. Sepertinya masih ada peluang. Paris mengangguk patuh. Dalam hati ia merasa lega saat melihat ada sinar kebahagiaan di mata suaminya.


"Kamu juga makan yang banyak," titah Paris pelan dengan wajah jenaka. Biema mengangguk dengan wajah berseri.


"Kalian harus pergi hari ini," kata mama yang menyantap sarapan paginya dengan senyum. Meskipun sebenarnya beliau tidak pernah memaksakan pada menantunya harus segera hamil, tapi saat membayangkan akan ada anggota baru yang lucu datang ... beliau jadi sempat berharap juga.


Sandra masih syok di kursinya.


"Kamu akan meninggalkan aku jauh, Paris ..." bisik Sandra yang merasa dunianya makin jauh dengan Paris.


"Kakak ... Sandra ...," ralat mama lagi mendengar Sandra bebal tidak memanggil kakak iparnya dengan sebutan kakak.


.......


.......

__ADS_1


...B E R S A M B U N G...


__ADS_2