Pendamping Untuk Paris

Pendamping Untuk Paris
Tidak mengapa


__ADS_3

"Lihatlah. Hendarto tidak akan marah," ucap papa Biema membisiki istrinya. Seperti sudah tahu apa yang akan terjadi nanti. Mama Biema masih tidak mau mendengarkan suaminya yang tadi bikin malu. Beliau memfokuskan diri melihat Paris yang berdiri di depan ayahnya. Ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Sini," ujar ayah yang ternyata meminta pelukan dari putrinya. Sungguh mengejutkan. Paris mengerjapkan mata sambil merunduk dan memeluk ayahnya. Gadis ini tidak menyangka. Begitu juga yang lainnya. "Maafkan kami Paris. Kami tidak membantumu saat itu. Maafkan ayah," ujar tuan Hendarto bersungguh-sungguh. Semua tertegun mendengarnya. Seketika air mata Paris jatuh. Yang pada awalnya sedikit, kini meleleh semua.


"Jangan meminta maaf, Ayah. Paris tidak pernah menyalahkan ayah," ujar Paris dengan isak tangis. Ruangan ini jadi mengharu biru. Senyuman dengan raut wajah haru menghiasi masing-masing orang yang ada sini.


"Ayah tahu, tapi ayah berhak meminta maaf karena sebagai orangtua seharusnya kami bisa membantumu saat itu," kata ayah sambil perlahan melepaskan pelukannya. Kemudian mengusap air mata di pipi putrinya.


"Aku tidak apa-apa Ayah. Tidak apa-apa. Semuanya juga sudah selesai. Dua putra ayah bisa menyelesaikannya," kata Paris sambil menengok ke belakang. Dimana kakak dan suaminya berdiri. Ayah menengok ke arah Biema dan Arga sekilas.


"Baguslah. Jadi semuanya bisa tenang." Ayah mengelus kepala putrinya yang kini duduk di pinggir ranjang.


"Ayah baik-baik saja bukan?" tanya Paris masih khawatir.


"Tentu saja. Meskipun sempat terkejut, ayah tidak apa-apa," ujar Hendarto sambil tersenyum.


"Aku lega ...," ujar Paris terharu. Air matanya menetes lagi.


"Jangan menangis lagi, putriku ...," cegah Hendarto.


"Paris menangis karena bahagia, Ayah ...," rengek Paris bagai bocah. Bunda tergelak. Semua ikut tertawa karena Paris terdengar lucu dan juga karena hilangnya rasa tegang yang tadi menyelimuti mereka.


Syukurlah. Semuanya baik-baik saja, Paris ... Aku selalu berharap bahagia untukmu, ucap Biema di dalam hati.


Arga, Asha, dan Sandra. Mereka bertiga ikut menghela napas lega. Arga menoleh ke samping. Menatap istrinya sambil menggenggam tangan istrinya sambil tersenyum.


"Untung saja ayah tidak apa-apa, Sha ...," bisik Arga.


"Ya. Yang di takutkan adalah itu. Namun sekarang semuanya aman, sayang ...," ujar Asha.


"Benar."


"Ini selesai begitu cepat," kata mama Biema senang.


"Aku sudah mengira tidak apa-apa. Hendarto itu bijaksana. Kesehatan Hendarto saja yang perlu di waspadai," ujar papa Biema yang sudah bisa menerka tadi. Mama Biema tersenyum. Kali ini percaya apa yang di katakan suaminya.

__ADS_1



Keadaan mulai damai setelah mereda dari ketegangan tadi. Kini suasana hangat menyelimuti kamar perawatan. Keluarga Biema masih betah tinggal di sini. Mungkin karena lama tidak saling mengunjungi jadi sekarang mereka ingin lebih lama bercengkrama. Lagipula di luar masih hujan deras.


Perbincangan mereka terdiri dari beberapa kubu. Dari kubu para ibu. Ada nyonya Wardah dan besan perempuan.


"Kami minta maaf, lho ... Baru datang menjenguk, Wardah. Masalahnya karena baru tahu soal sakitnya Hendarto ini."


"Ahh, soal itu tidak apa-apa." Nyonya Wardah mengibaskan tangannya.


"Kita benar-benar tidak enak, lho ... Biema dan Paris baru memberitahu. Jadi kita memang baru tahu ceritanya."


"Iya, enggak apa-apa. Lagipula sebenarnya kita memang enggak memberitahu Paris supaya dia tidak cemas. Ternyata dia malah dengar dari Bik Sumi," ujar Wardah menepuk lengan besannya. Pembicaraan ini dari kubu perempuan.


Asha sendiri tetap menggendong Arash yang masih tertidur. Kadang bayi kecil itu perlu tepukan lembut di pantatnya agar tidur lagi. Hingga seringkali Asha menyendiri demi ketenangan bayinya.


Sandra sendiri bercerita soal Priski di sekolah. Paris menipiskan bibirnya geram berulangkali mendengar cerita Sandra.


Di sisi lain ada kubu tuan Hendarto dan juga Yudhis papa Biema.


"Aku ini sebenarnya sudah sehat. Hanya saja belum boleh pulang. Daripada ribut, lebih baik aku turuti saja kemauan rumah sakit," ujar Hendarto.


"Kalau bisa kita itu jangan sakit. Sakit itu tidak enak," ujar Hendarto seperti trauma.


"Aku paham. Aku sendiri tidak ingin sakit, tapi apa daya kalau tubuh sudah tidak mampu lagi."


"Benar. Sehat itu sangat berharga." Ini pembicaraan dari kubu laki-laki.


Sementara Biema dan Arga juga sedang berbincang berdua.


"Terima kasih sudah memberitahu aku," ujar Biema.


"Tidak masalah. Lagipula ... aku bukanlah pemain inti. Aku ini hanya pemain tambahan. Sebagai penyampai pesan. Kamulah yang jadi pemain utama. Jadi bukankah pemain utamalah yang harus bekerja keras?" Biema tergelak mendengar kalimat kakak iparnya.


"Sini mendekat pada Bunda," ujar nyonya Wardah saat Sandra dan mamanya keluar untuk ke toilet. Paris mendekat. Bunda langsung memeluknya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Paris terkejut.


"Bunda juga minta maaf. Karena bunda memaksa kamu menikah, jadi kamu terkena masalah," bisik bunda.


"Ya, itu memang salah Bunda," ujar Paris berpura-pura marah.


"Maafkan Bunda ya sayangg ..."


"Hihi ... " Paris tergelak.


"Kenapa ketawa? Tidak mau maafin Bunda?" tanya bunda sambil melepas pelukannya.


"Itu tidak mungkin. Iya, Paris maafin. Awalnya memang Paris sangat, sangat menentang soal perjodohan ini. Apalagi menikah." Paris mencibir. "Tapi sekarang ... Paris bisa ucapin terimakasih yang sebesar-besarnya untuk Bunda."


"Terima kasih?" tanya nyonya Wardah heran.


"Terima kasih sudah jodohin aku dengan Biema," bisik Paris malu-malu dan tersipu.


"Ho ... jadi begitu, ya ..." Bunda tersenyum penuh arti pada putrinya. Paris terkekeh.


Saat itu Arga yang tadinya berbincang dengan Biema mulai terusik karena pria ini mengalihkan perhatian ke arah lain. Biema sedang terpaku di tempatnya. Seakan terpana karena sesuatu. Arga penasaran. Kepalanya menoleh ke arah yang sama dengan tempat di mana Biema memaku pandangannya.


Rupanya itu Paris. Biema sedang menikmati pemandangan Paris yang sedang tertawa bersama bunda. Bibir Arga tersenyum.


Dia pria yang tepat untuk Paris. Aku bisa yakin melepaskan tanggung jawabku melindungi Paris padanya, ujar Arga di dalam hati. Lalu bergabung bersama orang tuanya dan besan keluarganya.


Sesaat, ketika bunda mengalihkan pandangan dari Paris, gadis ini merasa di perhatikan seseorang. Paris menoleh. Dia menemukan Biema yang sedang memperhatikannya.


Sesaat pandangan mereka terkunci. Seperti di sekitar mereka tidak ada orang lain. Hanya mereka berdua saja. Dunia ini serasa milik berdua menurut banyak orang begitu istilahnya.


Bibir Paris akhirnya melukis senyum indah untuk pria ini. Tatapan yang tadinya terpana, kini menjadi hangat.


Terima kasih, Biem ... Aku menyayangimu, lirih Paris. Meskipun tidak bisa di dengar karena Paris hanya terlihat menggerakkan bibirnya, Biema bisa tahu pasti apa yang di katakan gadis itu untuknya lewat gerakan bibir.


Aku juga menyayangimu, balas Biema.

__ADS_1


Mereka berdua tidak sadar bahwa sedang di perhatikan Arga. Hingga Arga jadi tersipu sendiri melihat interaksi mereka. Ini membuatnya mendekati istrinya karena teringat lagi kenangan mereka dulu.



__ADS_2