Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Lelah


__ADS_3

Fikar terpaksa beranjak keluar dari tempat ini. Dia tidak bisa berdiam di sini lebih lama. Biema tidak mengijinkan itu. Pria itu sudah mengusirnya.


"Tunggu," ucap Fikar menyadari ada yang perlu di bicarakan. Kakinya yang sudah sampai di dekat pintu berhenti. Ternyata Biema sedang mengikutinya. Biema sudah menatap tajam saat kaki Fikar berhenti melangkah keluar. "Ini penting. Sangat penting," ujar Fikar serius.


"Cepat katakan ada apa." Itu membuat Biema memberi waktu pada pria ini untuk bicara.


"Aku hanya mengingatkan. Besok Paris ujian nasional. Jangan lupa." Biema terdiam. Dia memang lupa itu. "Sebaiknya dia tidak sakit saat ujian besok. Kamu harus pastikan itu." Fikar benar-benar mengatakan hal yang penting. Setelah pria itu menutup pintu dan terkunci otomatis, Biema berdecih karena lupa. Dia lupa besok gadis ini akan mengikuti ujian yang sudah di tunda. Bukan menyuruhnya belajar, dia justru membuat Paris lelah dan lunglai.


Kakinya segera menuju ke arah kamar. Ia ingin melihat keadaan Paris. Gadis itu masih terlelap dalam tidurnya. Selimut masih sama menyelimuti tubuhnya.


"Aku lupa dia masih punya tugas untuk menyelesaikan ujian. Apa yang aku lakukan?" sesal Biema. Jika gadis ini kesakitan saat bangun besok pagi, dia harus meminta maaf sebesar-besarnya. Dia membuat gadis itu kelelahan. Biema mendekat dan mengecup pipi Paris.


Biema panik saat tubuh gadis itu menggeliat karena merasa ada yang menyentuh pipinya. Sedikit bergumam dengan tetap memejamkan mata. Saat Biema mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut lengannya, Paris tertidur lagi. Gadis ini bagai malaikat kecil yang tertidur. "Aku sayang kamu, Paris," bisik Biema lembut.



Biema bangun lebih pagi. Dia ingin semuanya beres saat akan di tinggal berangkat. Bukan keinginan Paris atau siapa. Biema seringkali memilih menyiapkan makan pagi mereka berdua.


Dia menyiapkan air hangat di dalam bathup. Agar bisa segera dipakai saat gadis itu ingin segera mandi. Dia juga menyiapkan sarapan dengan mengolah makanan beku yang kemarin di beli Paris.


Terdengar suara pintu kamar di buka saat Biema masih bergelut dengan perabot dapur. Gadis itu muncul dengan mata menyipit dan tubuh terbungkus bed cover.


"Sudah bangun, sayang?" tanya Biema sambil tersenyum. Kepala Paris mengangguk tanpa suara. Mata gadis itu tidak bisa membuka matanya dengan benar. Bergerak-gerak lambat menyesuaikan diri dengan pagi. Bahkan saat jalan pun dia sedikit limbung ke kanan atau ke kiri. Biema segera melesat mendekat. Menangkap tubuh Paris yang goyah.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Kenapa jalan sambil tidur?" tegur Biema cemas. Jantungnya berdegup kencang karena kelakuan gadis ini.


"Aku mengantuk. Aku lelah," rengek Paris. Itu bukan di sengaja. Namun semata karena seluruh tubuhnya yang terasa sangat tidak bertenaga.


"Ini sudah waktunya bangun, Paris ...," ujar Biema melepas pegangannya pada lengan gadis ini.


"Bisa minta waktu tidur lagi?" pinta Paris.


"Maaf. Tidak ada. Kamu harus bergegas mandi lalu makan dan segera berangkat sekolah," sahut Biema menjelaskan rentetan kegiatan Paris pagi ini. "Ini tidak bisa di tawar lagi."


"Ughh," erang Paris kesal. Tubuhnya perlahan di paksa untuk tegak. Menatap Biema sambil berdecih. "Ini karena siapa?" sungut Paris.


"Iya. Itu karena aku." Biema mengakui kesalahannya. "Maafkan aku. Ini memang semua karena aku, tapi kamu harus tetap bangun dan mandi Paris. Karena kamu harus berangkat sekolah. Ini adalah hari pertama kamu mengikuti ujian susulan." Paris mengangkat kepalanya.


"Aku antar ke kamar mandi. Jika masih mengantuk, aku akan memandikanmu sekalian disana."


"Dimandiin kamu?" tanya Paris yang sadar akan kalimat aneh Biema. Meskipun matanya tidak terbuka lebar dengan tegas, tapi itu cukup membuat gadis ini lebih bisa membuka mata daripada tadi.


"Ya," sahut Biema santai.


"Tidak. Biarkan aku mandi sendiri. Kamu tidak akan membiarkanku tenang jika memandikanku. Kamu mulai nakal. Aku lelah," desis Paris sambil melepaskan bed cover yang membungkus tubuhnya. Lalu di serahkan ke Biema. Gadis itu terpaksa berlari kecil menuju ke kamar mandi meskipun dia hanya memakai pakaian dalam. Dia tidak Ingin kecolongan lagi.


Biema tersenyum. Menertawakan diri sendiri, juga tingkah imut istrinya. Mungkin Paris benar kalau dia tidak akan diam saja melihat Paris yang sedang bertubuh polos. Dia akan melakukan banyak hal yang asyik.

__ADS_1


Usai mandi, mereka berdua sarapan. Di kursi makannya Paris masih merasa tubuhnya letih. Berulang kali dia menggerakkan tubuh guna melemaskan otot. Meskipun dia sudah mandi. Itupun sudah dengan air hangat. Tidak separah bangun tidur tadi, tapi letihnya masih terasa.


Biema sejak tadi sudah memperhatikan gerak-gerik gadis kesayangannya. Apa yang sudah aku lakukan? Aku membuatnya letih dan lesu. Sepertinya lain waktu aku harus membawanya ke dokter. Karena rasa bersalah itu, Biema tidak memberikan wejangan apapun.


"Aku malas sekali buat sarapan," rengek Paris.


"Jangan melewatkan sarapan. Ingat pesan ayah. Kamu enggak boleh melewatkan jama makan." Biema mengingatkan.


"Aku tahu, tapi tubuhku lelah." Paris enggak bisa berbohong soal lelah dan letih kali ini. Mendadak dia menyandarkan kepalanya di atas meja. Sangat dekat dengan sarapan pagi yang di buatkan Biema. Hingga laki-laki ini perlu menyingkirkan piring dengan cepat. Agar rambut gadis ini tidak tercebur ke dalamnya. Biema menghela napas lega melihat rambut Paris terselamatkan. Hanya tinggal beberapa senti saja sudah jadi menu dalam sarapan pagi ini.


Paris sepertinya tidak peduli dengan insiden yang akhirnya terjadi jika Biema tidak cekatan.


"Aku heran. Setelah melakukan itu, kenapa kamu tidak merasakan letih yang aku rasa?" tanya Paris dengan tetap pada posisi yang sama seperti tadi. Hanya saja kali ini menoleh pada Biema.


Mendengar pertanyaan ini Biema merasa mendapat suatu kejutan. Karena ini pertama kalinya dengan dirinya yang tidak sedang 'ingin', Paris membahasnya. Biema tersenyum.


"Kenapa bertanya?" tanya Biema menatap Paris lembut.


"Aku hanya bertanya," jawab Paris lirih. Senyum Biema makin merekah. Apalagi melihat wajah gadis ini memerah. Sepertinya Paris berusaha mengabaikan bahwa dia masih malu membahas itu di kala sadar seperti ini. Semu merah itu menjalari hingga leher dan daun telinga. Dengan wajah merah dan rasa malas, Paris berusaha tetap menatap Biema. Menunggu jawaban.


"Aku tidak tahu. Itu kedua kalinya aku melakukannya. Hanya denganmu," tekan Biema pada kalimat akhir. "Jadi aku belum paham." lanjut Biema menjawab dengan tenang. Paris tidak bereaksi. Hanya menatap dengan tatapan dalam.


Pria ini mendekatkan wajahnya pada Paris yang masih menyandarkan kepala pada meja. Gadis ini bukan tidak terkejut saat Biema melakukan itu. Hanya saja rasa kantuk dan lelah lebih kuat. Jadi Paris memilih memejamkan mata sebentar karena Biema mengecup bibirnya pelan.

__ADS_1



__ADS_2