
Malam ini Paris menghabiskan waktu di depan tv. Ada film lama buatan hollywood yang pernah menjadi favoritnya. Sebuah film tentang cinderella. Gadis miskin yang di cintai pangeran. Sekarang film itu sedang di putar di layar kaca. Ini membuatnya senang.
Ekspresi wajahnya yang serius kala menonton tv, mengundang Biema yang muncul dari dalam kamar untuk menjahilinya. Pria ini sengaja lewat di depan tv hingga membuat Paris perlu memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri.
Awalnya dia pikir pria itu memang sedang ada perlu di meja tv. Namun karena terus saja berdiri agak lama di sana_ itu pun bolak balik, Paris merasa Biema sedang ingin mengganggunya.
"Hei. Bisa enggak sih, jangan bolak-balik di depan tv?" tanya Paris kesal. Tangannya melempar bantal sofa ke arah tanah. Sebenarnya dia ingin melempar bantal itu ke arah Biema, tapi dia tahan.
"Aku sedang ada perlu di meja ini." Biema berwajah datar yang menyebalkan saat mengatakannya.
"Jangan banyak alasan. Minggir. Ini film favoritku, tahu!" Paris mengibaskan tangannya bermaksud mengusir Biema agar menjauh dari depan tv. Biema menolehkan kepala melihat tv di depannya.
"Film apa? Sepertinya hanya film anak-anak," ejek Biema.
"Kamu yang tua sih, enggak bakal paham film beginian," balas Paris. Itu ejekan untuk Biema darinya. Pria tua. Begitu Paris menyebutnya. Meskipun mereka hanya berselisih sekitar delapan tahu. "Ini bukan film anak-anak. Temanya aja cinderella, tapi kisahnya dewasa." Paris mencebik.
"Oh, ya?" Biema menunjukkan raut wajah tidak percaya.
"Ih, Biema ini enggak paham-paham di suruh pergi." Paris yang tidak sabar mulai berdiri. Mendekat ke arah Biema yang tetap berdiri di depan tv dengan santainya. "Tadi juga sudah di usir-usir masih saja berdiri di sini. Ayo, pergi dari sini. Kalau enggak suka lihat film begini mending jangan ganggu deh." Paris mendorong punggung pria itu. Namun rupanya Biema bersikukuh tetap di sana. Dia masih ingin menggoda Paris. "Kenapa enggak mau pergi, sih." Paris menggerutu sambil memukul lengan Biema dengan geregetan.
"Aku jadi ingin lihat seperti apa film yang kamu sukai itu."
"Terserah deh." Paris balik badan untuk kembali ke sofanya. Namun karena pikirannya masih sibuk menggerutu, kakinya tersandung kaki meja hingga tubuhnya terjungkal ke depan.
"Hampir saja," ujar Biema menangkap gadis ini dengan lengannya dari belakang.
"Hh ... hhh .... " Terdengar napas Paris yang terengah-engah. Dia kaget karena hampir saja badannya jatuh dan menimpa meja kaca di depannya. Wajahnya pasti tidak terselamatkan terantuk meja.
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Paris?" tanya Biema khawatir. Kepala Paris mengangguk. Saat kepalanya menunduk kebawah, bola matanya terpaku menatap lengan Biema yang melingkar di pinggangnya.
"Emm ... Biem. Sebaiknya lepasin tangan kamu dengan cepat," ujar Paris meminta tanpa menoleh ke belakang. Paris berusaha menipiskan tubuhnya dengan menahan napas. Dengan begitu perutnya akan menipis. Dia juga berusaha menegakkan punggungnya dan berharap tubuhnya tidak terlalu dekat dengan tubuh Biema.
"Kenapa?" tanya Biema sambil memiringkan kepala. Mencoba menatap wajah Paris dari samping kepala gadis ini.
"Jangan tanya kenapa. Lebih baik kamu turuti saja permintaanku," ujar Paris tidak sabar. Kepalanya masih tetap menghadap lurus ke depan.
"Lenganku ini?" tanya Biema yang tahu Paris merasa tidak tenang pada pelukan tidak di sengajanya.
"Ya. Apalagi?" Paris melebarkan mata geram karena Biema tidak segera melepaskan lengannya.
"Begini?" tanya Biema yang membuat Paris syok setengah mati. Pria ini bukannya melepas lengannya, dia justru mempererat pelukannya hingga membuat tubuh Paris terpelanting ke dadanya.
Biema melirik Paris dari balik kepalanya. Dia ingin tahu bagaimana reaksi gadis ini.
"Biarkan begini. Aku ingin bersandar sejenak." Biema menundukkan kepala agar bisa bersandar dengan leluasa dan nyaman. Melengkungkan punggungnya supaya sejajar dengan bahu Paris.
Gadis ini menahan napas sesaat, ketika Biema menyandarkan kepalanya. Hembusan napas pria ini terasa di cerukan lehernya. Ini membuat Paris semakin tidak berkutik. Tubuh Paris membeku.
"Aku sangat ingin memelukmu," ujar Biema.
Detak jantung Paris terpacu cepat. Dia berdebar-debar. Entah karena pria ini menyandarkan kepalanya, atau karena kalimat barusan. Paris mulai gelisah. Indra pendengarannya mampu mendengarkan detak itu. Detak kencang yang ingin terus memacu. Dia takut Biema juga bisa mendengar detak tak beraturan itu.
"Aku bisa mendengar detak jantungmu lebih cepat daripada tadi." Sialnya pria ini mengetahuinya dengan cepat. Biema tidak tahu diri justru mengatakan itu dengan tenang.
Rupanya Biema juga mendengarkan hal yang sama seperti dirinya.
"Aku tidak menyangka bahu kecil ini mampu menenangkan aku." Setelah mengatakan itu, Biema membuka mata dan mengangkat kepala dari bahu Paris. "Terima kasih sudah mengabulkan permintaanku." Biema melepaskan lengannya dari perut Paris.
__ADS_1
"Hhh ..." Paris menghela napas lega bisa lepas dari pelukan itu. "Sudah. Jangan ganggu aku lagi. Lihatlah ... Aku telah melewati bagian terpenting tuh!" gerutu Paris sambil menunjuk ke arah layar tv. Adegan favorit Paris_ saat si gadis bertemu dengan pujaan hatinya pertama kali telah selesai.
Biema menoleh ke arah tv. Lalu melihat Paris lagi.
"Maaf. Apa hukumanku karena membuatmu melewatkan adegan itu?" tanya Biema dengan wajah mengalahnya. Paris tersentak. Dia melirik Biema dengan cepat.
"Apa?"
"Kamu bisa menyuruhku melakukan sesuatu untukmu."
"Beneran?" selidik Paris ragu.
"Untukmu pasti beneran. Aku tidak bohong."
"Emmm ... kalau aku minta buatkan mie instan lengkap dengan sayuran dan telurnya kamu bersedia?" tantang Paris.
"Hanya itu sangatlah mudah bagiku."
"Oke. Aku mau itu. Terus jangan lupa sama jus alpukatnya." Paris menjentikkan jarinya senang kesepakatan mereka berhasil. Tentu Paris tidak akan melewatkan kesempatan ini.
"Siap yang mulia," sahut Biema jenaka. Paris pun duduk di sofa dengan lega. Biema membungkuk mengambil bantal sofa yang di lempar Paris tadi dari atas lantai. Lalu menyerahkan pada gadis ini.
"Terima kasih," ucap Paris sambil menerima sodoran bantal dari Biema. Kakinya di angkat ke atas dan bersila. Kemudian memeluk bantal dan melihat film favoritnya. Paris bisa bersantai lagi. Sementara itu Biema menuju pantry membuat mie untuk Paris. "Jangan lupa, saat buat jus, susu cokelatnya yang banyak ya!" teriak Paris memberi intruksi. Kedua jari Biema melengkung membentuk kata oke. Paris tersenyum puas.
Saat menonton film, Paris mengerjapkan mata mengingat pelukan tadi. Ada rasa sedikit menyenangkan saat itu. Pelukan Biema terasa kokoh tapi lembut. Walaupun tubuh Biema tinggi dan besar, pria itu tetap punya perlakuan lembut dan hati-hati.
"Aku ingin memelukmu." Kalimat Biema tadi terngiang. Sepertinya memang hanya Biema yang merasakan itu. Aku sendiri merasa belum pernah ingin memeluknya. Ya ... mungkin belum, bukan tidak ingin.
__ADS_1